
Sean kembali ke sekolahnya dan dia langsung di hadang oleh Jason, tapi ingin terpancing sedikit dan lebih memilih menjauhinya daripada harus terlibat pertengkaran ataupun perkelahian dengan anak laki-laki tersebut. Di sini dia hanya ingin bersekolah dengan baik dan tidak ingin mencari masalah dengan siapapun, maka dia lebih baik menghindar.
Namun, saat dia hanya menghindar dan meninggalkan Jason bersama kedua temannya, Sean kembali di hadang dan bahkan kotak bekalnya di tarik hingga terjatuh di lantai.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan? aku baru dua hari sekolah dari sini dan kamu terus saja mencari masalah denganku. Aku bahkan tidak mengenal siapa dirimu secara langsung tapi kamu terus-terusan mencari masalah dengan. Katakan saya secara langsung padaku jika kamu tidak menyukaiku. Jangan terus mengganggu dan berbuat seolah-olah Kamu adalah yang terbaik di sini." Sean utarakan perasaannya pada Jason. Sungguh, tidak habis pikir dengan anak laki-laki ini dan menurutnya perbuatan Jason itu keterlaluan.
"Memangnya kenapa? aku memang tidak menyukaimu apalagi kau hanya seorang anak yang dipungut dari Panti asuhan. Seharusnya kau sadar bahwa kau tidak pantas bersekolah di sini. Jika bukan karena keluarga Casio kau tidak akan mungkin bisa menikmati semua ini, jadi jangan bersikap sama seolah-olah kau memiliki segalanya."
"Apa begini cara anak orang kaya berbicara? aku memang terlahir dari keluarga yang bahkan aku tidak mengetahui siapa keluargaku dan siapa orang tuaku yang sebenarnya tapi di panti asuhan aku mendapatkan begitu banyak pelajaran untuk menghargai seseorang. Apa di sekolah ini tidak diajarkan bagaimana cara menghormati orang lain?" jawaban dari Sean benar-benar membuat Jason marah. Dia merasa bahwa dirinya saat ini sedang direndahkan oleh Sean.
"Kau, berani sekali kau mengatakan hal itu padaku." tubuh Sean didorong hingga dia mundur beberapa langkah dan beruntung ada Damian dan juga Jackson yang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Hey, apa-apaan ini Jason?" tanya Damian pada anak laki-laki tersebut ketika melihat mereka bertiga merundung Sean.
"Kalian emang pantas untuk berteman karena kalian sama-sama anak yang tidak pantas untuk berada di sekolah ini." ucapnya lagi dan itu membuat darah Jackson mulai mendidih. Dia hendakn memukul Jason tapi tidak bisa melakukannya karena ditahan oleh kedua temannya. Ya, Sean dan Damian menghalanginya untuk memukul anak laki-laki tersebut karena mereka tidak ingin terlibat masalah dengan pihak sekolah.
"Berhenti mengganggu kami karena kami tidak pernah mengganggu siapapun di sekolah ini. Jika sampai aku masih melihatmu mengganggu Sean, akan kupastikan bahwa kau dan keluargamu hilang di muka bumi ini. Aku bersumpah untuk itu!" ucap Jackson dengan geram. Dia benar-benar tidak sanggup lagi menahan amarahnya.
Andai saja tadi Sean dan Damian tidak menahan dirinya mungkin saja dia sudah mengajar Jason sampai habis. Tapi dia tidak melakukannya karena masih memikirkan perasaan kedua temannya dan juga orang tuanya. Jika dia tidak memikirkan mereka maka sudah dipastikan bahwa Jason akan habis ditangannya.
Mereka bertiga kembali ke kelas dan orang yang paling kesal di sini adalah Jackson. Dia meluapkan rasa kesalnya dan berharap bahwa dia bisa melupakan kejadian tadi.
"Sudahlah Jack, aku baik-baik saja dan tidak perlu khawatir. Aku berjanji jika dia menggangguku lagi maka aku akan membalasnya."
"Ya, kau memang harus membalasnya Sean! anak seperti dia tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana caranya menghargai orang lain jika hanya dengan kata-kata saja. Aku bahkan pernah ingin memecahkan kepalanya dengan batu karena dia terus-terusan menggangguku dan juga Damian waktu itu. Jadi jangan sampai aku benar-benar aku memecahkan kepalanya jika dia sampai mengganggu kita lagi." ucap Jackson dengan marah. Masih teringat jelas di ingatan Jackson bagaimana dulu dia berkelahi dengan Jason. Andai saja tidak ada kepala sekolah waktu itu mungkin dia akan habis di tangan Jackson.
"Sudahlah, ayo kita masuk kelas." Mereka bertiga masuk ke kelas dan mulai belajar setelah gurunya masuk.
"Bagaimana cara menggunakannya? Aku tidak tau bagaimana cara menggunakan benda itu. Katakan lah jika aku ini kuno, tapi memang itu kenyataannya. Aku tidak tau bagaimana cara menggunakan benda ini."
"Gunakan dan pakai sana seperti kamu memakai ponselmu. Ini untuk menyimpan file dan beberapa kerjaan sekolah dan gunakan email untuk masuk dan menyimpan datanya. Selebihnya gunakan ini untuk bermain game!" usul Damian sih raja game.
Plak!
"Hey! Apa-apaan ini?" tanya Damian yang merasa kesal saat bahunya di pukul oleh Jackson.
"Kau jangan pernah mengajari Sean untuk terlibat aliran sesat bersamamu!"
"Aliran sesat apa?" tanya Damian yang tidak terima dikatakan memiliki aliran oleh Jackson.
"Aliran mu memang sesat. Kamu dengan bermain game dan itu menurutku benar-benar sesat." jawab Jackson karena memang dia tahu seperti apa akhir pekan Damian kita libur sekolah.
"Itu bukan aliran sesat! itu adalah self reward bagiku karena sudah belajar selama satu minggu penuh. Jadi tidak masalah jika aku ingin bermain game bukan?"
"Terserah kau saja!" Sean hanya bisa diam dan tersenyum melihat pertengkaran di antara kedua temannya. Game, dia bukan tidak menyukai game hanya saja dia tidak terlalu menyukai hal-hal seperti itu karena dia benar-benar fokus untuk akademinya. Tujuan utamanya adalah belajar untuk menjadi dokter agar dia bisa bermanfaat dan berguna bagi banyak orang. Bukan malah seperti itu. Tidak, dia tidak seperti itu dan Sean tidak ingin mengecewakan banyak orang yang telah berharap banyak padanya.
"Aku bukan tidak menyukai game tapi aku menjaga diriku agar tidak terjerumus ke dalam dunia game yang bisa membuat waktu belajar kita berantakan. Aku sudah berjanji pada kedua orang tuaku aku akan belajar dengan baik dan memberikan nilai akademik yang baik pula untuk mereka. Kalian juga harus begitu, jadilah anak yang membanggakan untuk kedua orang tuanya apalagi itu kedua orang tua kandung kalian sendiri. Jadi sebisa mungkin kita harus bisa membanggakan mereka dengan apa yang telah kita capai selama ini. Ayo semangat!" ucap Sean dengan penuh semangat untuk menularkan semangatnya pada kedua teman-temannya.
"Kau dengan itu Damian!"
"Iya, aku dengar!" jawab Damian dengan cemberut.
***