
Setelah pulang dari rumah sakit dan mengurus pemakaman neneknya, Devina pun langsung menghubungi kakaknya. Ia hanya ingin memberitahukan pada Lavina jika nenek mereka sudah meninggal.
"Maaf, tapi aku tidak bisa datang."
Betapa sakit hatinya Devia mendengar jawaban dari sang kakak. Hatinya terasa begitu sakit karena bisa-bisanya Lavina bersikap acuh, padahal wanita yang paling berjasa baginya sudah tiada.
"Seharusnya kakak bisa datang di acara pemakaman nenek. Tidak masalah jika tidak ingin mengakui aku sebagai adik, tapi tolong hargai nenek. Setelah ibu meninggal, kita hidup bersama nenek dan nenek adalah orang yang sangat berjasa buat kita karena telah membesarkan kita. Seharusnya kakak tahu itu!"
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Devina bertengkar dengan kakaknya karena Lavina tidak ingin menghadiri acara pemakaman nenek mereka.
"Jaga bicaramu, Devina!" Lavina tidak terima dengan apa yang perkataan Devina padanya.
"Terserah, Kakak. Mulai sekarang aku tidak akan peduli lagi dengan apa yang kakak lakukan," ucap Devina merasa sangat marah pada Lavina. Wanita itu bahkan langsung memutuskan panggilan teleponnya begitu saja tanpa memikirkan apa pun lagi karena saat ini ia harus fokus pada pemakaman neneknya.
"Kurang ajar," umpat Lavina yang tidak terima karena Devina berkata kurang ajar dan seberani itu padanya.
Setelah selesai bicara dengan Lavina, Gerry langsung menghampiri Devina hingga membuat wanita itu langsung kaget ketika melihat bahwa Gerry masih berada di rumahnya.
"Kenapa masih di sini?" tanya Devina ketika ia masih melihat Gerry yang berada di rumah neneknya setelah acara pemakaman tadi.
"Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku ingin bicara. Mau bagaimanapun kita tetap harus membicarakan apa yang telah terjadi di antara kita berdua semalam."
"Tidak ada yang harus dibicarakan lagi karena semuanya sudah selesai. Semua sudah benar-benar selesai dan tidak perlu ada yang diingat lagi!" Gerry benar-benar tidak percaya pada Devina yang dengan begitu mudah mengatakan hal itu.
Mereka sudah melakukan hubungan badan dan Gerry tidak memakai pengaman sama sekali. Bagaimana jika nanti benihnya tumbuh di dalam rahim Devina?
"Kamu bercanda? come on Devina, yang sedang kita bicarakan saat ini bukan hal biasa dan untuk itu kamu tidak bisa mengabaikannya. Kita sudah melakukannya dan aku tidak memakai pengaman apa pun malam itu, Lalu bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti ini? Aku ingin bicara padamu karena aku takut jika suatu saat nanti kamu sampai hamil anakku," jelas Gerry.
Padahal di luar sana banyak wanita yang menginginkan untuk berada di sisinya, termasuk kakaknya sendiri. Tapi Devina malah bersikap sebaliknya, di saat Gerry ingin bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya, dengan mudahnya Devina mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan pertanggungjawaban apa pun dan parahnya lagi wanita itu mengatakan untuk melupakan semuanya.
"Karena aku yakin kalau tidak akan hamil! Lagi pula kita melakukannya hanya sekali, jadi tidak mungkin aku akan hamil anakmu," jawab Devina sambil melangkah pergi dari Gerry. Namun, pria itu menahan lengannya hingga Devina kembali berbalik melihatnya.
***
Dua Minggu setelah kepergian neneknya, Devina benar-benar berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri jika ia pasti bisa melewati semua kesedihan itu. Tekadnya sudah bulat untuk mencari pekerjaan dan melupakan segalanya. Terserah jika suatu saat nanti tidak akan ada pria yang ingin menikahinya karena dia sudah kehilangan kesuciannya. Saat ini, yang ada di pikirannya hanya soal bagaimana caranya dia bisa mendapatkan pekerjaan untuk menyambung hidupnya.
Hari itu, entah sudah berapa banyak lamaran sudah ia masukkan. Namun, tidak ada satu pun yang menerimanya karena ia memang hanya seorang tamatan SMA saja.
"Astaga, apa yang harus aku lakukan saat ini?" tanya Devina. Jujur saja, ia mulai bingung dengan apa yang harus ia lakukan demi bisa mendapatkan pekerjaan.
Entah berapa banyak perusahaan yang sudah dimasukinya hingga akhirnya keberuntungan pun berpihak padanya. Ya, Devina mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan, walau itu hanya menjadi office girl saja. Namun setidaknya, itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.
"Jadi, kapan kamu bisa bekerja?" tanya seorang wanita yang berposisi sebagai HRD di perusahaan itu. Sebuah perusahaan yang cukup besar dan kebetulan sedang sangat membutuhkan tambahan orang untuk posisi office girl.
"Saya siap bekerja kapan pun, Bu. Kalau hari ini langsung kerja pun saja bisa, Bu," jawab Devina dengan penuh semangat.
Melihat semangat gadis cantik yang ada di depannya saat ini membuat wanita bernama Lisa itu benar-benar kagum dengan semangatnya. Di mata Lisa, Devina itu adalah gadis cantik yang memiliki wajah yang nyaris sempurna, tetapi ia tetap mau bekerja sebagai tim kebersihan di perusahaan tempatnya bekerja.
"Baik kalau begitu. Sekarang kamu ikut saya ya! Saya mau melihat kinerja kamu dulu, sekarang kamu harus membersihkan ruang kerja bos karena yang lainnya sedang istirahat."
"Siap, Bu." jawab Devina antusias.
Setelah berganti pakaian dengan seragam kerja, Devina pun langsung menuju ruangan yang dikatakan oleh Lisa. Namun, sebelum ia masuk ke ruangan itu, Devina sempat ragu ketika ia membaca nama yang tertera di depan pintu. Nama itu seketika membuat tubuhnya gemetar.
"Direktur Utama, Gerry Brain Ambarawa." ejanya dengan jantung yang berdebar kencang. Entah mengapa tiba-tiba saja rasa takut mulai menguasai pikirannya. Devina takut jika pria yang telah merenggut kesuciannya juga bernama Gerry bukan? Lalu, bagaimana jika memang pria itu? Tapi Devina berusaha untuk menepis ketakutan itu dari pikirannya.
"Semoga saja bukan dia. Aku mohon, Tuhan." Sebelum masuk ke ruangan, Devina tampak berdoa. Raut wajahnya masih menampilkan rasa cemas, walau sebisa mungkin coba ia tutupi dari Lisa.
...****************...