
Begitu cepat waktu berlalu hingga saat ini usia Leo sudah memasuki 28 tahun. Setelah melewati begitu banyak perjalanan hidup, dia sudah tumbuh menjadi pria yang hebat.
Banyak hal yang sudah dilewatinya saat ini dan hingga saat ini belum ada wanita yang bisa menarik hatinya.
Hari ini, Leo baru saja kembali ke negara kelahiran yang setelah melewati begitu banyak hal di Boston Amerika.
Entah mengapa, Boston daripada untuk tinggal di negara kelahirannya sendiri karena menurutnya membangun bisnis di negara luar lebih menantang daripada harus duduk di kursi yang sudah disediakan. Leo lebih menyukai tantangan dan mencari kursinya sendiri daripada harus duduk di tempat yang sudah disediakan.
"Dimana mereka? kenapa belum ada di sini?" Leo duduk di kursi tunggu karena dia sedang menghubungi seseorang untuk menjemputnya hari ini.
"Halo, di mana kau Claudia? aku sudah turun dari pesawat namun aku tidak melihat mobilmu di sini." ucap Leo ketika sambungan teleponnya tersambung.
"Coba keluar Leo, tidak ada mobil yang bisa masuk ke dalam bandara kecuali memang petugas di lapangan landas. Lagi pula kamu ini aneh-aneh saja," jawab Claudia hingga membuat Leo langsung berdiri dari tempat duduknya dan mencari mobil Claudia yang berada di luar.
Ketika tak jauh darinya membuat Leo langsung pergi menghampiri mobil tersebut dan benar saja, ketika dia membuka pintu mobilnya dia sudah melihat bahwa ada wanita yang menyebalkan di sana.
Wajahnya tetap sama menyebalkan karena selama ini Leo hanya berteman dengannya saja dan tidak berteman dengan siapapun lagi. Bahkan dia juga sudah lupa bagaimana wajah Joe temannya yang bro kulit hitam itu.
"Selamat datang kembali tuan muda Leonard yang terhormat," sapa Claudia ketika melihat bahwa pria yang hidungnya sejak tadi sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Apa kau tau Claudia bahwa kau itu sangat menyebalkan?"
"Tidak, para pria selalu memujiku. Hanya saja ya mereka para wanita selalu mengejekku darah tinggi badanku yang tidak sampai 160 ini." jawab Claudia apa adanya karena memang seperti itulah kenyataannya.
Banyak para pria di luar sana yang memujinya namun banyak juga para wanita yang membencinya dan mengejeknya hanya karena tinggi badannya yang tidak sesuai dengan standar.
"Aku sudah mengatakan padamu bahwa kau itu cantik apa adanya. Kau memiliki sisi yang tidak dimiliki banyak orang dan kau harus bangga dengan itu. Jangan pernah memikirkan apa yang orang katakan tentangmu karena itu tidak berpengaruh apapun bagi hidupmu." ujar Leo karena dia paling membenci yang namanya seseorang menghina fisik orang lain tanpa melihat dirinya sendiri adakah kekurangan atau tidak dalam dirinya.
"Sudahlah, lalu ke mana kita akan pergi?" tanya Claudia pada teman baiknya ini.
"Antarkan aku ke perusahaan sebentar karena ada yang ingin aku temui di sana."
"Siapa? apa itu Joe?" tanya Claudia dan Leo membenarkan apa yang temannya katakan karena memang dia ingin menemui Joe.
"Baik jika seperti itu." keduanya kembali diam dan fokus ada perjalanan mereka sampai tiba-tiba saja Leo merebut ponsel milik Claudia.
"Siapa ini?" tanya leo pada Claudia ketika dia melihat bahwa wanita itu sedang berbalas pesan dengan seorang pria.
"Dia teman kampus dulu dan dia mengundangku untuk datang ke acara pertunangan yang bersama kekasihnya."
"Lalu kenapa kau mengatakan bahwa kau sibuk dan tidak bisa datang ke acara pertunangannya?" yang terus aja fokus pada ponsel milik Claudia saat ini.
"Kau harus datang dan aku akan menemani kamu. Aku juga sudah lama tidak datang ke tempat ini jadi aku penasaran apa yang banyak berubah dari tempat ini setelah 10 tahun lamanya aku tinggalkan."
"Kau terlalu sibuk bekerja tuan Boston, bahkan nada bicaramu saat ini sudah tidak seperti orang Eropa lagi." sindir Claudia karena memang seperti itulah yang terjadi sebenarnya.
"Sudahlah, sekarang ayo turun." ajak Leo pada Claudia yang membawa wanita itu masuk ke dalam perusahaannya.
Hap!
"Hey!" teriak Leo ketika tiba-tiba saja Claudia naik ke punggungnya seperti saat dulu mereka sering melakukannya.
"Usah lama kau tidak menggendongku, jadi ayo lakukan lagi sekarang."
"Cih, kau ini tetap sama saja. Seperti bocah yang meminta gendong pada kakaknya." Leo sengaja menyindir Claudia yang selalu saja meminta gendong padanya.
Sementara yang di sindir hanya biasa saja seolah tidak ada yang terjadi apapun saat ini.
Dia tetap naik di punggung Leo dan berada di dalam posisi nyamannya saat ini.
"Kamu harus sadar bahwa aku jauh lebih tua setahun darimu. Usiaku saat ini 29 tahun, jadi jangan bersikap tidak sopan begitu padaku, kau harus ingat itu!"
"Selalu saja begini." jawab Leo yang selalu saja merasa kesal setiap kali dia di ingatkan oleh usia di antara mereka.
Claudia memang jauh lebih tua setahun di bandingkan Leo sendiri. Walau begitu, Leo tetap menggendong Claudia untuk masuk ke dalam perusahaan tanpa memikirkan apa yang mereka bicarakan saat ini.
Saat Leo hendak memasuki lift menuju ruangan kerja sang Daddy, dia bertemu dengan seorang wanita yang sangat di kenalinya. Wanita itu adalah Jasmine yang saat ini sudah bekerja dengan pakaian yang rapi dan itu artinya saat ini dia sudah tidak lagi bekerja sebagai pegawai kantin, tapi sudah menjadi sekertaris atau bekerja di bidang lainnya mungkin.
"Ah, permisi ya. Maaf, jika temanku ini menghalangi jalan kamu." ucap Claudia dengan begitu polosnya tanpa mengetahui apa yang terjadi di antara kedua orang itu.
"Maaf," Jasmine langsung menyingkir dari hadapan kedua anak manusia yang terlihat sedang berbahagia saat ini.
Dia mengingat dengan jelas saat dimana Leo terlihat begitu perhatian pada wanita yang berada di gendongannya saat ini.
Entah mengapa mengingat itu semua membuat Jasmine seperti kembali merasakan apa yang pernah di rasakan olehnya dulu saat pertama kali dia minat kejadian malam itu.
"Dia cantik ya Leo," ujar Claudia pada temannya itu ketika melihat kecantikan wanita yang berpakaian rapi tadi.
"Tidak lebih cantik dari mu Claudia. Kau tetap lebih cantik dari pada dirinya jadi berhenti mengatakan wanita lain cantik karena bagiku kau lebih cantik dari wanita manapun."
"Aghhkk...Kenapa menggigitku?" pekik Leo ketika merasakan sakit yang luar biasa di punggungnya.
"Agar kau sadar bahwa di luar sana banyak yang jauh lebih cantik dari aku."
"Tapi sayangnya aku tidak peduli!"