One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
S2. Berkunjung



Akhir pekan ini, Damian dan juga Jackson untuk datang ke rumah Sean. Mereka akan bermain bersama di rumahnya, seperti yang di katakan Sean kemarin jika mommy dan daddy-nya mengundang mereka untuk datang ke rumahnya maka jadilah kedua temannya itu datang.


Kedua temannya langsung berseru heboh ketika melihat rumah tempat di mana Sean tinggal.


"Oh my god! Rumah ini sangat besar Jack!" seru Damian ketika melihat bentuk rumah tempat di mana Sean tinggal.


"Jangan terlihat seperti orang kuno Damian. Kau juga orang kaya walau rumahmu tidak sebesar ini tapi rumahmu termasuk dalam golongan rumah mewah. Keluarga mu jika memiliki perusahaan di bidang perhotelan jadi aku rasa kau sudah banyak melihat dan mengetahui rumah-rumah mewah di luar sana."


"Kenapa kau sensitif sekali Jackson. Aku kan hanya mengungkapkan rasa kagumku saja tapi jika kamu tidak menyukainya ya sudah tidak perlu mendengarkannya setidaknya aku memuji tempat tinggal Sean bukan tempat tinggalmu. Kau juga memiliki rumah yang bisa dikatakan mewah bukan?" tanya Damian lagi.


"Itu sebabnya aku tidak terlalu heboh sepertimu. Ayolah Dam, jangan membuat dirimu sendiri terlihat seperti orang konyol Karena aku tahu bahwa kau tidak sekonyol itu. Kau bersikap seperti ini karena ingin mengobati luka hatimu karena perceraian kedua orang tuamu bukan. Kau tidak perlu menyembunyikan apapun dari kami karena kami adalah temanmu jadi ayo ceritakan pada kami apa yang terjadi sebenarnya di keluargamu agar kami tahu bagaimana cara menghibur dirimu." Damian terdiam.


Dia tidak menyangka bahwa Jackson mengetahui perceraian kedua orang tuanya. Bukankah tidak ada yang mengetahui perceraian kedua orang tuanya karena mereka menggelar sidang dengan sangat tertutup sekali. Lalu bagaimana bisa Jackson mengetahui tentang masalah keluarganya seperti ini.


"Sudahlah, kita akan bicarakan nanti di dalam bersama Sean. Soal bagaimana caranya aku mengetahui semua itu aku mengetahuinya dari ponselmu saat kau pergi ke kamar mandi dan menitipkan ponsel itu padaku. Sumpah, aku tidak membukanya karena aku hanya melihatnya saja ketika pesan itu masuk dan aku berpura-pura tidak mengetahui apapun Dan meletakkan ponsel tersebut di saku celanaku!" jelas Jackson.


Damian menatap dalam pada Jackson benar-benar menjadi teman terbaik baginya. Entah bagaimana Damian jika tidak ada Jackson. Mungkin dia tidak akan kuat dan bertahan untuk terlihat baik-baik saja.


Di saat mereka sedang bercerita, tiba-tiba Sean datang menghampiri keduanya yang masih berdiri di dekat mobil mereka masing-masing.


"Kenapa masih di situ? Ayo masuk teman-teman. Mommy dan Daddy sudah menunggu kalian berdua. Mereka ingin mengetahui siapa teman baruku di sekolah." keduanya langsung menghampiri Sean ketika melihat teman mereka sudah berada di depan pintu utama dan menyambut kedatangan mereka berdua.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Sean penasaran dengan apa yang kedua temannya bicarakan tadi.


"Hah, Damian berulah lagi. Dia mengatakan bahwa dia itu ingin ke toilet, iyakan Dam?" Jackson memberi kode pada Damian untuk mengiyakan perkataannya dan Damian pun langsung mengangguk.


"Benar, aku ingin ke toilet," jawab Damian yang ikut ke dalam kebohongan Jackson untuk menutupi masalah dirinya.


