
Clue mencibir lalu muncul didepan pria dan mencengkram lehernya. "Krek." Clue membunuh suami Alvi. "Ahh, kamu membunuhnya." Badan Alvi gemetar melihat suaminya meninggal. "Benar, jika aku tidak membunuhnya kamu yang mati." Balas Clue. "Bisakah kamu meninggalkanku sendiri." Kata Alvi. "Baiklah, tapi aku akan membuang mayatnya." Clue lalu menghilang.
Sementara itu Karen terbangun dari pingsanya lalu melihat Riko anaknya yang berumur empat tahun sedang bermain di dalam rumah. Karen berjalan ke arah dapur lalu mengambil sebuah pisau. "Mama." Kata Riko "Nak, maafkan ibumu." Kata Karen menusuk Riko. "Mama." Kata Riko lalu meninggal. Karen menangis lalu berjalan ke kamar Nina. Karen melihat Nina sedang tertidur lalu menusuk jantungnya. "Ahhh." Nina bangun dan menjerit saat jantungnya ditusuk.
"Kakak apa yang kamu lakukan." Kata Nina melihat Karen menusuk jantungnya. "Maafkan aku Nina, aku tidak akan membiarkanmu merebutnya dariku." Karen menangis. "Kamu gila." Nina menangis lalu meninggal. "Hehe, sekarang tidak ada yang menghalangiku untuk mendapatkannya." Karen tertawa seperti orang sinting.
Sementara itu Clue berada di sebuah hutan dan membakar mayat suami Alvi. "Sepertinya aku harus meninggalkan desa ini." Kata Clue melihat bahwa mayat pria yang dia bakar sudah menjadi abu. "Baiklah, sebenarnya aku hanya bercanda untuk mengajak Alvi. Hahaha sungguh perempuan bodoh." Clue tertawa lalu menghilang.
Clue tiba-tiba muncul di rumah Karen dan melihat bahwa Riko anak Karen meninggal dengan luka tusuk dan darah yang mengalir. "Sial, siapa yang membunuhnya." Clue berjalan menuju kamar Nina dan melihat bahwa Nina juga meninggal, sementara darah terus menetes dari ranjangnya. "Sialan." Clue mengutuk
"Kamu kembali." Kata Karen tersenyum melihat Clue kembali. Clue terkejut melihat Karen yang tangannya penuh dengan darah. "Apakah kamu membunuh adikmu dan anakmu sendiri." Clue bertanya. "Benar, aku membunuh Nina karna dia menghalangiku untuk memilikimu dan aku membunuh anakku karna kamu tidak menyukainya." Karen menjawab. "Apakah aku sudah membuatnya menjadi psikopat." Clue terkejut.
"Lalu bisakah kita bersama, aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi." Karen menangis dan memeluk Clue. Clue bingung harus menjawab apa, di satu sisi dia yakin Karen tidak akan melukainya. Disisi lain Clue takut bahwa Karen akan membunuh siapa saja perempuan yang dekat dengannya. "Untuk sementara ini bersamanya tidak masalah, jika aku menemukan wanita lain yang lebih cantik darinya. Aku akan membuangnya." Gumam Clue.
"Baiklah, kamu bisa bersamaku. Tapi kamu harus memanggil tuan" Kata Clue. "Ahh terimakasih tuan, lalu apakah kita bisa melakukan itu." Karen menatap Clue dan meneteskan air liur. "Dia sudah rusak." Gumam Clue. "Pertama-tama kita akan mengubur kedua jasad anakmu dan Nina lalu pergi dari desa ini." Balas Clue. "Baik tuan aku akan mengikutimu, kemanapun kamu pergi." Karen mengangguk penuh antusias.
Clue memegang mayat Riko di tangan kanannya dan mayat Nina ditangan kirinya. "Peluklah aku." Kata Clue. "Baik tuan." Karen memeluk Clue. Clue kemudian menghilang bersama Karen. Clue dan Karen muncul di sebuah hutan yang jauhnya seribu km dari desa. "Kubur mayat mereka berdua, karna kamu telah membunuhnya." Kata Clue meletakan mayat Nina dan Riko di tanah. "Baik tuan." Karen mengangguk.
Beberapa menit kemudian Karen telah menggubur jasad Riko dan Nami. "Terimakasih atas pengorbanan kalian berdua, karna kalian aku bisa bersamanya." Kata Karen. Clue yang mendengar kata Karen hanya terdiam.
Clue yang melihat Karen bergumam. "Sayang sekali wanita yang cantik seperti dia dan memiliki tubuh seksi sudah rusak." "Apakah tuan ingin mandi bersama Karen." Kata Karen tersenyum. "Baiklah, aku akan mandi bermasamu." Clue melepaskan pakaian dan armornya. Karen tersenyum bahagia melihat Clue setuju mandi dengannya.
Clue tiba disamping Karen lalu meremas payudara Karen dengan keras. "Ahhh." Karen menjerit "Mulai sekarang aku akan memanggilmu *****." Kata Clue menjambak rambut Karen. "Hehe, baik tuan nama panggilan saya adalah ***** bukan Karen." Karen tertawa. "Plash." "Ahh." Clue menampar payudara Karen dengan sangat keras.
Beberapa jam kemudian Clue sedang duduk sementara Karen memijat pundaknya. "*****, pakailah ini kelehermu." Kata Clue mengeluarkan sebuah sabuk. "Baik tuan." Karen memasang sabuk ke lehernya. Clue tersenyum melihat Karen yang mengenakan sabuk dilehernya. "Masih kurang sesuatu." Kata Clue.
Clue mengambil sebuah rantai pendek lalu memasangkan ke sabuk Karen. "Tuan, saya seperti anjing jika mengenakan ini." Kata Karen. "Apakah kamu tidak suka." Balas Clue. "Saya suka tuan." Karen tersenyum. "Benar mulai sekarang kamu anjingku *****." Clue tersenyum. "Baik tuan, saya adalah anjing tuan." Karen tersenyum.
Keesokan harinya Clue sedang berada di tepi pantai dengan Karen disampingnya yang sedang bertelanjang dan memakai sabuk berantai di lehernya. Clue kemudian mencium bibir Karen dan meremas ***********. "*****, susumu masih keluar." Kata Clue menghisap ****** Karen. "Ermm, itu karna saya masih produktif tuan." Karen berkata dengan mengerang.
3 jam kemudian Clue mengusap keringat di dahinya dan melihat Karen sedang terbaring dengan lidahnya keluar terengah-engah. "Kamu seperti anjing." Kata Clue. "Hehe, saya memang anjing tuan." balas Karen.
Clue Melihat Karen dan berkata. "Kamu adalah anjingku satu-satunya. Aku akan merawatmu dengan baik." "Terimakasih tuan, saya sangat bahagia" Karen tersenyum bahagia.
Keesokan harinya Clue sedang duduk dan makan bersama Karen disampingnya. "Tuan daging bakar buatan anda sangat enak." Kata Karen memegang sebuah daging bakar dan mengigitnya. "Hoo, itu biasa saja menurutku." Clue memakan daging dengan lahap.