One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
S2. Teman Lucnut



Naura yang baru saja menyelesaikan mandinya langsung menuju lantai 1 tempat di mana suaminya berada. Dia melihat bahwa saat ini ada dua orang pria bersama suaminya.


Di lihat dari gesture-nya, Naura yakin bahwa mereka adalah teman Alta karena terlihat sangat dekat sekali.


Naura datang menghampiri suaminya dan mereka mengucapkan salam atas kedatangannya.


"Astaga Al, kau benar-benar menikahi gadis di bawah umur?" tanya Arka yang merasa terkejut dengan istrinya.


Mereka hanya melihat dari jarak jauh saja kemarin karena saat mereka sampai acara hampir saja selesai dan kini saat mereka melihat langsung penampakan istri Alta, itu membuat mereka terkejut. Terutama Arka sendiri.



"Berhenti mengatakan omong kosong Arka. Naura sudah berusia 23 tahun dan itu artinya usia yang cukup ideal untuk menikah. Aku juga menikah karena kami saling mencintai. Bukan seperti apa yang ada di pikiranmu saat ini." ucap Alta yang sudah mengerti bagaimana jalan pikiran teman lucnutnya ini.


"Memangnya apa yang ku pikirkan saat ini hingga membuatmu mengatakan hal seperti itu. Terkadang kau ini terlalu terbawa perasaan Alta. Kau tau baper?"


"Tidak! karena yang kau tahu hanya lemper makanan kesukaan si kembar. Selebihnya aku tidak perduli." Husein hanya bisa menjadi pendengar yang setia dan Budiman seperti saat dulu mereka kecil bahkan hingga saat ini pun Husein tetap menjadi pendengar dikala kedua orang kaya itu berdebat.


"Gege..."


"Ya sayang..."


"Aahhh...sayang. Lihat Husein, temanmu ini sudah benar-benar sembuh. Dia sudah sembuh dari luka lamanya saat mengejar wanita Cina itu dan sekarang dia sudah bahagia bersama pasangannya yang baru. Daun muda bro." melihat bagaimana hebohnya Arka membuat Naura merasa sangat malu.


Dia seperti menjadi bahan ejekan saat ini dan itu semua dilakukan oleh pria yang tak kalah tampan dari suaminya. Apa usia mereka juga sama?


"Jangan dengarkan dia sayang. Dia orang gila, jadi biarkan saja dia disini. Terserah dia ingin melakukan apa yang penting dia tidak mengganggu kita. Sudahlah, ayo makan." Alta mengajak istrinya untuk pergi makan siang karena memang sudah waktunya untuk makan siang.


Sementara Arka sendiri, tiba-tiba saja dia menangis setelah berhasil mengejek temannya itu.


Dia ikut merasakan kebahagiaan yang luar biasa ketika Alta sudah menemukan jodohnya.


"Sudahlah, kita doakan saja semoga teman kita bahagia bersama istrinya. Lagi pula kenapa antum yang menangis? seharusnya antum ikut merasakan bahagia dengan apa yang sahabat kita rasakan. Beliau sudah bahagia bersama pasangannya dan itu artinya kita tidak perlu khawatir lagi dengan dirinya."


"Huaa..Tadz, gue bahagia karena temen gue udah nikah. Teman kita udah nikah Tadz. Elu mah gitu banget jadi teman. Gak ngerti apa sama perasaan gue?" tanya Arka yang masih saja menangis. Dia hendak memeluk Husein namun dengan cepat pria yang dipanggilnya ustadz itu menolak.


"Jangan deket-deket. Ana masih suka sama istri ana jadi antum harus jauh-jauh dari ana."


"Heh, bahlul. Istri elu tuh Rahma bukan Ana!" sela Arka karena dia tidak ingin terlihat cengeng di depan temannya ini kalau kenyataannya Husein memang sudah melihatnya saat menangis lagi.


