
Clue hanya tertawa dan tidak menjawab pertanyaan perempuan. "Benar nak, apa yang kamu ingin tanyakan." Kata Enel kepada Clue. "Dimana letak pegunungan monster terdekat paman. Apakah itu masih jauh dari sini." Kata Clue. "Cukup jauh, butuh 12 jam bagiku untuk sampai ke pegunungan monster terdekat." Balas Enel. "Apakah kamu ingin pergi kesana." Tanya perempuan.
Clue mengangguk. "Ahh, kamu sangat berani." Kata perempuan terkejut. "Jika sebelum satu bulan lalu aku pasti akan berani memasuki pegunungan terdekat. Tapi saat ini monster lebih banyak dan agresif entah itu dikawasan luar dan dalam." Kata perempuan.
"Oh iya paman. Apakah kota di benua selatan seperti di benua barat ada tingkatnya." Clue bertanya sekali lagi. "Benar, kota di benua selatan menjadi dua tingkatan kecil dan besar. Di benua selatan ada setidaknya 50 kota kecil yang ditempati manusia dan elf. Peringkat ahli terkuat di kota tersebut yaitu peringkat A level 5. Yahh, Meski ada beberapa ahli peringkat di atas A level 5 yang berkunjung." Kata Enel. "Lalu ada 5 kota besar yang ditempati banyak ahli di atas peringkat A level 5 dan dijaga oleh ahli peringkat S." Lanjut Enel.
"Apakah monster peringkat A level 6 tidak menyerang kota kecil paman." Kata Clue. "Tidak, jika monster peringkat A level 6 berani menyerang kota kecil maka para ahli akan memusnahkan monster di kawasan luar pegunungan." Kata Enel.
"Oh begitu ya." Kata Clue. "emm, tuan." Syafin yang dari tadi diam mengerang saat Clue tiba-tiba memasukan tangannya ke celana dalamnya. "Uhuk." Enel terbatuk. Sementara perempuan berteriak marah. "Dasar cabul."
"Haha, terimakasih paman aku pergi dulu." Kata Clue lalu berdiri dan berjalan ke pintu. "Tunggu Nak." kata Enel. "Ada apa paman." Clue berbalik. "Jika kamu sabar sampai besok, aku akan mengantarmu ke pegunungan monster. Jika kamu mau, kamu boleh menginap dirumahku." Kata Enel.
"Oh, baiklah kalau begitu paman. Mungkin aku akan merepotkan paman sekali lagi." kata Clue tertawa. "Oh, paman, kamar mana yang bisa aku pakai." Tanya Clue. "Kamar itu dan temanmu kamar disebalahnya." Kata Enel menunjuk dua kamar. "Terimakasih paman, tapi kita hanya butuh satu kamar." Kata Clue lalu masuk ke kamar diikuti Syafin.
Saat Clue dan Syafin memasuki kamar perempuan berkata. "Ayah, kenapa kamu mengizinkan pria aneh dan cabul itu tinggal." Kata perempuan tidak suka. "Nak, meskipun dia aneh dan cabul, mungkin dia lebih kuat dari pada ayah." Kata Enel menghela nafas. "Apa. itu pasti tidak mungkin." perempuan terkejut.
Setelah memasuki kamar Syafin yang berbaring di samping Clue bertanya. "Tuan, kenapa anda melakukan itu. Bukankah itu membuat anda di cap aneh dan cabul." "Aku tidak peduli di cap aneh dan cabul, asalkan perempuan itu menjauh dariku." Kata Clue. Dia takut anak Enel tertarik dan menempel dengannya. Jika anak Enel secantik pelayan dan kekasihnya dia tidak akan masalah. Tapi anak Enel biasa-biasa saja.
Syafin mengangguk dia paham dengan tuannya. Saat di kerajaan Glizzard banyak perempuan yang mengejar-ngejar Clue. Hal itu membuat Clue risih, karena tuannya sangat pilih-pilih dengan perempuan.
"Baiklah kita akan membuat dia berpikiran bahwa aku semakin cabul." Kata Clue lalu memasukan jarinya ke dalam celana dalam Syafin. "ermm." Syafin mengerang saat jari Clue memasuki pussynya.
