
Hay, author bawa karya teman author nih, silahkan mampir 😁
Di sebuah hotel, tepatnya di ruangan khusus yang sudah di pesan.
Enam pemuda sedang melakukan party kecil untuk menghilangkan penat selama satu minggu yang mereka jalani.
Sudah biasa bagi mereka melakukan party seperti ini hanya untuk kesenangan di akhir pekan. Bagi para yang jomblo cukup menghibur, dan bagi yang kantongnya tipis cukup menguntungkan.
"Gam loe udah minum banyak." Celo mengambil gelas ke 6 milik sahabatnya itu yang akan kembali ditenggak isinya.
"Bos gue hebat bray, baru lima gelas kepalanya udah gliyengan."
Plak
Deva memukul tengkuk sahabatnya yang sudah bicara sembarangan.
"Kadang-kadang loe bener juga kalo ngomong." Ucap Deva sambil terkekeh.
"Anjiimm, ngak usah main tangan be*go." Anji mengusap belakang lehernya yang di pukul Deva.
"Gue cabut." Pria bertubuh atletis dan jangkung memilki segudang prestasi yang membuat orang-orang geleng kepala itu undur diri.
"Kemana bos, gue bantu yak, kasihan jalannya sempoyongan gitu." Anji menawarkan diri.
"Ngak.." Pria itu menolak dengan tegas.
Mekipun kepalanya terasa pusing dan tubuhnya sempoyongan tapi kesadaran dirinya masih ada, mekipun sedikit.
"Pak ketu udah tau mabok sok ngak mau di kasih perhatian." Anji mecebikkan bibirnya dan duduk kembali di dekat Deva.
"Berisik loe pada." Ketus Agam yang sejak tadi hanya diam memainkan ponselnya.
Sedangkan Deva hanya cekikikan melihat wajah Anji yang seperti anak di marahi induknya.
Agam Memang terkenal dingin dan pendiam, tapi sekali ngomong nyelekit di hati Anji yang rapuh seperti kerupuk.
Tapi ada yang lebih galak dari si Agam, bahkan lebih sadis kalau sudah marah.
Gamma keluar dari ruangan yang sudah membuatnya kehilangan kesadaran tujuh puluh persen.
Pria itu berjalan sambil memijat keningnya yang mulai berdenyut.
"Arrghh." Gamma mengerang untuk sedikit meredakan rasa sakitnya, tapi hasilnya sama saja tidak berubah.
Di lorong hotel yang sepi, waktu menunjukan pukul 11 malam tapi pemuda itu sudah mabuk. Sungguh pemuda yang tidak bisa di contoh.
Mata yang sudah berkunang-kunang membuat Gamma melihat siluet seseorang yang akan melintas di depannya, hingga saat orang itu melintasi dirinya, tangannya segera mencekal lengan orang itu dengan kuat.
"Shh, Gam. Lepas!" Suara seorang gadis yang kesakitan akibat ulah Gamma yang mencekram tanganya.
"Loe." Gamma tidak banyak bicara, melainkan langsung menarik gadis itu paksa dan kasar untuk mengikutinya.
Gamma mendorong pintu kamarnya keras saat sudah membuka kuncinya, dan melemparkan gadis itu ke ranjang besar dan empuk miliknya dengan paksa.
Bak manusia yang sudah di rasuki iblis, Gamma tidak peduli dengan status mereka yang masih pelajar SMA.
Karena pengaruh minuman alkohol, Gamma sampai membuat anak gadis orang melayani dirinya yang butuh pelampiasan untuk pertama kali.
.
.
Sekolah MANDALA PERTIWI adalah sekolah unggulan di kota.
Semua murid sudah masuk kelas mekipun bel sekolah belum masuk.
Gamma melemparkan tas sekolah nya di bangku samping Dion.
"What's up bro?" Anji memang yang selalu heboh dari pada empat sahabatnya itu.
Jika ketua mereka memiliki sifat dingin, arogan dan temperamen. Maka Agam memiliki sifat dingin dan ketus. Sedangkan Dion sama-sama tidak pendiam tapi pemuda itu sangat perhatian dengan Gamma, dan Deva alias Adeva Sudrajat suka di panggil Deva itu playboy kelas kakap. Tiga hari sekali Deva berganti cewek.
"Loe ada masalah." Dion menaikkan satu alisnya melihat Gamma yang baru saja duduk dengan kedua kaki di atas meja dan kepalanya mendongak bersandar di bahu kursi.
Gamma tidak menjawab melainkan hanya memejamkan mata.
"Gilang ngajak kita war bos." Ucap Deva yang membaca pesan dari salah satu anak buah mereka.
Meskipun memiliki julukan playboy yang melekat, tapi jika berurusan dengan geng, Deva tidak main-main.
"Ck, Ngak kapok apa mereka. Kalah masih sok belagu." Ucap Anji kesal.
