
Clue mengangguk kemudian memberikan kartu kredit. Penjaga kasir menerima kartu kredit Clue dan menggeseknya di mesin gesek. Clue kemudian mulai menekan angka kata sandinya. Penjaga kasir melihat computer kemudian mulai mengetik. Tidak lama kemudian penjaga kasir memberikan Clue kartu kredit dengan nota pembayaran.
Clue mengambil kartu kredit miliknya dan nota pembayaran. "Ayo pergi ke kamar ibumu." Kata Clue. "Ayo lewat sini." Kata Vina berjalan dengan membungkukkan wajahnya. Setelah tidak lama berjalan Clue melihat Vina berhenti di sebuah pintu. Vina masuk ke dalam kamar dan berjalan ke arah wanita paruh baya yang sedang terbaring.
"Kamu datang Vin." Wanita paruh baya tersenyum. "Aku datang bu." Vina menangis dan memeluk ibunya. "Kenapa kamu menangis, dan siapa pria itu. Apakah kamu temannya Vina." Kata wanita paruh baya. "Benar tante, aku temannya Vina." Clue tersenyum.
"Aku sudah mendapatkan uang, dan ibu besok akan di operasi." Kata Vina. "Dari mana kamu mendapatkan uang dengan mudah. Bukankah biaya operasi mahal." Balas Ibu Vina. "Aku memperkerjakan Vina menjadi pembantu, sebagai bayaran pertama aku melunasi biaya operasi dan rumah sakit." Kata Clue. "Ahh, bukankah itu terlalu berlebihan." Kata Ibu Vina.
"Tenanglah, aku seorang hunter. Aku dapat menghasilkan uang dengan mudah." Clue tersenyum. Vina dan ibunya terkejut saat mendengar kata Clue. "Terimakasih." Kata Ibu Vina. "Aku akan menunggu di luar." Kata Clue berjalan keluar.
Clue duduk di kursi kosong dan melihat sebuah berita. "4 hunter tingkat d telah ditemukan meninggal tanpa jasad di dungeon tingkat d." Clue yang membaca judul berita bergumam. "Sepertinya dungeon itu sudah diselesaikan. Apa pihak asosiasi akan mencurigaiku." "Jika pihak asosiasi berani macam-macam denganku. Percayalah, aku akan membuat organisasi mereka musnah dari Indonesia." Kata Clue.
Sementara itu di sebuah ruangan. "Apa kamu tahu siapa pria yang memasuki dungeon bersama 4 hunter yang meninggal itu." Kata seorang pria paruh baya. "Dia adalah Fernando Clue De Lopez dari Jember yang baru-baru menjadi hunter tingkat E. Diketahui dirinya jatuh koma selama 1 tahun dan bangun seminggu yang lalu." Kata wanita berpakaian hitam. "Temui dia dan interogasi." Kata pria paruh baya. "Baik." Wanita mengangguk.
Clue yang sedang duduk melihat Vina menghampirinya dan tiba-tiba mencium bibirnya. "Terimakasih." Kata Vina tersipu malu. "Sebelumnya kamu sangat pemalu di cafe, tidak kusangka kamu tidak ragu untuk menciumku." Kata Clue. "Itu karena kamu menolongku." Vina tersenyum. Clue berdiri dari kursinya kemudian memeluk Vina dan mencium bibirnya. "Emm." Vina terkejut Clue tiba-tiba mencium dan memeluk dirinya.
"Uhuk, ini rumah sakit. Dimohon untuk tidak bermesraan." Clue melihat perawat perempuan yang berdiri tidak jauh darinya. "Maaf." Kata Clue. Vina membungkuk malu dan hendak berjalan masuk ke kamar. Namun Clue memegang tangannya. "Ikut aku." Kata Clue. "Kemana." Tanya Vina bingung. Clue kemudian berjalan bersama dengan Vina.
Melihat kamar mandi wanita sepi, Clue kemudian masuk ke dalam kamar mandi bersama Vina. "Kenapa kita kesini." Kata Vina. "Bukankah kamu sudah tahu jawabannya, dan tolong pelankan suaramu agar kita tidak ketahuan." Bisik Clue. "Jika kita ingin melakukan hubungan badan. Bukankah lebih baik melakukan di hotel." Bisik Vina.
"Tapi lebih menantang melakukan di kamar mandi umum." Bisik Clue kemudian mencium bibir Vina. "Emm." Vina tidak menolak ciuman Clue. Clue kemudian mengangkat kaos milik Vina. Clue melihat bra hitam milik Vina kemudian melepaskannya. Clue melihat Vina memiliki dada mungil. "Dadamu sangat imut." Bisik Clue kemudian menghisap dada Vina. "Emm." Vina menahan desahannya dan menarik rambut Clue.
