
"Ini paman." Kata Clue mengembalikan handphone kepada pamannya. "Benar, kamu saat ini tidak mempunyai handphone. Handphonemu yang dulu telah rusak karena tersambar petir. Apa merk handphone yang kamu inginkan. Paman akan membelikannya." Kata paman Clue. "Terserah paman." Balas Clue.
1 jam kemudian Clue melihat kakek, paman dan bibinya pergi. Namun seorang wanita muda berambut pirang masuk ke dalam ruangan. "Fernando akhirnya kamu bangun." Kata wanita muda. Clue melihat wanita yang memanggil namanya dan berkata. "Ayah dan Ibumu baru saja pulang." "Aku tahu, barusan aku bertemu dengan mereka, dan juga kakek."
"Apakah hubunganmu dengan kedua orang tuamu masih buruk Fiona." Kata Clue. Clue tahu bahwa Fiona memiliki hubungan buruk dengan kedua orang tuanya. Dikarenakan Fiona sering mengkonsumsi minuman keras dan mentato tubuhnya. "Tidak, hubunganku dengan kedua orang tuaku sudah membaik saat kamu jatuh koma." Balas Fiona kemudian mulai mengambil rokok dari sakunya.
"Dirumah sakit dilarang merokok." Kata Clue. "Aku lupa, kalau begitu aku pergi. Beristirahatlah yang cukup Fernando." Kata Fiona kemudian pergi. Melihat Fiona pergi Clue berkata. "Sifatnya buruk. Beruntung dia memiliki wajah yang cukup cantik dan body bagus." Clue melihat pantat bulat Fiona. "Baiklah, aku akan melanjutkan kultivasi." kata Clue kemudian duduk dan memejamkan matanya.
Keesokan harinya Clue membuka matanya dan berkata. "Mengapa aku tidak bisa mengalirkan energi alam yang kuserap ke dalam dantianku. Mengapa energy alam selalu mengalir ke daging, otot, tulang dan sel-selku. Apa karena aku masih lemah." Kata Clue turun dari ranjang dan menggerakan tubuhnya. "Tapi aku merasa bahwa diriku memiliki banyak stamina, terlebih lagi tubuhku kembali terisi." Kata Clue melihat badannya tidak sekurus kemarin.
"Ahh, saudara Clue. Apa anda sudah bisa berdiri." Seorang perawat wanita masuk ke dalam kamar dengan membawa makanan. "Benar, aku sudah bisa berdiri dan berjalan." Kata Clue berjalan ke arah jendela dan melihat pemandangan di bawah.
"Saudara Clue anda tidak perlu memaksakan diri. Anda belum sembuh total." Kata perawat menaruh makanan di meja. "Kamu tidak perlu khawatir." Clue berbalik dan tersenyum ke arah perawat. "Ahh, baik." Perawat tersipu kemudian keluar dari kamar. Saat keluar dari kamar perawat berkata. "Kenapa aku malu, bukankah selama satu tahun aku sudah sering melihat wajahnya."
Clue melihat makanan di meja dan berkata. "Heh, lagi-lagi sop ayam. Tapi itu tidak masalah untuk saat ini." Clue mulai makan. Setelah menghabiskan makanannya Clue mulai duduk dan memejamkan matanya.
6 hari telah berlalu dan Clue sudah 7 hari di rumah sakit. Saat ini Clue sedang telanjang dan melihat dirinya di cermin lalu berkata. "Aku bertambah tinggi dan tubuhku semakin berotot. Padahal aku hanya melakukan kultivasi."
"Aku tidak menyangka kamu memiiki tubuh bagus dan perut sixpack." Seorang wanita berambut pirang tersipu saat melihat Clue hanya mengenakan ****** *****. "Fiona mengapa kamu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu." Kata Clue melihat wanita berambut pirang yang tidak lain adalah sepupunya Fiona. "Aku lupa, dan bisakah kamu mengenakan pakaian terlebih dahulu." Kata Fiona tersipu namun tatapanya tidak bisa lepas dari tubuh Clue.
Melihat Fiona yang tersipu malu Clue tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Fiona. Melihat Clue berjalan mendekat ke arahnya Fiona menjadi gugup dan berjalan mundur ke dinding. "Kamu harum Fiona." Clue menaruh satu tangannya di dinding dan tangan lainnya mencium rambut Fiona.