Gamma membuka matanya sejenak."Turuti saja apa mau mereka, Black Tiger tidak akan takut." Ucap Gamma yang mendapat anggukan dari empat sahabatnya.
Black Tiger adalah generasi ke tiga yang sekarang diketuai Gamma sekarang. Mereka akan melakukan kerusuhan sebagai anak-anak muda yang memiliki potensi mencari jati diri. Jati diri membuat onar dan keributan.
Sedangkan di kelas yang berbeda, seorang gadis baru saja tiba dengan wajah pucat nya.
"Tes, are you oke."
Gadis itu hanya tersenyum tipis.
.
.
.
Siapa yang tidak kenal dengan Gamma Satya Sedayu. Pria paling tampan dan populer di sekolah dan juga idaman kaum gadis di Mandala Pertiwi.
Gamma terkenal dengan ketampanan dan segudang prestasi yang mampu membuat gurunya geleng kepala.
Berantem adalah hobinya, berteriak adalah ciri khasnya. Sampai-sampai Gamma pernah mendapat skorsing lantaran membuat salah satu guru pingsan karena ulahnya yang brandal.
Siapa yang tidak kenal dengan keluarga Sedayu semua kalangan pembisnis pasti kenal. Hanya saja mereka tidak tahu siapa Gamma Satya Sedayu karena pemuda itu tidak pernah membawa nama belakang nya. Gamma memilih menjadi dirinya sendiri yang tidak ingin di atur ataupun di kekang. Oleh karena itu dirinya suka bertengkar dengan papanya lantaran banyak tuntutan. Bukan hanya itu Gamma juga menjadi bahan perbandingan dengan kakaknya, dan hal itu yang membuat Gamma suka berontak ketika papanya memberinya nasehat.
"Mau jadi apa kamu! lihat dan contoh kakak kamu, dia masih muda tapi sudah pintar menjalankan bisnis, lalu kamu? hanya menjadi sampah masyarakat!"
Brak
Sebuah kursi terjengkang kebelakang, membuat semua yang di meja makan terkejut, bahkan pria yang bicara sampai melotot tajam sangking terkejutnya melihat kelakuan anak keduanya itu.
"Ngak butuh ceramah." Gamma menatap papanya dingin, pemuda itu memilih pergi dengan seragam sekolah nya yang belum rapih. Kancing baju terbuka, dasi di ikat di tangan. Itulah gaya urakan Gamma yang selalu menarik perhatian para gadis.
"Mau jadi apa anak pembangkang itu." Rudi Sedayu memijat keningnya yang terasa pusing setelah melihat kelakuan Gamma.
"Sudah lah Mas, dia masih 17 tahun belum bisa memikirkan hal lain, biarkan di mencari jati dirinya." Sang ratu menenangkan raja yang baru saja habis kesabaran. Mentari hanya bisa membuat suaminya tenang. Dirinya hanya tidak habis pikir, menurun dari siapa keras kepala Gamma itu.
"Gara berangkat Mah, Pah."
Sagara yang sejak tadi diam kini undur diri. Sagara Bayu Sedayu itu adalah kakak Gamma Satya Sedayu. Pria 25 tahun yang sudah memimpin anak cabang perusahaan. Sagara memang berbeda jauh dari Gamma. Karena yang terlahir dari satu rahim pun bisa memiliki watak dan sifat yang berbeda.
Gamma mengendari motornya dengan kecepatan penuh, padahal hari masih cukup pagi bagi seorang Gamma yang suka telat. Telinganya sudah tidak betah jika harus mendengarkan ocehan perbandingan yang selalu papanya ucapkan.
"Mungkin gue anak tiri." Pikir Gamma.
Tapi sialnya, kenapa wajahnya sangat mirip dengan pria yang suka membandingkan dirinya itu, membuat nya mengumpat kesal.
Dari pandangan yang cukup jauh, Gamma bisa melihat siapa gadis yang duduk di halte pinggir jalan itu. Matanya langsung menyorot tajam saat melihat sebuah motor berhenti di depan gadis itu.
"Kecoak lacnut." Umpatnya dengan menambah kecepatan.
Tttiiiiinnnnnn!!!!!
Bunyi klakson motor yang nyaring membuat atensi orang-orang sekitar menatap pengendara yang baru saja menganggu telinga mereka, kebanyakan semua menyumpah serapah pemuda yang urakan itu.
"Naik!" Perintah Gamma tanpa melirik gadis itu, melainkan menatap tajam pemuda yang masih duduk santai di atas motor besarnya juga.
Gadis itu hanya diam mematung melihat dua pemuda yang berbeda sekolah saling tatap, seolah mereka sedang adu ilmu kanuragan unjuk kekuatan.
Karena merasa tidak ada yang naik di atas motor nya, akhirnya matanya menyorot tajam gadis yang masih diam di tempat nya itu.
"Tesla Terakota!! loe bu*deg!!"