Clue berhenti menghisap dada Vina kemudian melepaskan celananya. Clue melepas ****** ******** dan menunjukan miliknya kepada Vina. "Besar dan panjang." Kata Vina terkejut. Clue kemudian menelanjangi Vina dan menyuruhnya duduk di atas wc. Clue melihat pussy berbulu milik Vina kemudian tanpa basa-basi menusuknya. "Ahh." Vina mendesah.
Saat ini di luar kamar mandi seorang wanita paruh baya berkata. "Sepertinya aku mendengar suara desahan." "Shh, pelankan suaramu." Bisik Clue. "Emmm." Vina menutup mulutnya dan mengangguk.
"Aku akan pergi." kata Clue. "Apa besok kamu akan kemari." Tanya Vina. "Tentu, besok aku akan kemari." Clue mengangguk. "Berapa nomormu." Kata Vina. Clue kemudian memberikan nomornya. "Baiklah, aku akan pergi." kata Clue. "Hati-hati." Kata Vina. Clue tersenyum kemudian memeluk Vina dan mencium bibirnya. Vina terkejut namun justru memeluk Clue dengan erat dan memainkan lidahnya. "Baiklah, sampai jumpa besok." Clue melepas pelukan dan pergi.
Vina melihat Clue pergi dan berkata dengan tersenyum. "Sampai jumpa." Vina berbalik dan terkejut saat melihat beberapa orang yang berdiri di belakangnya. Vina dengan wajah merah kemudian masuk ke dalam kamar. Saat di dalam kamar Vina bergumam. "Ahh, apa mereka melihatku berciuman." Vina terdiam beberapa detik kemudian bergumam. "Aku begitu bodoh melakukannya dengan pria yang baru saja ku kenal. Tapi entah kenapa aku menyukainya." Vina tersenyum.
Saat ini Clue keluar dari rumah sakit dan melihat seorang wanita dan pria memakai jaz warna hitam. "Apa anda saudara Fernando Clue De Lopez." Tanya wanita. "Benar, aku Fernando." Balas Clue. "Silakan ikuti kami ke mobil. Kami ingin berbicara." Kata wanita. "Bagaimana jika aku menolak." Balas Clue. "Kamu tidak bisa menolak." Kata wanita mengeluarkan auranya.
"Sial." Clue berkeringat saat merasakan kekuatan aura wanita. "Hentikan, lihatlah sekitarmu." Kata pria. Wanita menghentikan melepaskan auranya dan melihat sekeliling. Wanita melihat orang yang berada di dekatnya duduk di tanah dan berkeringat.
"Ikuti kami, atau kamu akan menyesal." Kata wanita berjalan menuju mobil. Clue menggertakan giginya kemudian berjalan ke arah mobil. Clue kemudian masuk ke dalam mobil bewarna hitam. "Apa kamu mengenal mereka berempat." Kata wanita menunjukan foto ketiga pria dan satu wanita. "Aku mengenalnya, tadi mereka memasuki dungeon bersamaku." Balas Clue.
"Kamu tahu, mereka berempat meninggal." Tanya wanita. "Ahh, bagaimana mereka bisa meninggal." Clue terkejut. Wanita melihat ekspresi Clue dan berkata. "Mereka meninggal di tahap keempat. Mereka meninggal tanpa menyisahkan mayat utuh, hanya tinggal tulang belulang.
Clue terkejut dengan kata wanita. "Aku pergi setelah menyelesaikan tahap ketiga, saat mereka memberiku 7 kristal." Kata Clue. "Kamu tahu akulah yang membayar biaya memasuki dungeon. Namun aku hanya diberi 7 kristal. Aku marah lalu memutuskan untuk keluar dungeon." Kata Clue dengan ekspresi marah.
Wanita melihat ekspresi Clue dan berkata. "Baiklah, kamu bisa pergi." "Baiklah." Clue mengangguk kemudian keluar dari mobil. Melihat Clue keluar dari mobil pria berkata. "Pria itu seperti menyembunyikan sesuatu." "Kita pantau pergerakannya. Jika seseorang yang memasuki dungeon bersamanya meninggal. Kita tangkap dia." Kata wanita.
Saat ini Clue menjauh dari mobil kemudian berjalan memasuki rumah sakit. Clue lalu berjalan menuju kamar dimana ibu Vina di rawat. "Ehh, mengapa kamu kembali." Tanya Vina. Clue menyeret Vina ke arah kamar mandi pasien lalu membuka celananya.
"Ahh." Vina terkejut dengan yang dilakukan oleh Clue. "Aku masih belum puas." Bisik Clue kemudian melepas celananya. Clue melepas celana Vina kemudian menusuk pussynya dari belakang. "Uhhh." Vina mengerang.
30 menit kemudian Vina terbaring di lantai kamar mandi dengan badan berlumuran cairan. "Clue menggangkat Vina ke arah wc kemudian menusuk pussynya. "Ahh, kamu masih belum puas. Uhhh." Vina mendesah.