
Leon dan Alicia langsung datang ke kampus tempat di mana putra mereka menempuh pendidikannya ketika mendapatkan kabar bahwa Leo telah memukul temannya hingga masuk rumah sakit. Entah apa yang dilakukan putranya tetapi yang pasti Leon benar-benar tidak percaya jika Leo bisa melakukan hal seperti itu.
Begitu juga dengan Alicia, dia percaya bahwa putranya tidak akan melakukan hal itu jika tidak dimulai lebih dulu. Pasti ada hal yang membuat Leo sampai lupa diri dan lepas kontrol hingga berakhir dengan pemukulan.
"Tenang sayang, percaya padaku bahwa putra kita baik-baik saja. Leo bukan anak yang lemah dia bukan anak yang jahat pula. Aku yakin jika mereka yang memulai ini semua lebih dulu." ucap Leon yang berusaha untuk menenangkan istrinya.
Sedangkan Alicia sendiri, dia merasa tidak tenang saat ini karena apa karena dia memikirkan putranya.
"Tapi bagaimana jika sampai Leo-"
"Aku saya akan membiarkan siapapun berani melukai putraku. Leo tidak bersalah dan aku yakin untuk itu." timpal Leon.
Tak lama, mereka sudah sampai di kampus tempat di mana Leo belajar dan mereka langsung mencari ruangan rektor.
Saat mereka masuk ke dalam ruangan itu, mereka sudah melihat Leo yang terlihat sangat santai duduk di tempat duduknya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Dari apa yang mereka lihat saat ini mereka semakin yakin jika Leo tidak bersalah sama sekali dan itu terlihat jelas dari bagaimana Leo menghadapinya saat ini.
"Apa anda orang tua dari mahasiswa kami?" tanya rektor pada Leon ketika dia melihat bahwa ada sepasang suami istri yang datang ke ruangan kerjanya saat ini dan dia menduga bahwa itu adalah orang tua dari Leo.
"Saya orang tua dari Leo." jawab Leon yang langsung berjabat tangan dengan rektor tersebut dan duduk di sana sementara Alicia berdiri di dekat putranya dan melihat keadaan putranya saat ini dan Alicia sangat bersyukur karena dia tidak melihat ada luka sedikitpun di tubuh putranya.
"Begini tuan, dari berita yang kami dapatkan dari para mahasiswa yang melihatnya putra anda melakukan tindakan kekerasan pada Hudson. Bahkan saat ini korban dari kekerasan putra anda sedang berada di rumah sakit karena tulang hidungnya patah akibat pemukulan itu." ucap rektor tadi menjelaskan pada Leon tentang apa yang terjadi pada anaknya.
"Anda bisa mengatakan hal seperti ini padaku apa Anda sudah mengetahui apa penyebab dari tindakan kekerasan yang anda katakan ini? apa Anda sudah mempertanyakan hal itu pada putraku lebih dulu sebelum memvonisnya sebagai tersangka dari pemukulan ini? jika memang putraku yang melakukan kekerasan ini maka aku sendiri yang akan memberinya hukuman. Aku sendiri yang akan membalaskan setiap pukulan yang diterima korbannya." ucap Leon dengan tegas karena dia percaya bahwa putranya tidak salah sama sekali.
"Percuma bicara dengan mereka karena mereka tidak akan mau mendengarnya Dad," jawab Leo pada daddy-nya karena memang itu yang terjadi saat ini.
"Apa maksud kamu Leo?" tanya Leon ketika mendengar apa yang putranya katakan.
"Hudson adalah anak salah satu pemegang saham terbesar di universitas ini. Dia juga donatur tetap dari universitas ini jadi mereka tidak akan mungkin menyalahkan karena mereka tidak ingin mengambil resiko untuk hal itu." jawab Leo pada daddy-nya hingga membuat rektor tadi merasa mulai tersudut dengan semua ini.
Dia baru mengetahui bahwa Leo ini adalah anaknya Leonardo Casio, salah satu pemilik perusahaan di bidang perhotelan dan pemilik beberapa gerai market place terbesar di Berlin.
Astaga, memikirkan hal seperti ini aja rektor universitas ini merasa pusing karena dia juga tidak mungkin berhadapan langsung dengan Leonardo ini.
"Baik jika begitu, mari kita bicarakan semuanya dengan kekeluargaan. Kita akan berkunjung ke rumah sakit untuk membicarakan hal ini dengan keluarga Hudson. Mereka pasti akan mengerti dengan keadaan ini." ucap rektor universitasnya karena memang dia berpikir bahwa ini jalan-jalan terbaik untuk mereka semua.
Dia juga memikirkan posisi dan masa depannya juga. Ayahnya Hudson dan daddy-nya Leo ini sangat berbahaya, jadi tidak mungkin dia melakukan semua ini.
"Ini membosankan!" Leo langsung meninggalkan ruangan ini karena menurutnya percuma saja mereka bicara dengan orang yang takut akan kekuasaan dari seseorang seperti ini.
Rektor tempat dimana Leo menempuh pendidikannya saat ini takut dengan ayahnya Hudson yang memiliki power di tempat dia belajar saat ini jadi Leo malas berhubungan dengannya lagi.
Dia memilih keluar dari ruangan itu karena menurutnya percuma saja bicara dengan mereka semua.
Leo pergi ke cafe untuk menghilangkan rasa penatnya, sampai dia tidak sadar jika dia sudah menghabiskan banyak waktu di cafe tersebut dan entah berapa lama dia di sana sampai dia baru sadar jika hari sudah malam.
"Kemana aku harus pergi? apa aku harus menginap di rumah Joe? tapi tidak mungkin." ucapnya lagi yang hendak masuk ke mobilnya namun dia kembali bertemu dengan Jasmine yang terlihat sedang membeli kopi di tempat ini.
Leo hendak meninggalkan tempat ini, namun Jasmine yang lebih dulu melewatinya begitu saja karena dia juga tidak ingin bertemu dengan pria sombong itu.
Jasmine pura-pura seolah dia tidak melihat beliau sama sekali dan melewatinya begitu saja. Sedangkan Leo sendiri pun melakukan hal yang sama karena dia merasa tidak peduli dengan semua ini.
"Apa dia pikir hanya dia yang bisa melakukan hal itu padaku? aku juga bisa melakukan hal yang sama dengannya. Jangan dia pikir aku akan menegurnya lebih dulu." ucap Jasmine setelah dia berhasil melewati Leo. Sementara Leo sendiri juga masuk ke dalam mobilnya dan melewati wanita yang berjalan itu begitu saja.
Bahkan angin menerpa tubuh Jasmine hingga membuat rambutnya berantakan karena ulah mobil milik Leo tadi.
"Sial! dia sengaja melakukan hal itu padaku agar aku tahu bahwa dia juga bisa melakukan hal yang lebih dari apa yang aku lakukan terhadapnya." gerutu Jasmine ketika mobil Leo sudah melewatinya.
Sedangkan Leo sendiri, dia lebih memilih untuk menginap di hotel daripada harus pulang ke rumah dan menghadapi begitu banyak pertanyaan dari kedua orang tuanya. Setidaknya biarkan dia tidak dengan tenang malam ini dan besok dia akan kembali menghadapi kedua orang tuanya dan memberikan penjelasan apa yang telah terjadi antara dia dan juga Hudson.
"Seharusnya dia beruntung aku hanya mematahkan datang hidungnya saja, bahkan bisa saja aku membuat tangannya patah atau tulang-tulang rusuknya itu patah agar dia tahu bahwa aku tidak seperti apa yang dia katakan."