"Oh, begitu. Ayo ikut aku!" Sean mengajak kedua temannya ke dalam kamarnya karena Damian ingin pergi ke toilet.


Mereka masuk ke dalam kamar Sean dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat kamar yang begitu luas dan mewah.



"Iya, ini kamarku dan dulunya adalah kamar Daddy ku saat kecil. Katanya ini adalah kamar kesayangannya dulu dan Dia selalu menghabiskan waktunya di sini. Mereka sudah bertanya apakah aku ingin menggantikan desain interior atau tidak, mengatakan bahwa aku tidak ingin menggantinya karena aku masih sangat suka dengan kamar ini. Masih bagus bukan?"


"Ini bukan bagus lagi, tapi ini sangat bagus. Kamar Jack, Superman karena dia ingin kuat seperti Superman katanya. Jika kamarku hanya biasa saja, aku menyukai warna biru karena itu melambangkan sebuah ketenangan." Damian menjelaskan pada Sean tentang gambar rumah dan kamar mereka. Dan menurutnya kamar yang paling bagus adalah milik Sean.


"Sudah, sana pergi ke toilet dulu. Kamu mengatakan jika kamu ingin pergi ke toilet bukan?" tanya Sean karena tadi katanya Damian ingin pergi ke toilet.


"Oh iya, aku akan pergi sebentar." Damian pun pergi ke toilet walau dia tidak melakukan apa-apa di dalam sana. Sungguh luar biasa sekali memang. Tapi sudahlah, setidaknya dia harus berterima kasih kepada Jackson yang sudah membantunya untuk menjelaskan pada Sean.


Setelah dari toilet, mereka bertiga langsung turun ke lantai satu untuk bertemu dengan keluarga Sean dan di sana sudah ada 4 orang dan mereka yakin jika itu adalah Mommy dsn juga Daddy-nya Sean, beserta Oma dan Opa-nya juga.


"Oh my God! apa ini teman-teman kamu sayang?" tanya Alicia ketika melihat kedua orang anak laki-laki yang sangat tampan.


"Iya, Oma. Mereka teman-teman Sean. Ini Damian dan satu lagi Jackson." Sean sendiri memperkenalkan kedua teman-temannya pada keluarganya dan keluarganya menyambut dengan begitu hangat kedatangan Damian dan juga Jackson.


Begitu juga dengan mereka yang merasa bahagia karena di sambut dengan baik oleh keluarga Sean.


"Aku Damian Oma, Opa dan juga Mommy serta Daddy-nya, Sean."


"Kau terlalu lebay Dam. Tidak perlu berlebihan seperti itu. Katakan saja jika kamu itu Damian dan keluarga Sean sudah mengerti," gerutu Jackson.


Semua orang yang ada di sana langsung tertawa ketika mendengar apa yang Jackson katakan. Mereka berpikir bahwa Demian dan juga Jackson adalah dua kutub yang sangat berbeda. Keduanya jangan bertolak belakangnya tidak ada kesamaan sama sekali di antara keduanya.


"Oh iya, selamat datang di rumah Sean dan bersenang-senang lah. Kami tidak akan menganggu kalian. Jadi kalian bisa melakukan apa pun yang kalian inginkan. Sekarang kami pergi dulu ya. Oma dan Opa ada acara di luar sebentar. Kalian bisa main sepuas kalian bersama Mommy dan juga Daddy-nya Sean. Eh, tapi ingat, Daddy-nya Sean itu suka mengigit anak-anak jadi jangan terlalu dekat dengannya, Oke."


"Mama, jangan meracuni pikiran mereka dengan omong kosong mama. Mereka masih anak-anak dan mereka tidak tahu mana benar-benar yang salah, jadi berhenti mengatakan hal yang tidak tidak yang membuat mereka merasa takut dengan Leo!" serunya pada sang mama yang selalu saja menganggu ketenangan dirinya.


"Oh ya?" tanya Alicia yang terus saja menggoda putranya sebelum dia pergi.


***