Rebirth With System

Rebirth With System
S2 Menonton Tournament



2 hari telah berlalu saat ini Clue berada di ruangan bersama 5 wanita yang tidak lain, Gin, Karen, Syifa, Rapunsel dan Shimako. "Baiklah, aku akan pergi menghadiri tournament. Nanti malam aku akan kembali seperti biasa." Kata Clue. "Baik sayang." "Baik tuan." balas Gin dan 4 wanita lainnya. Clue mengangguk lalu menghilang.


Clue muncul di suatu tempat yang sangat ramai dan melihat Rizky sedang bersama 10 orang. "Patriack." "Patriack." Kata Rizky dan 10 orang di belakangnya.


"Apa kalian sudah selesai mendaftar." Tanya Clue. "Sudah patriack." Balas ke 10 orang dengan semangat. "Baiklah, jangan sampai kalah. Jika kalian masuk 10 besar, aku akan memberikan kalian pil yang meningkatkan 1 level kalian seperti sebelumnya." Kata Clue.


Sebulan yang lalu Clue memberikan masing-masing 1 pil poin level 6 yang harganya 10 juta coin kepada 10 siswa yang akan mengikuti tournament. Kekuatan mereka meningkat 1 level berkat pil yang diberikan Clue. "Baik patriack." 10 siswa menjawab penuh semangat. Mereka tidak menyangka bahwa hanya terpilih mengikuti tournament sudah mendapatkan hadiah dari patriack mereka. Belum lagi jika mereka memasuki 10 besar yang diberi hadiah oleh penyelenggara dan Clue.


"Baiklah, kalian ingin mencari penginapan untuk beristirahat menunggu besok atau tidak." Kata Clue. "Tidak perlu patriack." Balas seseorang. "Benar, kami akan berkeliling." Balas perempuan lain. "Baiklah kalau begitu, aku ingin makan apa kalian mau ikut." Kata Clue. "Ahh, tentu patriack." 10 siswa berteriak dengan semangat. Rizky yang melihat 10 siswa semangat tersenyum. "Patriack Clue lebih disukai para murid sekte dari pada aku menjadi patriack dulu." Gumam Rizky.


Keesokan harinya Clue sedang berdiri dengan Rizky di luar arena pertarungan. "Rizky Ayo masuk." Kata Clue. "Baik patriack." Rizky mengangguk. Clue membayar biaya masuk diikuti Rizky di belakangnya.


Clue melihat bahwa arena sudah ramai dan sekitar sepuluh ribu orang lebih yang menonton. Clue mencari tempat duduk yang kosong dan akhirnya menemukannya. Clue duduk di samping elf wanita dewasa. "Ahh." Elf wanita dewasa berambut pirang terkejut dengan seseorang yang duduk di sampingnya.


"Dia lebih tampan dari yang dirumorkan." Elf wanita dewasa tersipu dan berkata. "Apakah anda Clue patriack sekte Dice." Clue melihat elf wanita ber level 140 yang berkata kepadanya. "Benar itu aku." "Emm, kamu tahu aku selalu mengidolakanmu." Elf wanita tersipu. Clue yang melihat elf wanita tidak begitu buruk dan kecantikannya setara dengan Syifa bergumam. "Bermain-main dengan wanita acak yang kutemui tidak terlalu buruk."


"Oh, benarkah. Kalau begitu setelah menonton pertandingan. Mengapa kita menghabiskan waktu bersama." Clue memegang tangan Elf wanita. "Ahh, benarkah." Elf wanita terkejut. "Benar, sangat bodoh jika aku tidak menghabiskan waktu dengan wanita cantik." Balas Clue tersenyum. "Deg, deg." Jantung elf wanita berdetak kencang. "Aku mau." Elf wanita mengangguk penuh semangat. Clue tersenyum melihat elf wanita bergitu mudahnya setuju.


Rizky yang baru saja duduk di samping Clue terkejut, melihat Clue begitu mudahnya menaklukan wanita. "Patriack sungguh menajubkan. Tidak ada wanita yang bisa lolos darinya." Gumam Rizky.


"Lihat, dia Clue patriack sekte Dice." "Benar, apakah dia mengajak elf wanita itu kencan." "Aku barusan dengar bahwa elf wanita terlebih dulu yang mengidolakan Clue." Beberapa manusia. Elf dan monster yang duduk di dekat Clue berbisik. Clue mengabaikan bisikan tentang dirinya.


"Baiklah tournament ke 101 antar akademi atau sekte di dunia hijau rersmi dimulai." Kata seorang pria yang berdiri di arena. "Peringkat kaisar level 2." Gumam Clue melihat kekuatan pria yang menjadi pemandu acara. "Rizky, apa dia berasal dari benua inti." Tanya Clue. "Benar patriack, mungkin dia salah satu keluarga dari para orang tua di asosiasi." Balas Rizky. Clue mengangguk mendengar kata Rizky.