Sementara itu di luar kamar, Enel dan perempuan mendengar suara Syafin yang mendesah dan terengah-engah. "Sialan, dasar cabul." Kata perempuan lalu memasuki kamarnya. Sementara Enel menghela nafas dan pergi.
3 jam telah berlalu sementara Clue masih berhubungan badan dengan Syafin. "Ibu, Kakak." Kata Perempuan melihat dua orang wanita yang masuk ke dalam rumah. "Oh, nak. Apakah ayahmu sudah pulang." Kata seorang wanita paruh baya. "Sudah bu. Ayah baru saja pergi keluar." Balas perempuan. "Hei Fatma, suara apa itu." kata wanita berumur 30an mendengar suara. "Oh, kalian pasti tahu suara 2 orang saling berhubungan, dan kamar ayah di pakai oleh kedua orang itu." Kata perempuan.
"Ahh, mengapa ayah mengizinkannya." Wanita berumur 30an terkejut. "Shit, mana aku tahu." Perempuan menggeleng. "Baiklah, jika ayah mengizinkan mereka berdua memakai kamar itu, pasti dia mempunyai alasannya." Kata wanita paruh baya.
3 jam lagi telah berlalu dan saat ini Clue sedang berbaring berpelukan dengan Syafin. "Baiklah, kita akan berhenti dulu." Kata Clue. "Baik tuan." Syafin patuh mengangguk. Clue dan Syafin mulai berpakaian lalu keluar dari kamar.
Saat keluar dari kamar Clue melihat 4 orang yang sedang duduk di meja makan. "Oh, apa kalian sudah selesai." Kata perempuan mendengus. "Fatma jangan begitu." Wanita paruh baya menegur. "Baik bu." Fatma menunduk.
"Oh, benar nak Clue dan Syafin, kenalkanlah dia istriku Wati dan anak pertamaku Desi." Kata Enel. "Halo tante saya Clue." Clue menjabat tangan Wati. "Halo." Wati tersenyum membalas jabatan Clue. "Halo Desi nama saya Clue." kata Clue. "Halo, saya Desi." Desi tersenyum.
Sementara Syafin hanya mengangguk kepada Desi dan Wati. Desi dan Wati pun juga mengangguk kepada Syafin. "Baiklah, Clue, Syafin ayo bergabung makan." Kata Enel. Clue dan Syafin mulai duduk lalu mengambil makanan.
Setelah makan Clue mulai memasuki kamar dengan Syafin. Tapi Clue tidak berhubungan badan dengan Syafin melainkan duduk lalu memberikan beberapa pil kepada Syafin. "Ambillah, mungkin itu bisa membuatmu menerobos ke peringkat A level 5." Kata Clue.
Syafin mengambil pil, lalu menelan semua pil dan mulai berkultivasi. Sementara Clue berjalan ke arah jendala dan bergumam. "Hahh, aku rindu bumi."
Setelah beberapa jam berlalu. Syafin membuka matanya kemudian berkata dengan senang. "Terimakasih Tuan. Akhirnya aku menerobos ke peringkat A level 5" Syafin sangat senang karena dia tidak berharap imbalan mengikuti Clue akan sangat cepat. Dia berpikir butuh 1 tahun untuk dapat menerima manfaat dari Clue. Anehnya hanya 1 bulan dia menerima manfaat dari mengikuti Clue. Saat ini rasa hormat dan suka Syafin kepada Clue mulai bertambah.
"Tuan, apakah kita tidak akan melakukan lagi." kata Syafin menghampiri Clue dan menempelkan kedua payudaranya kepada lengan Clue. "Tahanlah, biarkan pussymu rapat kembali terlebih dahulu." kata Clue. "Mungkin tuan tidak tahu, setiap seorang perempuan menerobos, pussy mereka rapat kembali. Meski tidak bisa menjadi perawan." Kata Syafin tersenyum.
Clue mulai mengingat tentang pussy kekasih dan pelayannya yang rapat kembali lalu berkata. "Haha, baiklah kalau begitu. Aku akan membuatmu menjerit." Kata Clue mendorong Syafin ke ranjang. "Ahh tuan." Syafin menjerit bahagia.
