One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
Benih



Kemarin setelah diri memberikan uang padanya untuk belanja dan membawakan bekal yang katanya untuk pria itu, Devina terus saja berpikir apakah dia harus melakukannya atau tidak. Dia benar-benar bingung apa yang harus dilakukannya saat ini karena dia tidak tahu apa yang harus dimasaknya untuk Gerry.


Devina tidak mengetahui makanan apa yang disukai pria itu dan makanan apa yang tidak disukainya lalu bagaimana bisa dia membawakan bekal untuknya.


Di saat Devina sedang bingung memikirkan apa yang akan dia masak untuk Gerry besok pagi, tiba-tiba saja ponselnya bergetar dan itu pesan masuk dari Gerry.


Devina sengaja tidak menyimpan nomor pria itu karena menurutnya tidak penting sama sekali tapi dia tahu bahwa itu adalah Gerry.


"Jangan lupa bekal makan siangku besok. Terserah ingin masak apa, yang penting enak." tulis Gerry pada pesan yang masuk ke ponsel Devina.


Setalah membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya, Devina mendesah pasrah ketika besok jam 05.00 harus masak untuk pria itu.


"Terserah, biarkan saja dia." ucap Devina yang langsung menarik selimut murah miliknya untuk menutupi tubuhnya dan menghindarkan dari angin malam.


Keesokan paginya, setelah melakukan ibadah subuhnya, Devina langsung pergi ke warung untuk membeli bahan yang akan di masaknya untuk bekal Gerry dan juga dirinya.


Pagi ini, cukup banyak yang dimasak Devina karena dia memikirkan apakah pria itu menyukainya atau tidak sama sekali.


"Terserah mau dimakan ya atau tidak urusannya. Setidaknya aku sudah benar-benar memasak." ucap Devina yang sudah selesai dengan kegiatan masaknya dan menyiapkan bekal untuk Gerry.


Setelah memastikan bahwa semuanya benar-benar sudah siap Devina pergi ke kantor karena pagi ini dia harus datang lebih dulu daripada Gerry. Devina tidak ingin jika dia bertemu dengan pria itu lagi.


"Bahkan aku harus membeli kotak bekal tahan panas untuknya. Menyebalkan sekali." gerutu Devina yang masih kesal dengan Gerry karena telah menyusahkannya pagi ini.


Saat sampai di kantor, Devina langsung mengambil peralatan kerjanya untuk membersihkan ruangan kerja kiri karena memang dia yang bertugas untuk membersihkan ruangan tersebut dan itu memudahkan untuk membawa kotak bekal yang telah disiapkannya untuk pria itu.


Tepat saat Devina selesai membersihkan ruangan kerja Gerry dan hendak pergi, saat itu juga sang pemilik gedung masuk.


"Devina," kata Gerry saat melihat Devina yang berada di ruangan kerjanya dan dia juga lihat bahwa ruangan kerjanya sudah bersih karena Devina yang membersihkannya.


"Maaf pak, saya sudah selesai." ucap Devina yang hendak pergi meninggalkan ruangan kerja Gerry namun dengan cepat pula pria itu menghalanginya.


Ya, Gerry memang sengaja menghalangi langkah Devina karena dia ingin memiliki waktu yang luang bersama wanita ini. Entah mengapa semakin hari Gerry semakin ingin bersama Devina, apalagi kini setiap hari mereka bertemu dan itu membuat Gerry merasa bersemangat untuk itu.


"Pak, tolong jangan mempersulit hidup saja lagi. Saya hanya ingin bekerja dengan baik dan tidak terlibat masalah apapun dengan anda atau siapapun, jadi tolong mengertilah." ucap Devina yang menggeser tubuh tinggi tegap pria yang ada di hadapannya saat ini.


Gerry sendiri terpaksa menggeser tubuhnya ketika melihat Devina yang tidak nyaman dengan keadaan mereka saat ini.


Terlihat Gerry menghela nafasnya berat karena memang dia bingung harus melakukan apa lagi agar bisa berhubungan dengan Devina.


