
5 menit kemudian Clue melayang di langit dan melihat sebuah lubang berukuran besar di depan gedung asosiasi. "Lubangnya 2x lebih besar dari pada lubang dungeon yang pernah aku masuki." Kata Clue kemudian perlahan turun.
"Ahhh, dia hunter Fernando." Semua orang yang ada dilokasi panik saat melihat Clue mendarat dari langit. Semua anggota asosiasi bersiap bertarung saat melihat Clue. "Hei, bisakah aku bicara dengan pimpinanmu." Kata Clue melihat semua anggota asosiasi.
Semua anggota asosiasi ragu kemudian seorang pria menyalakan smartphone. Tidak lama kemudian pria memberikan smartphone kepada Clue. "Halo." Kata Clue. "Ada apa hunter Fernando. Apa kamu ingin menyerahkan diri." Balas suara. "Aku tidak ingin menyerahkan diri, aku memiliki tawaran untuk pemerintah." Kata Clue.
"Hmm, apa tawaran yang bisa diberikan seorang pembunuh sepertimu." Balas suara. "Jika aku bisa menyelesaikan dungeon tingkat s. Maka bebaskanlah kakekku." Kata Clue. "Hahaha, kamu hanyalah hunter tingkat a. Tidak mungkin bisa menyelesaikan dungeon tingkat s. Apalagi menyelesaikan seorang diri." Balas suara.
"Kamu terlalu meremehkanku. Pikirkanlah tawaranku lagi. Kamu seharusnya sudah tahu hanya dengan 5 hunter tingkat s dan 55 hunter tingkat a. Ahh 52 hunter tingkat a, karena aku sudah membunuh 3 hunter tingkat a sebelumnya." Kata Clue. "Berengsek." Balas suara. "Hanya dengan 5 hunter tingkat s dan 52 hunter tingkat a tidak akan dapat menyelesaikan dungeon tingkat s. Pemerintah perlu bantuanku." Kata Clue menutup panggilan.
Saat ini disebuah ruangan pria paruh baya sedang duduk dan melihat smartphone. "Perkataanya memang benar, hanya dengan 5 hunter tingkat s dan 52 hunter tingkat a tidak mungkin bisa menyelesaikan dungeon tingkat s. Aku berharap bahwa ada seseorang yang terbangkitkan menjadi tingkat s dan a namun belum mendaftar menjadi hunter." Kata pria paruh baya.
Clue saat ini melihat anggota asosasi kemudian terbang ke langit. "Dia pergi." kata seorang pria menghela nafas. "Beruntung dia tidak menggila dan menyerang kita." Seorang pria menghela nafas. "Sial, mengapa aku tidak berani untuk muncul di depannya." Kata pria berkacamata hitam yang berada di dalam gedung. "Apakah aku takut dengannya." Kata pria yang tidak lain adalah Robert. Robert telah sembuh 5 hari lalu dan mulai bekerja kembali.
5 menit kemudian Clue telah kembali ke rumah Ajeng. "Ahh, aku pikir kamu pergi dan tidak kembali lagi." kata Ajeng melihat Clue kembali. "Jika aku pergi dan tidak kembali. Aku tidak akan meninggalkan tasku." Kata Clue melihat tasnya. Ajeng terdiam mendengar kata Clue.
"Benar, bolehkah aku pinjam smartphonemu. Aku ingin membuka aplikasi hunter." Kata Clue. "Haaa, apa kamu bodoh. jika kamu membuka aplikasi hunter dengan idmu. Pihak asosiasi akan menemukan lokasimu." Teriak Ajeng. "Santailah, pihak asosiasi saat ini sedang sibuk mengurusi dungeon tingkat s yang muncul." Clue tersenyum.
"Meski begitu aku tetap tidak ingin meminjamkanmu smartphone." Kata Ajeng. "Baiklah, jika begitu aku akan pergi. Perjanjian untuk melindungimu saat dungeon tingkat s muncul dibatalkan." Kata Clue. "Ahhh." Ajeng terkejut mendengar kata Clue. Clue mengambil tasnya kemudian pergi. Melihat Clue pergi Ajeng terkejut. "Apa dia begitu marah padaku. Karena aku tidak meminjamkannya smartphone." Ajeng bingung.
Setelah cukup jauh berjalan dari rumah Ajeng Clue berkata. "Keluarlah, percuma kamu menyembunyikan diri." "Ahh, sepertinya aku ketahuan ya." Kata sebuah suara. Beberapa detik kemudian muncul seorang pria yang sedang memegang smartphone.
Saat melihat wajah pria Clue berkata. "Apakah kamu Deni hunter tingkat s yang mempunyai kemampuan teleportasi dan menghilang." "Benar, aku Deni hunter tingkat s." Balas pria. "Apakah kamu mengikutiku dari gedung asosiasi." Kata Clue. "Oh, bagaimana kamu bisa tahu aku mengikutimu." Pria terkejut.
