Rebirth With System

Rebirth With System
S4 Kembali Ke Menara



Clue memegang tangan Jennie kemudian menghancurkan token teleportasi. "Teleportasi menuju menara." Badan Clue dan Jennie bersinar kemudian menghilang. Melihat Clue dan Jennie menghilang Steven berkata. "1 tahun yang lalu dia hanya peringkat kaisar, namun sekrang dia mencapai tingkat yang sama dengan demi god. Kecepatannya berkultivasi sangat cepat." Steven menghela nafas.


Clue melihat dirinya berada di ruangan luas dan sosok goblin berjaz hijau tiba-tiba berjalan ke arahnya. "Sudah cukup lama sejak tempat ini kedatangan pengunjung. Ahhh, apakah ini anda tuan kucing." Goblin terkejut melihat Clue.


"Aku ingin menaiki lantai dua." Clue melihat goblin. "Anda bisa langsung menuju lantai 2. Tapi wanita yang anda bawa harus mengikuti ujian terlebih dulu." balas Goblin melihat Jennie. "Baiklah, tapi kamu jangan melakukan hal bodoh seperti dulu." Clue melihat goblin. "Hehe, tentu saja aku tidak akan melakukan hal bodoh tuan kucing." Goblin berkeringat.


"Baiklah, bawa aku ke lantai dua." Clue melihat goblin. Pintu putih kemudian muncul di depan Clue. "Menara ini sangat bagus untuk membantu perkembanganmu Jennie. Jadi selesaikan ujian di setiap lantai dengan cepat." Clue melihat Jennie. "Baik dewa kucing. Jennie akan menyelesaikan ujian di setiap lantai dengan cepat." Jennie mengangguk. "Bagus." Clue lalu masuk ke dalam pintu.


Goblin melihat Jennie dan bergumam. "Tadi dia memanggil kucing itu dewa. Apa jangan-jangan dia sudah menerobos menjadi dewa." "Tidak-tidak, menerobos menjadi dewa membutuhkan waktu yang sangat lama. Bahkan 10 pemimpin keluarga hanya mencapai tingkat setengah dewa." Goblin melihat Jennie dan berkata. "Di usia 32 tahun mencapai tingkat A, tidak buruk."


Saat ini Clue berada di padang rumput dan berkata. "Biarkan aku naik ke lantai 3, jika kamu tidak membiarkanku naik ke lantai 3. Aku akan membunuhmu." Seorang pria kemudian muncul di depan Clue. "Tuan kucing tenangkan amarah anda. Saya akan membiarkan anda naik ke lantai 3." Pria mengusap keringat di dahinya. Melihat pintu bercahaya yang muncul di depannya. Clue berjalan memasuki pintu. Melihat Clue memasuki pintu, pria mengusap keringat di dahinya. "Menara akan kacau sekali lagi."


Clue melihat desa kecil di depannya dan bergumam. "Di lantai ini aku bertemu Elizabeth. Aku ingin tahu bagaimana kabar wanita bodoh itu." Clue tersenyum. "Hei, penjaga lantai 3. Jika kamu tidak menunjukan diri. Aku akan membunuhmu." Tidak lama kemudian Clue melihat wanita yang tiba-tiba muncul di depannya. "Aku ingin naik ke lantai 3." Clue melihat wanita. "Baik tuan kucing." Wanita mengangguk kemudian pintu bercahaya muncul di depan Clue. Clue melihat wanita kemudian berjalan memasuki pintu. "Fiuh, hampir saja aku menyinggung kucing pembunuh itu." Wanita menghela nafas.


1 Hari telah berlalu setelah Clue memasuki menara lagi. Saat ini Clue berada di lantai 40 dan sedang berjalan di tengah kota. "Lihat kucing itu telah kembali." "Menara sekali lagi pasti akan kacau." "Apa kamu ingat rumor 1 tahun lalu, kucing itu menghadapi 5 demi god dan dapat melarikan diri dengan selamat." "Bukan hanya melarikan diri dengan selamat, kucing itu juga mengalahkan 2 dari 5 demigod yang datang menyerangnya." "Apa kucing itu juga demi god." "Itu mungkin saja."


Clue mengabaikan semua obrolan dan berjalan ke arah menara. Clue memasuki menara dan berkata. "Aku ingin naik ke lantai 41." "Baiklah." Balas seorang pria yang sedang duduk di kursi kemudian pintu bercahaya muncul di depan Clue. Clue melihat pria kemudian berjalan memasuki pintu. melihat Clue pergi, pria berkata. "Aku ingin tahu, berapa banyak demi god yang bisa dia kalahkan."


Saat ini di lantai 55, seorang wanita sedang duduk di sebuah restoran kemudian mendengar sebuah obrolan. "Apa kamu tahu, kucing itu telah kembali." "Aku tahu, rumornya saat ini dia sudah ada di lantai 40." "Aku ingin tahu seperti apa reaksi para keluarga besar saat tahu kucing itu kembali." "Tuan kucing, akhirnya kamu kembali." Wanita meneteskan air mata mendengar obrolan semua orang di restoran.