"Uhhh. Mereka melakukannya lagi." kata Desi yang sedang berada di kamarnya. "Huh, si cabul itu sangat haus seks." Kata Fatma yang berada di kamarnya. "Sayang, apakah kita juga akan melakukannya." Kata Enel kepada Wati. "Huhh, ingat umur." Dengus Wati.
Keesokan harinya Clue keluar kamar di ikuti Syafin dibelakangnya. "Aneh, mengapa Elf tua itu sedikit lebih cantik." Gumam Fatma dipikirannya. Bukan hanya Fatma saja yang berpikir, bahkan Desi, Enel dan Wati berpikir demikian.
"Paman, apakah kita akan berangkat." Kata Clue. "Baik, ayo kita berangkat." Kata Enel. "Hati-hati ayah." Kata Fatma dan Desi. "hati-hati sayang." kata Wati. "Enel mengangguk lalu meninggalkan rumah diikuti Clue dan Syafin.
Beberapa menit kemudian Clue, Enel dan Syafin meninggalkan kota. "Paman terbang dengan cepat." Kata Clue saat baru saja meninggalkan kota. "Baiklah jika itu maumu. Jangan sampai kamu ketinggalan jejakku." Kata Enel. Dia juga ingin melihat kecepatan Clue dan Syafin, kedua orang yang kekuatannya tidak bisa dia lihat. Enel pun mulai terbang dan melesat jauh. "Aktifkan skill angin level 3." Gumam Clue kemudian tubuhnya diselimuti angin. Clue dan Syafin pun terbang dan mengejar Enel.
Enel terkejut hanya beberapa detik melihat bahwa Clue dan Syafin sudah dibelakangnya. "Aneh, kenapa dia mengaktifkan keterampilan angin. Apa dia tidak bisa mengimbangi kecepatanku tanpa menggunakan keterampilan." Gumam Enel. "Apa dia mempunyai sebuah peralatan yang dapat menyembunyikan kekuatannya." Lanjut Enel.
"Paman terlalu lambat." Kata Clue. Enel pun tersenyum kecut lalu mempercepat terbangnya. Enel pun melihat bahwa Clue dan Syafin tidak menjauh dan hanya berjarak 2 meter darinya.
Setelah beberapa jam Enel melihat Clue tidak kelelahan sama sekali dan bergumam. "Kenapa dia tidak kehabisan mana sama sekali. Apa dia mengkonsumsi sebuah pil" Selama terbang Clue hanya memakan 1 buah pil pemulihan mana dan stamina level 3. Hal itu membuat mana dan stamina Clue kembali penuh. Karena konsumsi mana saat pengunaan skill angin level 3 begitu sedikit.
Beberapa jam kemudian Clue Enel dan Syafin akhirnya tiba di sebuah pegunungan. "kita akhirnya sampai di pegunungan monster." Kata Enel. "Di area mana kalian akan berburu monster." Kata Enel bertanya. "Area inti paman." Balas Clue.
Enel terkejut dengan jawaban Clue lalu berkata. "Clue apa peringkatmu, aku bahkan peringkat A level 3 tidak berani memasuki area inti." "Aku hanya peringkat A level 5 paman."Clue tersenyum. Enel sekali lagi terkejut dengan perkataan Clue dan berkata kepada Syafin "Apakah kamu juga peringkat A level 5." Syafin mengangguk kepada Enel.
Enel menghela nafas dan berkata. "Baiklah, aku akan mengantar kalian sampai perbatasan area dalam. Jika kita terbang dengan kecepatan seperti tadi. Hanya butuh 1 setengah hari untuk sampai." Kata Enel. "Baiklah paman, ayo berangkat." Kata Clue. Clue, Enel dan Syafin pun melesat menuju pegunungan.
1 hari kemudian Clue, Enel dan Syafin akhirnya berhenti di tepi sungai. "Ini sudah memasuki area dalam pegunungan. Kamu tinggal lurus ke arah utara maka 4 hari lagi kamu akan sampai ke area inti pegunungan." Kata Enel. "Baik paman." Balas Clue. "Aku akan meninggalkan terlebih dahulu. Ingat jangan mati dengan mudah." Kata Enel berbalik lalu meninggalkan. Melihat Enel pergi Clue berkata. "Ayo." "baik tuan." Clue dan Syafin melesat ke utara.