"Cukup basa-basinya. Mengapa kamu mengikutiku." Kata Clue. "Aku mengikutimu, karena kamu berkata bisa menyelesaikan dungeon tingkat s." Balas pria. "Aku memang bisa menyelesaikan dungeon tingkat s." balas Clue. "Hahaha, kamu sungguh percaya diri dengan kemampuanmu." Pria tertawa. "Baiklah, aku ingin melihat apa kata-katamu itu bukan hanya omong kosong belaka." Pria kemudian menghilang.
Namun saat berbalik Clue tidak dapat menemukan seorang pun. Clue masuk ke dalam rumah Ajeng untuk memastikan apakah seseorang yang tiba-tiba muncul itu mengikutinya atau tidak. Saat berbicara dengan Ajeng Clue merasakan orang itu tidak bergerak sedikitpun. Saat keluar dari rumah Ajeng, Clue melihat dirinya diikuti. Clue terkejut bahwa yang mengikutinya adalah seorang hunter tingkat s.
Saat ini di tepi jalan seorang pria tiba-tiba muncul dan berkata. "Aku tidak menyangka diriku ditemukan. Tapi kapan diriku ditemukan. Apa saat dia turun dari langit dan tiba-tiba menoleh ke belakang." Pria berpikir. "Sepertinya dia bukan hunter ranking a biasa." kata pria.
Saat ini Clue sedang terbang di langit kemudian mendarat di depan supermarket. Clue kemudian masuk ke dalam supermarket dengan santai. "Ahhh." Semua orang di dalam supermarket dan penjaga kasir terkejut saat melihat Clue masuk ke dalam supermarket.
"Dia Fernando si pembunuh berantai. Semuanya lari." Teriak salah satu orang. Kemudian semua orang berlari meninggalkan supermarket. Bahkan penjaga kasir juga lari keluar supermarket. "Rupanya aku diberi julukan pembunuh berantai." Kata Clue berjalan ke arah rak camilan. Clue kemudian mengambil beberapa cemilan dan kopi botolan.
Clue melihat tempat kasir yang kosong kemudian menaruh satu kristal di meja. "Aku bukan seorang pencuri." Kata Clue meninggalkan satu kristal kemudian keluar supermarket. "Angkat tanganmu." Saat keluar dari supermarket Clue melihat dua orang polisi yang mengarahkan pistol kepadanya.
"Apa kalian berdua yakin mengarahkan pistol kepadaku." Kata Clue melihat kedua polisi. Kedua polisi gugup saat mendengar kata Clue. Mereka tidak tahu bahwa penjahat yang memasuki supermarket adalah Clue. Jika pria di depan mereka kebal terhadap rocket launcer maka senjata api seperti pistol tidak akan berguna.
"Kalian berdua pergilah. Aku tidak berencana." "Duarr." Sebelum menyelesaikan perkataanya Clue melihat seorang polisi menembak dirinya. "Bodoh." "Kenapa kamu menembaknya." Kata seorang polisi panik melihat rekannya menembak Clue. "Aku tidak sengaja menarik pelatuk." Balas polisi gugup dan ketakutan.
"Sangat geli." Kata Clue melihat peluru terjatuh di tanah. "Tembakanmu sangat bagus. Kamu menembakku dibagian leher. Jika aku hanyalah hunter tingkat b. Aku pasti akan mati." kata Clue. kedua polisi ketakutan mendengar kata Clue. "Sigh, sangat disayangkan kamu harus mati sebelum usia tua." kata Clue menjentikan jarinya kemudian tubuh polisi yang menembak dirinya terbakar. "Ahhh, panas." polisi berteriak melihat dirinya terbakar.
"Ahhh." Sementara polisi disampingnya terkejut melihat temannya tiba-tiba diselimuti api. "Ini hadiah karena kamu tidak menembak diriku." Kata Clue melemparkan dua kristal kepada polisi. Polisi yang ketakutan terkejut tiba-tiba Clue memberinya 2 kristal. "Pakai satu kristal untuk biaya pemakaman temanmu." Kata Clue kemudian terbang ke langit.
10 menit kemudian Clue kembali ke rumahnya. "Ahh." Inem dan Jono kaget melihat Clue. "Dimana Vina." tanya Clue saat merasakan hanya Inem dan Jono yang berada di rumah. "Setelah tahu bahwa anda membunuh puluhan polisi, tentara dan anggota asosiasi. Vina kembali ke Jakarta." Balas Jono. "Jadi begitu." Clue mengangguk kemudian melihat bi Inem dan Jono. "Lalu kenapa Bi Inem dan Paman Jono tidak pergi juga." Tanya Clue.
"Anda tentunya tahu saudara Clue, kita sudah bekerja di sini selama 20 tahun lebih. Kita sudah menganggap rumah ini, sebagai rumah kedua kita. Jika kita berdua pergi, lalu siapa yang akan mengurus rumah ini." kata bi Inem. Mendengar kata bi Inem Clue tersenyum.