
Selama libur dua Heri do rumah, Jasmine terus saja memikirkan keadaan Leo hingga dia memutuskan untuk datang ke rumah sakit melihat keadaan pria itu.
Entah mengapa rasanya Jasmine terus saja memikirkan keadaannya walau pria itu sendiri sudah mengatakan padanya bahwa dia menolong Jasmine bukan karena itu dirinya. Tapi jikapun itu orang lain, Leo akan tetap menolongnya.
"Selamat siang tuan," sapa Jasmine yang masuk ke ruangan pria itu.
Mendengar suara seorang wanita yang sangat di kenalnya membuat Leo langsung mengalihkan pandangannya ke arah wanita itu dan ternyata benar, Jasmine yang datang ke ruangannya.
"Ada apa?" tanya Leo ketika melihat Jasmine yang masuk ke ruangannya.
Sedangkan Jasmine sendiri bingung harus menjawab apa karena tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia kemari karena memikirkan dan khawatir dengan keadaan pria itu. Itu sama saja dia menceburkan dirinya ke dalam lumpur. Lalu alasan apa yang akan diberikannya pada pria ini.
"Tidak ada, saya hanya ingin menginformasikan saja pada anda bahwa proyek sudah kembali berjalan dan kendalanya sudah ditemukan."
"Aku tau." jawab Leo karena memang dia sudah tahu apa penyebab proyek mereka gagal.
Nyes...
Nyeri hari Jasmine mendapatkan jawaban yang sangat dingin dari Leo. Dia benar-benar merasa bahwa dirinya ini sangat bodoh sekali karena sudah tahu Leo akan bersikap seperti itu padanya tapi dia tetap saja berusaha untuk membuat pria itu melirik ke arahnya walau rasanya juga tidak akan pernah mungkin.
Leo sangat mencintai Claudia jadi rasanya mustahil jika dia bisa melirik wanita lain di dunia ini. Lagi pula, Claudia itu cantik berprestasi kaya dan juga baik hati, jadi tidak ada yang cacat dari dalam dirinya lalu bagaimana bisa berpikir bahwa dia ingin menyayangi wanita itu. Mimpimu terlalu tinggi Jasmine karena apa yang kau pikirkan itu tidak akan pernah terjadi.
"Oh, maaf, saya pikir tuan tidak tahu." ujar Jasmine karena dia bingung harus memulai dari mana pembicaraan mereka.
Ketika melihat Leo yang hendak mengambil air minum, dengan sigap Jasmine menghampirinya dan berusaha untuk menolong Leo.
Melihat Jasmine yang berusaha untuk menolongnya membuat Leo mendesah pasrah. Padahal dirinya bisa sendiri melakukan hal itu. Tapi Jasmine tetap saja membantunya seolah dia tidak bisa melakukan apapun jika tidak ada dirinya.
"Aku bisa sendiri Jasmine, hanya bahuku saja yang terluka, bahkan jika aku ingin aku bisa menggunakan tanganku sendiri tanpa harus di bantu oleh siapapun."
deg!
Jantung Jasmine seperti di remas tengah besar tak kasat mata ketika mendengar jawaban dari Leo yang sangat menyakitkan baginya.
Dia tidak menyangka jika Leo bisa mengatakan hal seperti ini padanya. Terlebih lagi saat ini hanya ada mereka berdua saja di dalam ruangan ini.
"Tuan-"
"Lalu bagaimana jika aku mencintai anda dan anda harus tahu bahwa cinta tidak bisa dipaksakan." jawab Jasmine dengan berani karena memang menurutnya seperti itu.
Dia pada dirinya bahwa cinta itu tidak bisa dipaksakan begitu juga dengan perasaan seseorang. Perasannya terhadap Leo benar-benar tulus dan itu tidak bisa dipaksakan.
"Jawabannya suah jelas Jasmine. Seperti kau katakan tadi bahwa cinta tidak bisa dipaksakan bukan maka itulah yang terjadi diantara kita berdua. Aku tidak tahu apakah yang aku katakan ini kasar atau bukan tapi yang pasti cintamu itu bertepuk sebelah tangan karena aku tidak mencintaimu sama sekali. Satu-satunya orang yang membuatku jatuh cinta adalah Claudia, bukan dirimu." mendengar jawaban dari Leo membuat Jasmine harus bisa menguatkan dirinya. Seharusnya dia sudah mengetahui bahwa perasaannya itu salah dan apa yang dirasakannya itu juga salah karena Leo tidak mencintainya.
Benar yang pria itu katakan bahwa perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan. Apa yang dirasakan yang tidak dirasakan oleh Leo sama sekali.
"Aku tidak ingin menyakitimu Jasmin jadi pergilah cari pria yang bisa mencintaimu dan membalas perasaan cintamu itu karena aku tahu tidak ada yang salah dalam cinta hanya saja pada siapa kau melakukan cinta itu dan cintamu itu bukan untukku." ucap Leo.
Jasmine menatap Leo dengan senyuman, lalu dia kembali mengatakan hal yang membuat Leo tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
"Baiklah, setidaknya aku sudah mengatakan bahwa aku mencintai anda. Selebihnya itu biar Tuhan yang menakdirkannya. Aku sudah bisa bernafas lega karena perasaan ini telah sampai pada orangnya. Terima kasih tuan,"
Jasmine pergi meninggalkan ruang rawat Leo. Sedangkan seorang wanita yang sejak tadi berada di luar ruangan Leo langsung pergi memasuki ruang rawat lainnya karena dia tidak ingin di ketahui oleh siapapun bahwa dia ada di sana mendengarkan meja yang telah terjadi di antara Leo dan juga Jasmine.
"Salahkan aku tuhan? aku mencintai Leo dan begitu juga sebaliknya. Lalu bagaimana dengan perasaan Jasmine? dia tersakiti dengan perasaan kami berdua." ucap Claudia yang memegang dadanya saat ini.
Entah mengapa dia menjadi dilema dengan semua permasalahan di antara mereka saat ini.
Di satu sisi dia dan Leo saling mencintai tapi di sisi lain ada Jasmin yang merasa tersakiti dengan perasaan mereka berdua. Entah apa yang harus kalau dilakukan saat ini. Tapi yang pasti dia ingin menjadi istrinya Leo karena mereka saling mencintai.
Merasa bahwa dirinya sudah baik-baik saja, Saudi langsung memutuskan untuk kembali keluar dari ruangan kosong itu karena dia ingin menemui Leo.
Namun, saat dia masuk ke ruangan Leo, dia sudah di sambut dengan tatapan datar Leo.
"Leo, kamu kenapa?" tanya Claudia ketika melihat pria itu yang menatap tajam ke arahnya.
"Sudah mendengar semuanya?" kedua bola mata Claudia langsung membulat sempurna ketika mendengar pertanyaan dari pria itu. Claudia takut jika Leo mengetahui bahwa dia sudah berada di sana sejak tadi dan dia juga mendengarkan semua yang mereka katakan.
"Maksudnya apa?" tanya Claudia yang berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan Leo.
"Aku tau jika kamu berada di sana sejak tadi dsn aku juga yakin jika kamu mendengar semuanya, jadi jangan karena hal seperti ini kamu ragu dengan pernikahan kita karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Pernikahan kita akan tetap berlangsung setelah aku keluar dari rumah sakit ini dan keadaanku membaik!"