"Fernando, apa yang mau kamu lakukan. Kita ini masih sepupu." Kata Fiona gugup. "Aku tahu, dan kenapa kamu begitu gugup. Bukankah kamu dulu sering menggodaku saat kita masih kecil." Clue tersenyum. "Itu." Fiona tidak bisa berkata. Clue tersenyum kemudian mencium bibir Fiona. Fiona terkejut saat dicium Clue dan secara reflek menampar pipi Clue. "Plash." Clue berhenti mencium bibir Fiona dan menatap Fiona. "Meski aku nakal, aku bukan wanita murahan." Fiona tahu bahwa dulu Clue adalah playboy dan sering bermain dengan banyak wanita yang berbeda.
"Maaf, aku terpukau oleh kecantikanmu, dan secara reflek aku menciummu." Balas Clue. Sebenarnya alasan Clue mencium Fiona karena dia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dan melihat dirinya sedang telanjang.
Melihat Fiona pergi Clue mengenakan pakaiannya kemudian kembali duduk di kasur. "Aku ingin tahu seberapa kuat diriku saat ini menurut tingkat hunter." Gumam Clue kemudian memejamkan matanya.
1 jam kemudian Clue membuka matanya dan melihat kakeknya bersama seorang dokter. "Saudara Clue sepertinya anda sudah pulih total dan bisa pulang." Kata dokter. Clue mengangguk kemudian turun dari kasur dan berjalan ke arah kakeknya. "Saudara Clue, apa anda terbangkitkan." Kata dokter. Kakek Clue terkejut saat mendengar kata dokter. "Tidak, aku hanya latihan." Balas Clue santai. Mendengar jawaban Clue dokter terkejut dan berkata. "Baiklah, maaf sudah bertanya." "Santai saja dok." Balas clue.
Beberapa menit kemudian Clue dan kekeknya keluar dari rumah sakit. "Clue, apa kamu tidak terbangkitkan." Tanya kakek Clue. "Tidak kek, tapi aku yakin saat ini bisa mengalahkan hunter ranking E." Clue tersenyum. "Hahaha, kamu terlalu percaya diri, di rumah kakek memiliki alat pengukur kekuatan hunter. Jadi kita akan tahu kekuatanmu." Balas kakek Clue.
Clue terkejut saat mendengar kata kakeknya. Dia tahu alat pengukur kekuatan di bagi menjadi tiga tingkatan. Yang paling murah adalah alat pengukur kelas 1 seharga 20 juta. Yang mampu mengukur kekuatan para hunter sampai tingkat B.
Clue dan kekeknya kemudian berjalan ke arah mobil hitam. Tidak lama kemudian seorang pria keluar dari dalam mobil dan membuka pintu. "Halo jon." Kata Clue menyapa pria. Pria yang membuka pintu adalah sopir pribadi kakeknya. "Halo saudara Clue." kata Jono tersenyum.
Clue dan kakeknya kemudian masuk ke dalam mobil. "Mau kemana kita pak." Kata Jono. "Langsung pulang ke rumah." balas kakek Clue. "Baik pak." Pria kemudian menyalakan mesin mobil.
30 menit kemudian Clue melihat bahwa mobil telah berhenti. Clue turun dari mobil dan melihat sebuah rumah. "Akhirnya aku pulang." Clue tersenyum dan berjalan menuju rumah. "Dia pasti sudah bosan 7 hari berada di rumah sakit." Kakek Clue tersenyum.
"Saudara Clue, anda akhirnya bangun." Clue melihat seorang wanita paruh baya menyambutnya. Clue tahu dia adalah Inem pembantu rumah tangga. Clue mengangguk kemudian berkata. "Buatkan makanan favoritku bik." "Baik." Wanita paruh baya mengangguk dan berjalan ke arah dapur.
"Baiklah kek, dimana alat pengukur kekuatan hunter. Aku tidak sabar ingin melihat seberapa kuat diriku." Clue tersenyum. Kakek Clue tersenyum dan berkata. "Kemarilah." Kakek Clue kemudian berjalan diikuti oleh Clue.
Tidak lama kemudian Clue dan kakeknya tiba di sebuah kamar. Kakek Clue membuka sebuah laci kemudian mengambil sebuah alat. "Sentuh ujung alat ini." kata kakek Clue. Clue kemudian menyentuh ujung alat dan merasakan getaran di tubuhnya. "Tittt." Alat berbunyi dan menunjukan angka 7.
"Sepertinya dugaanmu benar. Kamu tidak terbangkitkan." Kata kakek Clue. "Tidak masalah kek, tidak terbangkitkan bukan masalah besar." Clue tersenyum. Dengan teknik kultivasi Clue yakin dirinya akan menjadi lebih kuat dan dapat mengalahkan hunter peringkat Raja cepat atau lambat.