
Leon yang sudah pulang lebih dulu dari nganterin dia saatnya telah menunggu putranya yang belum juga pulang ke rumah.
Tadi, saat di kantor dia mendapatkan kabar dari asistennya bahwa beliau terlibat percetakan dengan manajer pemasaran yang membuat Leon tersenyum untuk itu.
"Leo?" panggil Leon ketika melihat putranya yang baru saja pulang dari kantornya.
Mendengar panggilan dari Daddy-nya membuat Leo langsung menghampiri pria yang sudah menunggunya sejak tadi di sana.
"Yes, dad?" jawab Leo yang ikut duduk bersama dengan Daddy-nya.
"Ada apa di kantor tadi? kenapa ribut di kantor?" tanya Leon mulai penasaran dengan apa yang terjadi di kantor yang tadi dan dia tahu bahwa putranya tidak akan berubah jika tidak diganggu lebih dulu.
beliau bukan anak orang kaya yang memanfaatkan apa yang dimiliki orang tuanya karena dia sudah belajar mandiri sejak kecil. Apalagi sejak kecil Leo sangat menyukai yang berhubungan dengan dunia komputer jadi sudah tidak heran lagi jika dia bisa melakukan banyak hal yang belum tentu bisa dilakukan anak seusianya dulu.
Seperti saat ini, bahkan Leo tidak malu sama sekali bekerja di bagian kebersihan.
"Manager pemasaran, Darius itu terlalu sombong. Tidak seharusnya dia melakukan hal seperti itu pada Joe. Bukan hanya itu saja Dad, banyak dari mereka mengucilkan Joe karena kulit hitamnya. Dia seorang anak sebatang kara dan tidak memiliki siapapun di sini. Lalu, bagaimana bisa mereka banyak yang mengucilkannya hanya karena perbedaan warna kulitnya saja?"
"Apa kamu senang berteman dengannya?" tanya Leon pada Leo yang terlihat begitu santai dan nyaman berteman dengan Joe.
"Bisakah kita membuat kantin gratis untuk karyawan?" Leon menatap ke arah putranya yang tiba-tiba saja mengatakan ingin membangun kantin untuk karyawan.
"Leo baru pulang kerja dan dia mau mintaku untuk membuatkan kantin di perusahaan untuk para karyawan hanya karena satu orang teman barunya. Bahkan begitu Leo?"
"Ya, minta untuk Joe. Apa mama dan Daddy tau jika dia hanya makan sehari sekali di saat akhir bulan seperti ini sampai dia mendapatkan gaji?" tanya Leo pada kedua orang tuanya karena memang itulah yang diceritakan jauh padanya tadi dia harus berhemat sampai dia kembali mendapatkan uang dan uang yang didapatkannya dari hasil bekerja keras selama sebulan akan dikelolanya untuk membayar semua yang harus dibayar olehnya.
"Oh ya? apa sampai seperti itu?" tanya Alicia yang terkecil dengan apa yang putranya katakan jika memang temannya itu hanya makan sehari sekali demi bisa menghemat uangnya sampai akhir bulan itu berarti sangat luar biasa sekali.
"Ya, bahkan tempat tinggalnya itu sangat menyedihkan sekali Ma. Bisa Leo membantunya untuk mencari tempat tinggal baru? setidaknya layak untuk di huni olehnya." ujar Leo yang membuat Leon semakin bangga dengan putranya ini.
Leon benar-benar percaya bahwa putranya ini bisa memimpin perusahaannya dengan baik dan dia tidak pernah memandang seseorang dengan kasta. Leo seorang anak orang kaya dan dia bisa melakukan apapun yang diinginkannya dengan apa yang dimilikinya saat ini. Tapi tidak sekalipun Leo pernah mengecewakan mereka. Malah yang ada Leo selalu memberikan mereka kebanggaan yang luar biasa walau diiringi dengan tingkah laku konyolnya itu. Setidaknya Leon dan Alicia tahu bahwa putranya tidak akan pernah menyakiti hati siapapun jika tidak disakiti lebih dulu.
"Kita akan bicarakan ini lagi nanti dan kamu bisa membersihkan diri sebelum makan malam. Mama dan Daddy akan menunggu kamu sayang." Leo pun pamit pada kedua orang tuanya untuk pergi membersihkan dirinya di dalam kamar.
Sedangkan sepasang suami istri setelah membicarakan perubahan putranya yang sangat luar biasa. Terutama keon sendiri, dia benar-benar merasa bangga dengan apa yang Leo kerjakan.
Setidaknya dia tau, bahwa putranya itu bisa menjadi pemimpin yang hebat untuk semua orang yang berenang di bawah perusahaannya.
"Apa Leo bekerja di bagian kebersihan?" Alicia bertanya pada suaminya dan Leon menjawabnya dengan sebuah anggukan kepalanya dan itu berarti bahwa Leo memang benar-benar bekerja di bagian kebersihan.
"Aku tidak menyuruhnya, tapi dia sendiri yang memilihnya jadi biarkan saja dia dengan dunia belajarnya saat ini. sebagai orang tua kita hanya bisa memantau apa yang di lakukannya. Selagi itu benar, biarkan saja. Tapi jika itu salah, maka kewajiban kita untuk menyadarkannya bahwa jalan yang di pilihnya itu salah." ujar Leon pada sang istri.