Melihat kotak bekal yang ada di meja kerjanya membuat senyuman Gerry kembali merekah setelah tadi di hancurkan oleh kenyataan dari Devina.


"Setidaknya dia benar-benar membuatkan bekal untukku." ucap Gerry yang kembali bersemangat untuk memulai harinya.


Dia terus saja bekerja hingga saatnya jam makan siang Gerry langsung bersemangat untuk membuka kotak bekal miliknya karena dia penasaran apa yang di masak Devina hari ini.


Di sana Gerry melihat ada ayam kecap, goreng tempe tepung crispy dan ada sayur oseng sawi.


"Waw, dia benar-benar menyiapkan ini semua untukku." senyuman Gerry kembali merekah ketika merasakan kenikmatan dari bekal yang Devina berikan untuknya.


Saat dia sedang menikmati makan siangnya, tiba-tiba saja Devina kembali datang ke ruangan kerjanya untuk membawakan teh hangat seperti yang beberapa hari ini di minum olehnya.


"Maaf pak, menganggu karena setelah ini saya akan sibuk jadi ini tehnya." Devina meletakan teh buatannya di atas meja kerja Gerry dan langsung pergi meninggalkannya begitu saja tanpa sepatah kata lagi.


Devina sudah pergi dari ruangan kerjanya dan Gerry memilih untuk kembali melanjutkan makan siangnya.


Namun, saat dia sedang menikmati makan siangnya pintu ruangan kerja miliknya kembali terbuka dan dia langsung bertanya ada apa lagi karena dia pikir itu adalah Devina.


"Ada apa lagi Dev?"


"Dev?" tanya Lavina karena yang masuk memang Lavina, bukan Devina.


Kaget dengan apa yang di lihatnya saat ini membuat Gerry hanya bisa pasrah saja karena dia sudah tau pasti bahwa akan ada masalah yang di hadapinya ketika Lavina datang seperti ini.


"Siapa Dev yang kamu maksud sayang?" tanya Lavina yang mulai penasaran dengan siapa yang di sebut Gerry tadi karena jujur, jika itu sekretaris Gerry bukan Dev namanya.


"Bukan siapa-siapa." jawab Gerry dengan datar karena dia masih sibuk dengan kegiatan makan siangnya saat ini.


Lavina merasa aneh karena melihat Gerry yang makan siang dengan kotak bekal seperti itu.


"Makanan apa ini sayang? sejak kapan kamu membawa bekal saat bekerja?" tanya Lavina yang terus saja curiga dengan calon suaminya ini.


"Sejak hari ini," jawab Gerry karena memang baru hari ini dia membawa bekal dan bekal itu buatan Devina.


"Iya, aku tau makanan seperti apa yang kamu makan ini? ini makanan yang tidak biasa kamu makan." ucap Lavina yang terus merasa curiga dengan sikap Gerry yang semakin hari semakin dingin terhadapnya.


benar-benar tidak ingin kehilangan pria itu karena dia sudah bertekad bahwa tidak akan pernah ada yang bisa mendapatkan Gerry selain dirinya. Gerry hanya miliknya dan hanya untuknya saja, tidak untuk wanita lain.


"Kenapa kamu semakin hari semakin ingin tahu apa yang aku kerjakan Lavina? jika yang kamu bahas saat ini hanya karena bekal makan siang yang aku makan saat ini, maka aku akan menjawabnya ini dari seseorang yang pintar masak dan aku rasa dia pantas membuka usaha katering. Setidaknya aku bisa menikmati makanan sederhana dengan rasa yang tidak kalah di bandingkan restoran mewah di luar sana bahkan menurutku ini jauh lebih enak dari restoran di luar sana." kedua tangan Lavina terkepal erat ketika Gerry mengatakan hal seperti itu dan apa itu artinya Gerry memiliki wanita lain selain dirinya?


"Siapa wanita yang memberikan bekal makan siang ini? katakan padaku siapa wanita itu?" tanya Lavina yang mulai tersulit emosi.


"Aku sudah katakan bukan siapa-siapa, jadi jangan bertanya hal itu lagi karena untuk bekal ini aku membayarnya!" ucap Gerry.


...****************...