
Malam harinya, Leo mendatangi Sean yang berada di dalam kamarnya setelah seharian berada di luar bersama Oma dan juga Mommy-nya.
"Boleh Daddy masuk?" tanya Leo saat dia membuka pintu kamar putranya. Melihat pria yang sudah menjadi ayahnya itu hendak masuk ke dalam kamarnya membuat saya langsung menganggukkan kepalanya. Dia jika berpikir bahwa keluarga ini benar-benar sangat harmonis sekali bahkan hanya untuk masuk ke dalam kamarnya seperti ini saja pun pria itu sampai meminta izin lebih dulu.
Karena hal itu pula Sean berpikir bahwa dia harus bisa bersikap baik pada keluarga ini. Keluarga ini benar-benar sangat luar biasa sekali. Caranya menyayangi Sean itu luar biasa.
"Masuklah Dad," jawab Sean pada Leo. Setelah mendapatkan persetujuan dari putranya barulah hingga masuk ke dalam kamar yang pernah menjadi tempat tinggalnya beberapa waktu yang cukup lama. Kamar yang menjadi tempat persembunyian dirinya dari dunia luar karena dia sangat tidak menyukai orang-orang di luar sana yang berteman hanya dengan harta yang mereka miliki.
Dulu, Leo lebih suka menyendiri di dalam kamarnya dan bermain komputer kesayangan miliknya yang bahkan masih tersimpan rapi di dalam lemarinya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Leo ketika melihat Sean yang hanya duduk diam di atas tempat tidurnya saja. Entah apa yang anaknya itu pikirkan saat ini.
"Tidak ada. Aku hanya memikirkan apakah ini nyata atau tidak. Aku tidak pernah bermimpi sekalipun untuk memiliki kehidupan seperti ini. Aku bisa mendapatkan kedua orang tua dan juga keluarga yang sangat menyayangiku walau dari beberapa hari, tapi aku merasa bahwa kalian semua menyayangiku. Apa aku salah?" tanya Sean pada Leo karena dia takut jika dia salah.
"Kamu tidak salah Sean, kamu tidak salah karena kami semua memang menyayangimu. Di rumah ini ada Oma, Opa, Mommy dan Daddy yang sangat menyayangi kamu. Walau kamu anak angkat, tapi kami menyayangi kamu. Jangan pernah dengarkan apa yang orang lain katakan tentang kamu dan jika mereka bertanya siapa diri kamu katakan pada mereka bahwa kamu adalah anaknya Leonard Casio. Kamu adalah Arsean Leonard Casio, dan kami sayang menyayangi kamu." Rasanya jantung Sean seperti berhenti berdetak ketika mendengar apa yang beliau katakan. Dia benar-benar tidak percaya dengan ini semua bahwa dia bisa mendapatkan keluarga yang begitu sangat menyayanginya. Terlebih lagi Oma Alicia yang terlihat sangat antusias sekali ketika bersamanya.
Bahkan sejak berbelanja tadi wanita tua atau terus saja bercerita ke sana kemari dan dia juga mengatakan bahwa dia yang akan mengantar dan menjemput Sean saat sekolah nanti. Ya, harga ini sudah mendaftarkannya untuk sekolah dan mendapatkan pendidikan terbaik. Sean hanya ditugaskan untuk belajar saja demi masa depannya dan yang lebih membuatnya tidak percaya lagi adalah apa yang Allah alisnya katakan bahwa dia akan menjadi pemilik pusat perbelanjaan tempat di mana mereka berbelanja tadi.
Sebenarnya Sean tidak mengharapkan apapun dari keluarga ini karena dia merasa bahwa dia sudah lebih dari cukup di sekolah kalian mendapatkan kehidupan yang layak. Tapi keluarga ini malah memberikan yang lebih dari apa yang diimpikannya selama ini.
"Kenapa kalian begitu sangat menyayangiku? apanya anak panti asuhan yang kalian angkat menjadi anggota keluarga kalian. Tapi kenapa kalian memperlakukanku seolah-olah aku adalah anak kandung kalian sendiri?"
"Tidak ada anak kandung yang tidak ada anak. Jika kami sudah memutuskan bahwa kami menjadikan kamu anak kamu itu artinya kamu harus bersikap adil pada kamu ataupun pada anak yang akan lahir nanti. Aku berjanji bahwa aku akan menjadi ayah yang baik untuk kamu. Tugas kamu sekarang hanya belajar saja, selebihnya biar aku yang melakukannya sebagai seorang ayah. Daddy membelikan ponsel ini untukmu, bukan hanya untuk bermain, tapi untuk belajar. Gunakan ponselnya dengan baik dan jangan gunakan untuk hal yang tidak berguna." jelas Leo pada Sean. Dia hanya ingin anaknya ini belajar dengan baik.
"Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya belajar dengan baik dan meraih cita-citanya. Kamu harus belajar dengan baik Sean, tunjukkan pada orang di luar sana jika kamu mampu melakukannya bukan karena keluarga besar, tapi karena memang kamu mampu untuk melakukannya. Raih cita-cita kamu karena kami akan selalu mendukung kamu. Apa pun cita-cita kamu kami akan mendukungnya dan jangan pernah malu untuk meminta apapun pada kami. Kami tidak akan pernah memaksakan apapun kehendak kamu kepada kamu karena kamu bebas memilih jalan hidup kamu sendiri." jelas Leo dan itu membuat Sean semakin bersemangat untuk sekolah dan belajar. Dia pernah memiliki cita-cita bahwa dia ingin menjadi seseorang yang hebat. Tapi keinginannya itu hilang begitu saja karena dia berpikir bahwa anak panti asuhan tidak akan pernah bisa meraih cita-citanya dan kini dia diberi kesempatan untuk meraih itu semua dari keluarga ini.
"Aku hanya ingin menjadi dokter yang hebat. Aku ingin menolong banyak orang yang tidak bisa berobat karena tidak memiliki uang. Aku ingin meringankan beban mereka yang tidak bisa mendapatkan perawatan terbaik, sama seperti saat temanku di panti asuhan yang tidak bisa diselamatkan saat dibawa ke rumah sakit karena tidak memiliki biaya untuk operasi. Jadi, bolehkah aku menjadi dokter spesialis jantung karena temanku memiliki riwayat penyakit jantung bawaan sejak lahir. Sejak saat itu pulang aku kehilangan teman dan aku tidak memiliki semangat lagi karena hanya dia saja yang bisa mengerti ku." Leo langsung menganggukkan kepalanya ketika mendengar keinginan Sean yang begitu tulus.
Hanya karena tidak ingin orang-orang sakit dan tidak bisa berobat karena keterbatasan biaya, Sean ingin menjadi seorang dokter agar bisa membantu mereka semua.
"Baiklah, kejar apa pun cita-cita kamu dsn kamu akan mendukungnya. Belajar dengan baik dan tunjukan pada teman kamu jika kamu bisa menjadi dokter yang hebat untuk banyak orang agar tidak ada lagi orang yang tidak bisa berobat karena tidak memiliki uang."
"Iya, Dad." tekadnya sudah bulat dan Sean akan menjadi dokter yang hebat nantinya Dia akan belajar dengan giat untuk meraih cita-citanya itu.
***