Sementara itu di lantai 95, di sebuah ruangan berkumpul banyak orang. "Pemimpin kucing itu telah kembali." Kata seorang pria. "Aku tahu." Balas pria yang duduk di kursi. "Hubungi keluarga Tang, Allen, Khan dan keluarga Rothschild. Tanya apakah mereka akan membuat gerakan atau tidak." "Baik pemimpin." Balas seorang pria. "1 Tahun telah berlalu, aku yakin kucing itu semakin bertambah kuat." Kata pria dengan ekspresi buruk.


Saat ini di lantai 94, di sebuah ruangan berkumpul banyak orang. "Hubungi keluarga Han, Allen, Khan dan keluarga Rothschild." Kata pria paruh baya melihat semua orang di dalam ruangan. "Baik pemimpin." Balas semua orang. "Jika ingin mengalahkan kucing itu, kita harus membawa lebih 5 demi god." Kata pria paruh baya dengan ekspresi serius.


"Tuan kucing, ayo kita lakukan di tempatku." Elizabeth tersipu melihat Clue. "Setelah 1 tahun tidak bertemu, kamu menjadi pemberani." Clue mengusap rambut Elizabeth. "Hehe, karena aku takut tuan kucing akan meninggalkanku lagi." Elizabeth tersenyum. "Baiklah, ayo pergi ke tempatmu." Clue kemudian teleportasi bersama Elizabeth.


5 menit kemudian Clue dan Elizabeth sedang berciuman di dalam sebuah ruangan. "Elizabeth makan ini." Clue memberikan pil bewarna pink kepada Elizabeth. Elizabeth melihat pil bewarna pink di tangannya kemudian menelannya. "Dewa kucing pil apa itu. Ahh mengapa ada cairan hitam keluar dari tubuhku." Elizabeth terkejut.


"Efek pil itu membersihkan semua kotoran di tubuhmu, jadi pergilah ke kamar mandi. "Baik dewa kucing." Elizabeth kemudian berjalan ke kamar mandi. "perempuan ini tidak berubah sama sekali." Clue tersenyum melihat Elizabeth.


1 Jam kemudian Clue yang sedang duduk mendengar Elizabeth berteriak. "Ahhhh." Dia pasti terkejut dengan perubahan yang terjadi padanya. "Bruakk." Elizabeth membanting pintu kemudian melompat dan memeluk Clue. "Hiks, hiks. Tuan kucing, Elizabeth sangat mencintaimu." "Mengapa kamu menangis, bukankah kamu seharusnya bahagia." Clue melihat Elizabeth. "Aku menangis bahagia tuan kucing." Elizabeth mengusap air matanya. Clue tersenyum kemudian mencium bibir Elizabeth. "Emm." Clue dan Elizabeth mulai berciuman.


2 Jam kemudian Clue melihat Elizabeth yang sedang berbaring di sampingnya. "Tuan kucing, aku ingin tahu apa tingkat kekuatanmu." Elizabeth penasaran. "Tingkatku setengah mahluk suci, atau setara dengan setengah dewa." Balas Clue. "Ahhh." Elizabeth terkejut mendengar kata Clue.


"Kamu tidak perlu khawatir. Aku masih bisa menang meski melawan 10 keluarga besar." Clue mengelus rambut Elizabeth. "Emm, aku yakin dengan kekuatan tuan kucing." Elizabeth mengangguk. "Baiklah, mengapa kita tidak lanjut ronde 2." Clue tersenyum kemudian menarik kaki Elizabeth. "Ahhh." Elizabeth menjerit.


Keesokan harinya. Clue melihat Elizabeth yang sedang tertidur. "Aku pergi." Clue mencium kening Elizabeth. Melihat Elizabeth yang meneteskan air mata Clue berkata. "Setelah aku selesai membunuh mereka semua. Aku janji akan membawamu berkeliling alam semesta." Clue lalu menghilang. Melihat Clue menghilang Elizabeth berkata. "Aku harap kamu tidak berbohong tuan kucing." Elizabeth mengusap air matanya.


Saat ini di lantai 92. Di sebuah ruangan, dua pria sedang mengobrol. "Aku ingin meminta bantuan keluarga Arsyamu untuk membunuh kucing itu. Arsya wiguna." Kata pria berambut kuning panjang melihat pria paruh baya di depannya.


"Thomas, apa perlu sampai 6 keluarga besar bergabung untuk membunuh seekor kucing." Pria paruh baya melihat pria berambut kuning. "Sudah 1 tahun berlalu semenjak pertarungan di lantai 65 terjadi. Aku menebak kucing itu kembali ke planet asalnya dan membawa lebih banyak benda yang dapat menyegel kekuatan demi god." Kata pria berambut kuning.


"Jika yang kamu katakan benar, bukankah kalian mencari mati jika melawan kucing itu." Pria paruh baya melihat pria berambut kuning. "Cepat atau lambat kita semua akan mati jika kucing itu sampai naik ke lantai atas. Jadi kita bertaruh, dan mengumpulkan semua demi god untuk melawannya." Pria berambut kuning melihat pria paruh baya. "Kamu gila Thomas." Pria paruh baya menghela nafas.