
"Dari mana saja kau?" tulis ibunya Jasmine ketika melihat anak perempuannya baru saja pulang padahal di luar sana hujan sangat deras.
Mereka berkomunikasi lewat tulisan jika Jasmine tidak terlalu mengerti bahasa isyarat yang ibunya lakukan.
"Di luar hujan deras, aku menunggu hujan agar sedikit reda baru aku bisa pulang untuk mencari taksi. Jadi jika ibu ingin memarahiku tolong lakukan nanti saja karena aku ingin segera membersihkan diri saat ini." jawab Jasmine aja langsung pergi meninggalkan ibunya.
Sementara ibunya, dia hanya bisa mengalah nafasnya dengan berat ketika melihat putrinya seperti itu. Sungguh menyedihkan kembali kehidupan mereka saat ini. Bukan hanya saat ini, bahkan sajadah mendiang suami yang dulu pun hidup mereka sudah hanya saja tidak sesulit ini karena sekarang mereka semakin merasakan kesulitan itu karena hutang-hutang yang ditinggalkan mendiang suaminya ketika masih hidup.
Sebenarnya dia juga merasa kasihan dengan putrinya yang harus terpaksa mengubur cita-citanya dulu bekerja untuk melunasi seluruh hutang-hutang mereka bahkan yang membuatnya sakit hati adalah putri satu-satunya yang seharusnya mendapatkan perlindungan dari kedua orang tuanya malah menjadi korban dari kekejaman dunia.
"Maaf, ibu tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu. Andai saya menyerah yang tidak meninggalkan semua hutang-hutangnya pada kita mungkin hidup kita tidak akan sesusah ini dan kau pun bisa melanjutkan kehidupanmu dengan baik. Maafkan ibu Jasmine." ucap ibunya dalam hati karena jujur, ibu mana yang tidak sakit hati ketika melihat putrinya harus mengorbankan dirinya bahkan sampai terjun ke dunia malam hanya untuk mencari uang dan membayar apa yang harus mereka bayar.
Di dalam kamar mandi, Jasmine kembali menangis sambil menghidupkan air agar tidak terdengar suara tangisannya. Ibunya menang bisu, tapi pendengarannya masih berfungsi dengan baik jadi dia tidak ingin ibunya tau jika dia menangis di dalam kamar mandi karena itu akan membuatnya curiga dengan apa yang telah terjadi pada dirinya.
"Kenapa kamu milikku untuk merasakan semua kesakitan ini Tuhan. Tidakkah kau merasa bahwa apa yang kau berikan terhadapku ini selalu sakit? aku mohon jika kau ingin menguji aku dan butuhkan rasa sakit hatiku. Aku tidak ingin kembali merasakan kesakitan seperti ini lagi. Sudah cukup tuhan, sudah cukup dengan apa yang aku rasakan dan tolong jangan membuatku semakin merasa bahwa diriku ini hina. Tolong jangan lakukan itu lagi tuhan," air matanya terus saja mengalir dengan deras.
Di bawah guyuran air yang keluar dari shower, Jasmine terus saja menangisi keadaannya yang menyediakan ini. Sungguh, ini benar-benar menyisihkan dan rasanya Jasmine tidak kuat lagi untuk semua itu.
Setelah puas menangisi keadaan yang sangat menyedihkan ini, Jasmine pun menyudahi kegiatannya di kamar mandi karena dia tahu jika dia terus berlama-lama di dalam kamar mandi maka ibunya akan datang dan kembali mengetuk pintu kamar mandi lalu semakin curiga dengan apa yang telah terjadi padanya.
Setidaknya Jasmine tidak ingin semakin membuatku bukan ibu yang bertambah. Biarlah dia merasakan semua kesakitan ini dan jangan pernah ibunya. Wanita itu sudah begitu banyak menanggung berita dalam kehidupan mereka karena dulunya ayah Jasmine yang terus saja berjudi dan mabuk hingga meninggalkan hutang yang begitu banyak.
Saat Jasmine membuka pintu kamar mandi, betapa terkejutnya dia ketika melihat ibunya yang sudah berada di depan pintu kamar mandi mereka saat ini.
Plak!
Bahkan wanita itu sudah memukulnya dengan cukup keras.