"Pertarungan pertama adalah pemegang urutan nomor 1 dengan pemegang urutan nomor 600." Teriak pria. Clue lalu melihat dua pemuda berjalan menuju arena. "Sebelum pertarungan dimulai kalian semua harus ingat membunuh diperbolehkan. Tapi setelah tournament selesai pihak akademi atau sekte yang muridnya terbunuh tidak boleh membalas dendam" kata pria. "Kami sudah tau." Teriak beberapa orang di kursi penonton.


"Baiklah, apa kalian berdua siap." Kata pria melihat dua pemuda. "Saya sudah siap." Kedua pemuda menjawab bersamaan. "Jika begitu pertarungan dimulai." Kata pria melompat mundur dan turun dari arena. "Boom." Kedua pemuda mulai bertempur.


Clue tidak terlalu tertarik menonton pertarungan kecuali para murid dari sektenya. "Oh, benar nona cantik aku belum tahu namamu." Kata Clue memegang tangan elf wanita disampingnya. "Namaku Martha." Elf wanita tersipu. "Namamu sungguh cantik seperti orangnya." Clue tersenyum. Wajah Martha merah mendengar Clue.


Pertarungan terus berlanjut dan 2 jam telah berlalu, saat ini Clue melihat bahwa salah satu murid di sektenya yang bertarung. Keberuntungan murid di sekte Clue sangat bagus, dia bertemu murid dari sekte luar. Lalu murid sekte luar mengaku kalah karna dia 3 level lebih rendah dari murid sekte Clue.


Beberapa jam kemudian Clue melihat bahwa 10 murid di sektenya sudah selesai bertarung dan lolos ke babak selanjutnya. "Rizky apakah tournament hari ini berlanjut ke babak selanjutnya." Tanya Clue. "Tidak patriack, babak selanjutnya akan dilanjutkan besok." Balas Rizky. "Jika begitu aku pergi dulu, Martha Ayo." Kata Clue. "Baik patriack." Rizky mengangguk. "Emm." Martha tersipu dan mengikuti dibelakang Clue. Melihat Clue pergi dengan Martha, Rizky bergumam. "Apa wanita tuan Clue akan bertambah lagi dan menjadi 5." Rizky tahu bahwa Gin, Karen, Syifa dan Rapunsel wanita Clue. Tapi Shimako adalah pengasuh bayi Clue.


Clue dan Martha berjalan bergandengan tangan. "Martha ayo kita ke dalam." Clue melihat penginapan. "Baik." Martha mengangguk dengan malu. Clue dan Martha memasuki penginapan lalu memasan 1 kamar untuk 1 hari.


Setelah tiba di kamar Clue duduk dan berkata. "Lepas pakaianmu." Martha tersipu lalu melepas armor dan pakainnya. Clue tersenyum melihat Martha telanjang di depannya. "Kamu memiliki tubuh yang seksi dan payudara yang indah." Kata Clue. "Benarkah." Marta tersenyum bahagia. "Benar." Clue mengangguk.


"Lalu kenapa kamu setuju melakukan ini denganku." Balas Clue. "Karna aku menyukaimu." Martha tersipu. "Lalu apakah kamu meninggalkan suamimu jika aku menyuruhmu meninggalkannya" balas Martha. "Aku akan meninggalkannya." Martha mengangguk. Clue menyeringai mendengar balasan Martha.


Clue mendorong Martha ke kasur lalu mencium bibirnya. "Emmm." Martha mengerang saat Clue menciumnya dan mulai membalas ciuman Clue. "Kamu sungguh cantik." Clue berbisik dan menjilati leher Martha. "Kamu juga sangat tampan." Martha tersenyum bahagia.


2 jam kemudian Clue dan Martha sedang berbaring di ranjang. "Aku sedang mencari pelayan, apakah kamu tertarik menjadi pelayanku. Saat kamu menjadi pelayanku, aku bisa memberikan kamu kenikmatan." Clue tersenyum. "Ahhh, apa itu benar." Tanya Martha. "Benar, tapi kamu harus meninggalkan suamimu." Clue tersenyum. Martha teridiam beberapa detik lalu mengangguk. "Aku setuju menjadi pelayanmu."


"Baiklah, mulai sekarang kamu adalah pelayanku. Lalu panggil aku tuan." Clue tersenyum. "Tuan." Martha tersenyum. "Lebarkan kakimu Martha." Baik tuan. "Martha tersipu dan melebarkan kakinya menunjukan pussynya yang meneteskan cairan putih.


1 jam kemudian Clue dan Martha sedang terbaring di ranjang berpelukan. "Ayo kita pergi ke rumahmu." Kata Clue. "Baik tuan." Martha mengangguk. Clue dan Martha mulai berpakaian. "Apakah rumahmu jauh dari sini." Tanya Clue. "Tidak tuan. Rumahku dekat dari penginapan ini." Balas Martha. "Ehh." Clue terkejut.


