One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
S2. Bercerita



Jasmine tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya saat ini. Tapi dia melihat jika Leo telah menghadapi masalah besar tapi dia tidak tahu apa masalah itu. Jika pun dia ingin mengetahuinya itu bukan aku senang sama sekali. Jasmine tidak sanggup jika mendengar kata-kata kasar yang keluar dari bibir pria itu, maka lebih baik dia tidak mengetahuinya sama sekali daripada harus mendengarkan kata-kata yang bisa saja menyakiti hatinya nanti. Tapi, seberapa jauh dia mencoba abai dengan masalah Leo tetap saja dia tidak bisa. Jasmine memilih untuk menurunkan egonya dan membuatkan minuman hangat untuk pria itu.


Leo yang mendapatkan secangkir teh hangat buatan Jasmine hanya menatap datar pada wanita itu yang telah bersusah payah membuatkan minuman untuknya.


"Aku tidak memintamu untuk membuat aku minuman hangat, tapi aku berterima kasih karena kau telah mengerti keadaanku saat ini." ucap leo pada Jasmine. Dia tau, jika sejak tadi wanita itu terus saja merasa gelisah dan ingin tahu apa yang terjadi pada dirinya saat ini.


"Sama-sama pak," jawab Jasmine seadanya. Dia hendak keluar dari ruangan kerja pria itu namun dengan cepat pula Leo menahannya. Dia menghentikan langkah Jasmine yang hendak pergi meninggalkan ruangan kerjanya.


"Apa kau sibuk?" tanya leo pada Jasmine saat ini dia membutuhkan teman untuk cerita.


"Tidak Tuan," jawabnya karena memang dia tidak merasa sibuk sama sekali. Lagi pulang pekerjaannya tidak terlalu banyak jadi dia bisa bersantai sedikit.


"Panggilkan makhluk yang kulitnya berwarna gelap itu. Joe, panggil dia ke sini dan katakan padanya bahwa aku tidak ingin mendengar penolakan apapun darinya. Jika dia tidak ingin datang ke ruangan kerjaku maka jangan salahkan aku jika nantinya aku akan melemparkan yang keluar dari jendela gedung ini." jelas Leo. Jasmine lagu Papinka undur diri karena dia akan memanggilkan pria yang ingin ditemui oleh Leo nantinya. Joe, Jasmine tahu seberapa dekat mereka berdua maka dari itu dia datang menghampiri ruangan kerja pria hitam berkepala botak itu karena bos memanggilnya.


"Ada apa?" tanya Joe ketika melihat Jasmine yang berada di ruangan kerjanya seperti ini. Dia tau, jika Jasmin datang ke ruangan yang hanya ada dua kemungkinan saja. Pertama wanita ini sedang galau dan ingin curhat padanya dan kedua untuk segera datang ke ruangan kerja pria itu. Hanya itulah dua kemungkinan yang terjadi jika Jasmine datang ke ruangan kerjanya.


"Tuan Leo memanggilmu." jawab Jasmine. Joe sendiri sudah menduga semua ini karena memang pasti ada yang ingin dibicarakan oleh pria itu padanya.


"Sudah aku duga, katakan padanya bahwa aku akan datang ke ruangan kerjanya 5 menit lagi. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaanku sebelum jam 05.00 sore nanti karena nanti malam dia akan meminta semua pekerjaanku selesai karena malamnya dia akan memeriksa semua itu."


"Tapi-"


"Tidak perlu, aku sudah di sini." Joe hanya bisa memutar kedua bola matanya dengan malas ketika melihat bahwa Leo sudah berada di ruangan kerjanya saat ini. Entah apalagi yang akan terjadi nantinya tapi yang pasti Joe yakin jika ada hal yang penting ini dibicarakan beliau dengannya.


"Kau juga tetap di sini!" titahnya tak terbantahkan ketika melihat jas hujan yang ingin pergi meninggalkan ruangan kerja pria berkulit hitam itu. Jasmine sendiri hanya bisa pasrah saja dengan semua ini. Setidaknya dia bisa menjalani semuanya dengan mudah karena dia tidak sendiri dengan Leo atau pun Joe.


"Baik, tuan." akhirnya Jasmine juga ikut duduk di dekat mereka saat ini hingga mereka bertiga duduk diam dan termenung sampai tiba-tiba saja Joe menggebrak meja kerja miliknya hingga membuat mereka berdua kaget bukan main.


Brak!


"Sekarang kata-kata yang kau inginkan. Kenapa kau datang ruangan kerjaku? Kau tidak akan datang ke sini jika tidak memiliki masalah. Jadi ayo katakan saja apa yang kau ingin ceritakan maka aku akan mendengarnya seperti biasa."


"Semakin hari kau semakin berlagak sombong rupanya. Apa yang bisa kau tanyakan dari dirimu selain kepintarannya itu? aku tidak perlu jika mereka di luar karena mengatakanku rasis atau apapun itu tapi yang pasti aku kesal dengan pria berkulit hitam sepertinya. Dasar anak buah bajingan!!" umpatnya lagi yang merasa kesal.


"Sudah, ayo katakanlah apa yang terjadi di luar sana hingga membuatmu seperti ini. Apa ini berkaitan dengan masalah internal dalam keluargamu?" diamnya Leo sudah menjadi jawaban kuat lagi Joe untuk mengetahui apa yang terjadi pada pria ini.


"Katakan, ada beban apa yang kau tanggung?" todong Joe dengan sebuah pertanyaan. Jika memang ini lah kenyataannya.


"Claudia terkena kanker rahim." mendengar jawaban dari Leo membuat Jasmine percaya dengan apa yang di katakan Leo saat ini. Apakah semua ini ini ada kaitannya kenapa kalau dia memintanya untuk bertemu nanti setelah pulang dari kantor. Apalagi kalau dia sudah menghubunginya seharian ini karena dia tidak bisa mengungkapkan yang telepon dari wanita itu.


"Apa?" pekik Jasmine pada kedua orang itu ketika dia mendengar apa yang Leo katakan tadi.


"Jangan macam-macam tuan, penyakit ini sangat berbahaya dan tidak bisa dibawa main-main seperti ini."


" Apa kau pikir aku manusia paling bodoh di bumi ini hingga membuat sakit menjadi mainan?" tanya Leo pada Jasmine hingga membuat Jasmine tidak berani lagi menatap darah pria itu karena saat ini Leo sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Maaf," ucap Jasmine dengan penuh penyesalan karena dia telah membuat Leo marah dan membentaknya seperti tadi.


"Tolong urus, segala keperluan kantor selama aku mengambil cuti. Aku akan pergi berobat ke London dan doakan aku dan Claudia untuk menjalani semua ini dengan begitu mudah.


"Baik lah semoga saja istrimu salahkah sembuh dari nafas beraktivitas seperti biasanya lagi."


"Hem, terima Joe,"


"Ya, pergilah. Temui istrimu dan peluk dia sana." usirnya pada Leo hingga membuat pria itu pun langsung pergi meninggalkan merek begitu saja setelah mendapatkan panggilan telepon dari Claudia.