"Terserah antum saja. Lagian kenapa gak sekalian bilang kalau nama antum itu Arka. Bukan antum." ujar Husien.


Hal seperti inilah yang paling dihindarinya ketika bertemu dengan Arka. Husein juga tau bahwa temannya ini tidak sebodoh itu. Hanya saja memang dia sengaja melakukannya karena ingin mencairkan suasana.


"Gak ah, ana mau cari makan di luar aja nanti." jawab Husein karena dia takut makan sembarangan di luar negeri seperti ini.


"Heh, temennya Aladin. Lu tau kan gimana Alta. Dia gak akan makan hidung gede. Lagian dari kecil juga udah sering makan di rumah Alta belagu banget sih lo. Takut banget makan itu moncong." sindir Arka.


Dia mengerti kenapa Husein sekarang semakin takut jika makan di luar apa lagi luar negeri seperti ini.


"Gak gitu Ar, nggak ada salahnya kalau kita waspada bukan?"


"Lu emang nggak salah jika lu waspada. Tapi ya lu liat dulu lu dimana. Lagian sok banget gak mau makan padahal lapar juga. Udah ayok ah, laper gue nih." akhirnya terpaksa Husein ikut dengan temannya karena memang dia juga merasa lapar.


Saat di meja makan, Alta melihat bahwa kedua temannya itu baru saja datang dan ikut bergabung bersama dirinya dan juga Naura di sana.


"Laper juga?" tanya Alta jangan pernah sindiran untuk kedua temannya itu.


Tapi bukan Arka namanya jika dia merasa sakit hati dengan apa yang kau katakan karena dia sudah kembali sudah terbiasa dengan semua itu. Mulut Alta sudah setajam itu sejak dulu dan mereka memakluminya.


"Gue laper, tapi nih saudaranya Aladin takut makan di luar negeri. Dia takut makan gak halal bro. Takut elu makan moncong gede." jelas Arka.


Dia langsung mengambil piring dan mengisinya dengan makanan yang sudah tersedia di meja makan tanpa rasa malu sedikit pun.


"Gak itu Al, ana berani sumpah kalau anak gak bilang gitu ke Arka."ucapnya karena dia takut bahwa temannya ini merasa bahwa dirinya di hina atau apapun itu karena Husein paling takut jika dia menyakiti hati orang lain.


"Kamu tau aku bagaimana Husein. Sejak kecil kita sudah sering makan bersama dan kamu tau apa yang aku makan. Lalu kenapa harus takut?" tanya Alta.


Dia tau dan memahami temannya ini. Apalagi benteng agamanya kuat sekali. Maka tak heran jika Husein takut dan berpikir seperti itu.


"Maaf Al, ana gak maksud begitu."


"Istri ku juga tidak memakan itu Husien. Jadi jangan takut. Ini makanan halal dan aku berani memastikannya, jadi makanlah dengan tenang." ucap Alta yang mempersilahkan pada teman-temannya untuk ikut makan bersama mereka siang ini.


Naura sendiri hanya bisa menundukkan kepalanya saja karena dia tidak mengerti dengan apa yang suami dan teman-temannya bicarakan itu.


Ana, itu membuatnya penasaran karena setahunya Alta memanggil pria yang berjangka panjang itu dengan nama Husein. Tapi kenapa pria itu menyebut dirinya dengan ana? apa namanya ada dua?


"Ayo makan." akhirnya mereka semua makan bersama di meja makan yang sama pula walau jarak berdoa mereka berdua tapi mereka tidak pernah merasa terbebani dengan perbedaan itu.


Persahabatan mereka benar-benar real sejak kecil hingga sekarang. Setelah selesai makan, Naura membantu pelayan untuk membereskan sisa makanan mereka dan berpamitan pada suaminya karena dia tidak ingin mengganggu pembicaraan antara Alta dan juga teman-temannya.


Maka Naura lebih untuk membereskan beberapa pakaian yang dibawanya dari rumahnya di Jerman.