"Lama sekali, aku sudah menunggumu untuk makan dan mungkin saja mie yang ku masak sudah dingin." tanya ibunya lagi dengan tulisan di note kecil miliknya.
"Aku baru saja mandi Bu, lagi pula aku kehujanan jadi aku kedinginan dan aku mandi air hangat untuk mengembalikan suhu tubuhku." jawab Jasmine pada ibunya.
Setelah mendengar jawaban dari putrinya, ibu Jasmine langsung membawa anaknya pergi ke meja makan walau masih dengan menggunakan handuk.
"Ibu, aku belum berpakaian." ucap Jasmine pada ibunya karena memang dia belum memakai pakaiannya tapi sang ibu sudah membawanya ke meja makan.
"Diam dan makan lalu setelahnya kau bisa tidur sampai besok pagi!" ucap ibunya dengan bahasa isyarat.
"Ibu, aku sudah selesai. Aku pergi ke kamar ya, ibu jangan lupa istirahat juga." pamit Jasmine pada ibunya lalu dia datang menghampiri wanita itu dan memeluknya dari belakang.
"Terima kasih karena selalu ada untukku ibu. Aku berjanji bahwa suatu saat hidup kita tidak akan seperti ini lagi. Aku sayang ibu," ucap Jasmine dengan tulus karena memang dia merasakan hal seperti itu.
Ibunya sendiri hanya bisa menganggukkan kepalanya saja karena memang hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini. Selebihnya dia tidak tau harus melakukan apa lagi karena dia juga bingung harus melakukan apa nantinya.
"Jangan terlalu lelah ibu," pamit Jasmine pada ibunya.
Sementara di rumahnya, Leo juga berada di meja makannya kali ini dan dia hanya sendirian di meja makan ini.
"Tidak bisakah kalian menemaniku makan malam ini?" teriak Leo yang merasa sangat kesepian sekali dengan keadaannya saat ini.
Mendengar suara teriakan dari meja makan membuat para pelayan yang sudah tak menghampiri putra mahkota dari pemilik rumah tempat di mana mereka bekerja saat ini.
Mereka takut jika melakukan kesalahan hingga membuat Leo kesal atau makanan yang mereka sajikan malam ini buruk.
"Ya, tuan Leo?" tanya bibi Esme ketika melihat anak aslinya sudah tumbuh dengan begitu cepat nggak berubah menjadi pria yang tampan saat ini.
"Ayo duduk dan temani aku makan. Aku merasa bosan di rumah besar ini sendirian karena tidak ada yang bisa kau ajak bercerita dan kuat yang bermain. Apa bibi bersedia menemaniku makan?" dengan lembut bibi Esme menganggukkan kepalanya untuk menjawab permintaan dari anak asuhnya.
"Baiklah, bibi akan menemani kamu di sini, jadi makanlah." Leo menyendokkan satu persatu makanan itu untuk masuk ke dalam mulutnya. Tapi pikirannya saat ini terus saya tertuju pada Jasmine yang telah menamparnya tadi.
Dia tidak marah dan tidak merasa dendam karena telah dipukul seorang wanita dan satu-satunya wanita yang berani memukulnya adalah Jasmine.
"Apa sedang memikirkan sesuatu?"
"Tidak, Leo tidak sedang memikirkan apa-apa bibi." jawabnya berdusta karena dia tahu bahwa suatu saat apa yang diceritakannya akan sampai kepada kedua orang tuanya.
"Hanya saja Leo benar-benar merasa kesepian saat ini. Entah kapan mereka pulang karena Leo sudah merindukan mereka." ucap Leo karena sejujurnya dia memang sangat merindukan keluarganya terutama kedua orang tuanya dan biarlah Naura yang sudah berbahagia dengan keluarga baru yang di sana.
"Bibi yakin jika sebentar lagi mama dan juga Daddy kmu akan pulang. Jadi bersabarlah sedikit nak.'
"Ah, sudahlah jangan membahas masalah ini lagi karena Leo tidak menyukainya. Lebih baik Leo pergi ke kamar untuk tidur dan beristirahat dengan tenang." ucap Leo yang langsung di jawab oleh bibi Esme.
"Terserah kamu nak,"