Beberapa menit kemudian Clue dan Martha sudah meninggalkan penginapan lalu tiba di sebuah rumah. "Martha siapa dia, dan kenapa kamu memeluk lengannya." Seorang pria paruh baya melihat Martha memeluk lengan Clue.


"Mulai hari ini kita berpisah, aku akan pergi bersama tuan Clue." Martha tersenyum lalu mencium pipi Clue. "Dasar pelacur." Pria melesat menuju Clue dan Martha. Detik berikutnya Clue mencengkram leher pria paruh baya dengan mudah. "Apa kamu ingin aku membunuhnya." Kata Clue.


Martha mengigit bibirnya dan menggeleng. "Jangan membunuhnya." "Baiklah, tapi aku akan melumpuhkannya, agar dia tidak membalas dendam." Clue menusuk dantian pria. "Arghh, sialan kau Martha." Kata pria melihat kultivasinya menurun dan menjadi peringkat D level 1.


"Tuan, lepaskan dirinya." Kata Martha. "Baiklah, jika itu maumu. Tapi kamu gagal tesku, aku tidak tertarik denganmu." Balas Clue lalu melemparkan pria. "Ahh." Martha terkejut lalu memeluk kaki Clue. "Tuan, tolong terima Martha menjadi pelayanmu." Martha menangis.


"Dasar lacur." Teriak Pria paruh baya yang terbaring di lantai melihat Martha mengemis menjadi pelayan Clue. "Diam kau." Martha berteriak merah. "Baiklah, aku akan memberimu kesempatan." Clue menyeringai. "Ahh, benarkah tuan." Mata Martha cerah. "Benar, cepat lepaskan pakaian dan armormu." Kita akan melakukan di depan suamimu. "Baik tuan." Martha tersenyum lalu melepas pakaiannya dan armornya.


"Lihat istrimu menjadi milikku." Clue menyeringai melihat pria paruh baya yang terbaring di lantai dan menusuk milik Martha. "Ahhh." Martha mendesah dan memeluk Clue. Pria paruh baya menangis melihat Clue dan Martha melakukan hubungan badan di depannya. "Tuan. Ahh" Martha mendesah dan mencium bibir Clue.


Pria paruh baya menggertakan gigi lalu mengigit lidahnya dan bunuh diri. Clue yang melihat pria paruh baya bunuh diri berkata. "Suamimu bunuh diri." "Martha menggertakan gigi dan berkata. "Itu pilihannya." Clue melihat bahwa air mata Martha menetes.


"Tenang Martha, kamu boleh menangis. Saat ini kamu adalah pelayanku." Bisik Clue. "Hiks, hiks. Terimakasih tuan." Martha menangis di pelukan Clue. "Dasar lacur. Aku akan membunuh kalian berdua." Kata seorang pemuda mengintip Clue dan Martha berhubungan badan di depan pria paruh baya yang meninggal.


"Aktifkan time stop." Clue menghentikan waktu. "Maaf Martha, aku hanya main-main denganmu. Kamu akan menyusul suamimu. Clue tersenyum lalu menusuk leher Martha lalu berjalan menuju pemuda yang mengintipnya. "Kamu akan menyusul kedua orang tuamu." Clue menebas leher pemuda.


"Aku akan membersihkan ini." Clue lalu menonaktifkan time stop. "Arghh. Mengapa." Martha terkejut lalu jatuh dan meninggal. Clue mulai mengenakan pakaian dan armonya. "Baiklah, aku akan membakar mayat kalian betiga." Clue menumpuk mayat Martha, suami dan anaknya. Clue memegang ketiga mayat lalu detik berikutnya menghilang.


Clue muncul di sebuah bukit lalu mulai membakar ketiga mayat. "Maaf Martha, jika kamu sedikit lebih cantik dan payudaramu lebih indah aku akan setuju menjadikanmu pelayanku." Clue tersenyum lalu menghilang.


Keesokan harinya Clue bertemu Rizky di luar arena. "Apa kamu sudah menungguku lama." Tanya Clue. "Tidak patriack." Balas Rizky. "Baiklah ayo masuk." Kata Clue. Rizky mengangguk. "Kenapa patriack sendiri, apa patriack membuang elf wanita kemarin." Gumam Rizky.


Tidak lama kemudian Clue dan Rizky memasuki arena dan mencari tempat duduk yang kosong. Clue dan Rizky langsung menemukan tempat duduk kosong. "Permisi bisakah aku duduk disampingmu." Clue yang baru duduk dengan Rizky melihat wanita berambut ungu berbicara. "Itu terserahmu." Balas Clue. Wanita tersenyum lalu duduk di samping Clue.