One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
S2. Terwujud



Beberapa banyak hal yang telah berubah di perusahaan ini. Tidak hanya itu saja, ketika dia mengatakan pada Daddy-nya untuk membuat kantin di perusahaan mereka agar membantu dan memudahkan para karyawan untuk makan, saat itu juga Leon memerintahkan pada orang-orang yang untuk membuat kantin karyawan dan kini semua terbukti.


Leo yang berjalan bersama dengan Joe untuk pergi ke kantin pun terus berbicara tentang ini dan itu karena memang Leo benar-benar merasa nyaman berteman dengan laki-laki berkulit hitam tersebut.


Tidak sedikitpun beliau merasa risih dan terganggu akan kehadiran Joe di dekatnya. Terserah pada mereka ingin mengatakan apa di luar saya tapi yang pasti Leo benar-benar nyaman berteman dengan Joe.


"Kau yakin bahwa petugas kebersihan seperti kita ini boleh makan di kantin perusahaan?" tanya Joe pada teman barunya itu. Mereka berdua terus saja berjalan dan mengantri di barisan untuk mendapatkan makan siang.


"Sudah, jangan banyak bicara karena kita akan makan. Kau bisa makan sepuasnya di sini dan nanti kita akan mencurinya untuk kau bawa pulang." bisik Leo pada temannya itu. Dia sudah merencanakan hal gila untuk Joe karena memang dia ingin membantu pria berkulit hitam tersebut.


"Astaga, jangan berbuat ulah Leo jika tidak ingin kehilangan pekerjaan di sini. Kita harus benar-benar bekerja di sini jadi jangan membuat ulah yang bisa membuat kita menjadi gelandangan di pinggir jalan." Leo hanya tertawa saja mendengar apa yang Joe katakan padanya karena menurutnya itu lucu sekali.


Jelas lucu karena Joe mengatakan bahwa dirinya bisa menjadi gelandangan jika tidak bekerja di sini. Inilah alasan kenapa Leo nyaman berteman dengan Joe. Selain dia polos, dia juga tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya dan menurutnya itu biasa saja.


"Terserah kau saja." mereka berdua sudah dekat dengan barisan makanan, namun tiba-tiba saja ada yang menyalip barisan mereka hingga membuatnya dan Joe harus mundur lagi karena pria itu yang lebih dulu mengambil makanan.


"Tidak kah kau tau bahwa semua yang ada di sini itu mengantri?" tanya Leo yang mulai kesal dengan pria ini lagi.


Beberapa hari yang lalu dia membuat kegaduhan dengan membully Joe, lalu ini kembali dilakukannya pada Joe lagi ketika hendak mengambil makanan.


"Leo, please, aku baik-baik saja." ucap Joe yang tidak ingin terlibat masala apapun dengan mereka yang memakai jas lengkap seperti ini.


"Dia kembali berbuat ulah Joe. Seharusnya dia bisa mengantri di belakang kita dan dia juga tidak akan kehabisan makanannya jika mengantri. Aku yakin jika perusaan sudah menyiapkan banyak porsi untuk kita." ucap Leo karena memang itu yang di ketahui olehnya.


Daddy-nya tidak akan mungkin membuat kantin karyawan seperti ini jika tidak dengan perhitungan yang matang, jadi Leo yakin jika ini semua pasti berlebih.


"Aku manager di sini dan dua hari lagi aku akan di angkat menjadi General Manager. Kalian harus patuh terhadapku!" ucap pria itu dengan begitu sombongnya sementara Leo hanya tersenyum saja.


Pria sombong itu langsung penampilan Leo dan dia melihat bahwa sepatu yang di pakainya saat ini memang kalah mahal dari apa yang di pakai Leo.


Jordan Air x Dior, itu adalah salah satu sepatu keluaran edisi terbatas dan harganya bisa menembus lebih dari seratus juta jika memang memungkinkan.


"Tidak perlu kaget karena ini belum seberapa karena tunggu saja 2 sampai 3 tahun lagi jika memang kau masih bertahan di perusahaan ini. Aku akan menunjukan padamu bahwa kau tidak di butuhkan di perusahaan ini lagi dan lihat wajahku baik-baik saat ini, karena aku akan pastikan pada mu bahwa suatu saat nanti, wajah yang kau tatap saat ini akan menjadi bumerang bagimu di masa depan. Aku bersumpah untuk itu." Leo langsung mengajak Joe untuk mengambil makanan mereka dan meninggalkan pria sombong itu.


Sementara Leon yang melihat tingkah laku putranya yang seperti itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Leo yang meminta yang pada sendiri padanya untuk bekerja di bagian kebersihan karena dia tidak ingin orang-orang mengetahui bahwa dia adalah anak dari pemilik perusahaan. Lalu apa yang dipakainya saat ini? beliau adalah kolektor sepatu sepatu langka seperti itu dan begitu banyak sneaker yang berada di dalam kamarnya.


Jadi jangan salahkan dia jika dia aku memakai salah satu dari banyaknya sepatu mahal yang dimilikinya.


"Bagaimana ini tuan? anak anda terus saja terlibat perselisihan dengan manager pemasaran itu. Aku tidak kau harus melakukan apa karena menurutku kinerja manajer tersebut bagus. Tapi semua itu kembali lagi pada anda yang memiliki perusahaan ini." ucap asisten Leon yang merasa tidak tenang semenjak kehadiran putra sang pemilik perusahaan yang ikut bekerja di tempat mereka bekerja.


"Biarkan saja dia melakukan apa yang diinginkannya asal itu masuk akal. Pantau terus apa yang dikerjakan putraku dan jangan pernah berani mendekat ke arahnya. Biarkan dia menyelesaikan semua masalahnya sendirian dan jangan pernah berani-beraninya ikut campur dalam urusannya. Sekarang ayo makan, aku juga ingin mencoba bagaimana rasanya makan di kantin perusaan. Aku ingin tau apakah ini layak untuk di makan atau tidak." ajak Leon pada asisten dan sekretarisnya untuk makan siang di kantin perusahaan yang baru ini di buka.


Bisik-bisik mulai terdengar saat sang CEO beserta jajarannya ikut makan bersama mereka di kantin perusahaan dan Leo mencoba untuk mengabaikannya karena dia tidak ingin terlibat apapun dengan sang Daddy.


Dia hanya fokus pada makanannya saat ini, sedangkan Joe sendiri sudah ketakutan setengah mati ketika mengetahui bahwa bos besar ikut makan di tempat ini bersama mereka semua.


"Jangan lihat ke arah mereka karena itu akan membuatmu semakin gugup. Jadi biasa saja dan bersikap seolah hanya ada kita berdua saja di tempat ini." ucap Leo dengan sengaja mengejek Daddy-nya dan itu membuat Leon langsung menusukkan garpunya ke bagian dada ayam yang sudah berada di atas piringnya.


Tak!


Joe semakin ketakutan ketika mendengar suara garpu dan piring batu yang berlaga hingga membuat mereka yang berada di sekelilingnya mulai merasa ketakutan dan tidak nyaman untuk makan.


Banyak hal dan spekulasi yang terjadi disini karena ulah Leon yang sengaja melakukan hal itu agar putranya itu tau, bahwa dia mengerti maksud dari apa yang Leo katakan.