
Leo datang ke dalam kamar istrinya dan melihat Jasmine yang sedang berhadiah di atas tempat tidur. Dia kembali membungkus tubuhnya dengan selimut karena dia merasa malu dengan apa yang mereka hadapi adalah. Keluarga mereka berpikir bahwa mereka telah melakukan hal itu padahal yang terjadi sebenarnya tidak. Mereka belum melakukan hal itu Jasmine belum siap dan Leo yang tidak memaksakan kehendaknya.
"Kenapa berada di atas tempat tidur saat masih pagi? seharusnya kamu berolahraga di luar atau membantu ibu memasak dan membereskan rumah. Lalu apa yang kau kerjakan saat ini?" tanah Leo pada istrinya yang terlihat diam saja di atas tempat tidur. Karena merasa kesal tidak ada jawaban dari Jasmine, akhirnya Leo datang menghampiri wanita itu dan melihat apa yang terjadi sebenarnya.
"Hey, kenapa diam saja?" Leo kembali bertanya karena Jasmine tidak menjawab apapun pertanyaan darinya.
"Aku malu, mereka berpikir kita telah melakukan hal itu. Mereka bapak mendengar apa yang kita lakukan tadi malam. Ibu dan mama berpikir bahwa tadi malam kita melakukannya padahal yang terjadi sebenarnya tidak. Tapi kenapa mereka tidak percaya?" Leo hanya bisa mendesah pasrah saja mendengar apa yang Jasmine katakan. Menjelaskannya percuma saja karena keluarganya tidak akan percaya dengan apa yang mereka katakan.
"Sudahlah, jangan membiarkan apa yang orang tua itu katakan. Sekarang ayo bangun dan kita akan pergi ke tempat di mana kita harus pergi. Aku akan membawamu pergi menemui seseorang untuk membuat ruangan ini kedap suara agar nantinya tidak terjadi lagi hal seperti ini." Jasmine menganggukkan kepalanya dan dia menerima uluran tangan dari Leo untuk membantunya bangkit dari atas tempat tidur. Leo juga memiliki dan memberikan kecupan di puncak kepalanya agar wanita itu tidak lagi memikirkan hal yang tidak seharusnya mereka pikirkan.
"Sudah, jangan terus memikirkan hal-hal seperti itu. Sekarang ayo bersiap kita akan pergi." ajak Leo pada Jasmine dan akhirnya mereka pun pergi. Dia mencoba untuk memahami istrinya karena memang ini yang pertama baginya jadi wajar saja jika dia masih merasa tidak nyaman dengan keadaan mereka sekarang.
"Rumahnya jangan di robohkan, nanti ibu marah. Aku pernah di pukul pakai sapu karena memecahkan gelas dan sejak saat itu aku tidak pernah mencuci piring lagi. Ibu selalu mengatakan jika tanganku ini tangan penghancur jadi aku tidak diperbolehkan ibu lagi untuk memegang apapun barang-barang yang ada di rumah ini bahkan mempercepatkan saja pun aku tidak. Jadi jika ingin merenovasi rumah ini jangan merobohkannya secara langsung. Kamu bisa di lempar spatulanya nanti." jelas Jasmine yang membuat Leo ingin tertawa, tapi dia tidak bisa melakukannya karena memikirkan perasaan Jasmine.
"His, uangku ada. Ibu untuk menabung uangku dan dia masih ada uang tabungannya selama jualan. Mobil saja aku ingin membelinya secara cash tapi ibu melarangnya karena dia bilang jika aku membeli mobil secara cash, maka setelahnya aku akan jatuh miskin. Jadi ibu bilang lebih baik membeli mobil cara kredit saja. Jadi aku memiliki uang tabungan untuk kehidupan kami berdua." jelas Jasmine pada suaminya.
"Sudahlah, ayo berangkat. Ibu itu takut jatuh miskin padahal kalian sudah miskin sejak dulu. Lagi pula aku ini kaya, jadi jangan takut jika kalian jatuh miskin."
Plak!
"Auhh..." Leo merasa kesakitan ketika mendapatkan pukulan dari Jasmine.
"Katakan itu pada ibu jika kamu berani, agar kamu tau seberapa dasyatnya spatula terbang ibu atau sapi keramat miliknya!"