
Dari tempatnya saat ini Leo terus saja menatap kakaknya yang masih berpelukan dengan pria yang bernama Alta.
Apa yang mereka lakukan sudah seperti adegan film romantis saja. Tidak tahukah mereka berdua saat ini apa yang mereka lakukan itu menjadi pusat perhatian banyak orang?
Melihat adegan seperti itu membuat Leo ingin muntah seketika.
" Apa mereka tidak malu berpelukan seperti itu? mereka sudah seperti syuting drama Korea saja. Dulu Mama dan Daddy yang syuting film India saat Daddy baru sadar dari koma. Lalu ini ada drama Korea lagi. Ini judulnya turunan cinta dari India ke Korea." Ucap Leo asal.
Dia tidak memikirkan apa yang dikatakannya saat ini tidak masuk akal. Entah apa maksud anak itu mengatakan dari India ke Korea padahal mereka tidak memiliki keturunan seperti itu.
Tapi dasarnya itu Leo dengan segala pemikiran maksudnya membuat mereka yang sudah mengenalnya menganggap biasa saja setiap hal yang dilakukannya.
" Hais... sampai kapan aku harus menunggu mereka seperti ini? perutku sudah lapar. Seharusnya sudah makan pagi ini tapi gara-gara ikut kakak aku jadi belum makan." Ucap Leo lagi.
Dia melihat bahwa di meja makan ada satu bungkus roti yang diketahui pasti itu milik Alta tadi. Tanpa permisi pada mengambil satu bungkus roti itu untuk mengganjal perutnya.
Mana dia peduli dengan semua itu. Yang dipikirkannya saat ini adalah bagaimana caranya dia tidak kelaparan maka dia mengambil roti tersebut dan menelannya.
Tak lama, setelah Leo mengambil roti tersebut dan menelannya kakaknya baru saja datang dan menatap aneh padanya.
" Jangan menatap ku seperti itu karena aku lapar. Lagi pulau dan aku berpelukan lama sekali seperti itu? sudah seperti syuting drama Korea saja." Gerutunya lagi.
Dia menatap cemberut pada kakaknya. Sementara Naura hanya bersikap biasa saja caranya tahu bahwa saat ini adiknya sedang merasa kesal padanya.
" Sudah ayo pulang." Ajak Naura tanpa ingin membuang waktu lagi.
Jika dia berada di sini lebih lama lagi mana bisa saja dia menangis nanti.
" Kakak menangis ya? coba lihat sini." Leo berusaha untuk melihat wajah kakaknya yang terlihat bersedih.
Bahkan matanya sudah berkaca-kaca dan memperlihatkan bahwa dia sedang sedih saat ini.
Lei masih berusaha ingin melihat wajah makanya namun Naura menolaknya.
" Sudahlah Leo. Jika tidak ingi pulang ya sudah. Kakak mau pulang." Naura pergi lebih dulu meninggalkan adiknya karena dia ingin pulang.
Rasanya semakin lama dia di sini maka perasaannya semakin besar dan dadanya juga semakin terasa sesak.
" Dia sedang jatuh cinta ya? kenapa orang jatuh cinta itu terlihat jauh lebih menyebalkan? lihat, lagi makan bersedia hanya karena ditinggal pergi seperti itu. Ck, menyedihkan sekali. Aku tidak akan menangis jika jatuh cinta nanti. Aku juga tidak akan membuat wanita ku menangis. Yang ada aku akan selalu membahagiakannya dengan cara ku sendiri. Lagi pula aku ini tampan, wanita mana yang bersedih jika bisa memiliki kekasih setampan diri ku ini. Lagi pula aku ini cukup kaya di usia ku. Apalagi perusahaan game yang ku rintis mulai berkembang. Aku yakin bahwa aku akan menjadi pria yang sukses dengan cara ku sendiri." Ujarnya dengan penuh arti.
Banyak arti yang bisa di tangkap dari omongan Leo.
Berharap saja semoga dia tidak terlalu eror jika jatuh cinta nanti.
" Kakak...tunggu aku." Teriaknya yang langsung mengejar kakaknya yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkannya.
Sementara Naura tidak memperdulikan lagi ngapain dilakukan adiknya karena yang terpenting baginya saat ini adalah bagaimana caranya agar dia bisa cepat sampai di rumah.
Naura mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia segera sampai di rumah dan pergi ke kamarnya.
Satu hari ini dia ingin tidur dan tidak ingin keluar dari dalam kamarnya.
Bahkan saat mereka berdua sampai di rumah, Naura juga meninggalkan Leo yang masih berada di dalam mobil.
" Wahh...dia masih sama rupanya." Ucap Leo.
Dia melihat kakaknya yang langsung masuk ke dalam kamarnya meninggalkannya begitu saja.
Begitu juga dengan Leo. Dia ingin pergi ke kamarnya untuk mandi karena dia memang belum mandi tadi.
Namun, saat dia hendak melewati kamar kedua orang tuanya, dia mendengar suara aneh dari dalam kamar itu.
" Aaahhh...Leon...hentikan itu aahhh....Jangan meremasnya." Suara mamanya terdengar sangat memberikan sekali.
Bukannya pergi, Leo malah semakin mendekat dan mendengarkannya di sana.
" Aahhh...Ini luar biasa Alicia...kau seksi sayang..."
" Leon...sshhh...jangan menghisapnya...aaahhh...." Semakin di dengarkan semakin Leo merasa kesal dengan suara itu.
Brak...Brak...Brak...
" Mama, Daddy! hentikan itu. Jika karen perbuatan kalian ini Leo mendapatkan adik lagi, maka akan Leo hanyutkan anak itu ke sungai Gangga sana!"
Brak!
Sebagai sentuhan terakhir Leo menendang pintu kamar itu dan pergi meninggalkan kamar panas di pagi hari itu.
...****************...