One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
S2. Orang Gila



Terhitung sudah dua hari Leo tidak bertemu dengan Jasmine dan itu membuat kepalanya terasa berdenyut. Jangankan bertemu, bahkan untuk menghubunginya saja pun dia susah. Entah apa yang harus dilakukannya saat ini agar dia bisa mendengar suara Jasmine. Lagi pula bagaimana bisa Jasmine tidak memegang ponselnya sama sekali. Dia sudah membuat Leo seperti orang gila saat ini karena semakin dekat hari pernikahan mereka maka rasa rindu itu semakin besar dan membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang karena terus saja memikirkan wajah cantik Jasmine yang berputar-putar di dalam pikirannya. Ibaratnya wajah cantik Jasmine selalu menghantui setiap harinya dan karena itu pula dia merasakan kerinduan yang sangat luar biasa.


"Aahhk.... jika seperti ini aku bisa gila! ke mana kau Jasmine? kenapa aku tidak bisa menghubungimu?" teriak Leo di dalam ruangan kerjanya. Dia merasakan kekesalan yang sangat luar biasa apalagi ketika melihat Joe dan Jose datang, itu semakin membuat kepalanya berdenyut.


"Pergi! jangan membuatku marah dan kesal." ucapnya yang tidak ingin diganggu oleh kedua pria itu. Jika Joe dan Jose sedang bersama seperti ini itu terlihat seperti Oreo. Joe sih hitam dan Jose sih putih.


"Kenapa kau terlihat uring-uringan seperti ini? seharusnya kau senang karena sebentar lagi kau akan menikahi wanita yang kau cintai. Bukan begitu bung?" tanya Jose pada Joe hingga membuat pria berkulit hitam itu langsung menepis tangan Jose yang menyentuh bahunya.


Jose sendiri hanya bisa mencebik saja ketika melihat sikap dan perilaku Joe terhadapnya.


"Kenapa temanmu ini sombong sekali? Apa kalian membagi obat yang sama? Apa ada penjual obat kesombongan?" tanya Jose yang membuat Leo semakin kesal dengan pria itu karena entah apa saja yang dibicarakannya.


"Aku sudah mengatakannya padamu jika tidak ingin keluar maka aku akan melemparkanmu dari jendela kaca. Apa kau ingin mencobanya?" ancam Leo pada Jose hingga membuat pria itu langsung mengangkat kedua tangannya karena dia tidak ingin diperlakukan seperti itu oleh Leo.


"Santai saja bung, daripada kau uring-uringan dan kesal seperti ini lebih baik kita pergi saja. Kau bahkan belum melakukan pesta lajang untuk kami bukan?" tatapan Leo mengartikan segalanya jika saat ini dia merasa sangat terganggu dengan kehadiran pria itu.


Lagi pula pesta lajang apa yang dimaksudnya? dia ini seorang duda yang ditinggal mati istrinya lalu untuk apa lagi melakukan pesta lajang?


"Dia itu duda, bukan pria lajang!"


"Nah kau dengar apa yang kepala suku itu katakan! Aku ini duda dan tidak perlu harus melakukan pesta lajang lagi. Lagi pula jika pun aku ini lajang aku tidak akan melakukan pesta seperti itu karena aku tidak ingin meminum alkohol. Lebih baik kau pergi sekarang." usirnya lagi pada Jose tapi pria itu tetap berada di ruangan kerjanya dan tidak ingin pergi sama sekali.


Sedangkan Joe sendiri tahu apa yang membuat Leo terlihat seperti orang gila seperti ini karena itu sudah pasti Jasmine yang melakukannya. Dia terlihat seperti orang gila saat ini karena pakaiannya begitu buruk dan berantakan.


"Tidak perlu terlalu memikirkannya karena beberapa hari lagi kau akan menikah dengannya. Lagi pula apa susahnya menahan kerinduan untuk beberapa hari saja."


Baik Joe maupun Jose mereka sama-sama terkejut ketika mendengar Leo yang menggebrak meja seperti itu.


"Kalian tidak tahu bagaimana rasanya tersiksa karena rindu karena kalian tidak memiliki wanita yang kalian cintai. Lagi pula aku merasakan hal seperti ini karena aku mencintai Jasmine dan aku harap kalian akan lebih parah merasakannya nanti jika sudah menemukan wanita yang kalian cintai. Lihat saja nanti, jika kalian merasakan apa yang aku rasakan suatu saat maka aku akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini dan aku akan menertawakan kalian sampai puas. Ingat itu!" ucapnya dengan perasaan kesal. Dia benar-benar merasa kesal dengan kedua temannya itu. Bisa-bisanya mereka menganggap dirinya seolah terlalu lebay merasakan semua ini.


Tapi jika dipikir-pikir apa yang Joe katakan itu memang benar sih bahwa sebentar lagi dia akan menikahi Jasmine lalu apa masalahnya. Dia harus bisa bertahan untuk beberapa waktu lagi sampai hari pernikahan tiba.


"Pesan makanan dan katakan pada resepsionis di bawah-bawah aku tidak menerima tamu siapapun hari ini. Pesan makanan yang banyak karena aku ingin melampiaskan kekesalanku terhadap makanan."


"Oke!" jawab Jose dengan antusias karena dia merasa bahagia bahwa Leo mau melakukan hal ini dengannya. Dia menyuruh Joe untuk menghubungi resepsionis di bawah dan menghubungi restoran apa yang akan mereka makan siang ini. Namun, terjadi perdebatan di sana ketika Jose menyuruh Joe dan Joe tidak mau melakukan semua itu Karena dia tidak suka disuruh-suruh dan yang menyuruhnya adalah Jose.


"Kenapa harus aku? kenapa tidak kau sendiri yang melakukannya? bukankah kau orang kaya juga?" tanya Joe yang membuat Jose semakin kesal dengan pria berkulit hitam ini. Rasanya ingin sekali dia memukul kepalanya, tapi Jose tidak berani karena tubuh Joe jauh lebih besar darinya dan mungkin jika dia mendapatkan sebuah pukulan dari pria itu maka dia akan tumbang seketika.


"Hais, kau ini," akhirnya Jose mengalah dan dia menghubungi restoran untuk memesan makanan sedangkan Leo sendiri dia hanya merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil menutup kedua matanya dengan lengan tangannya.


Setelah menghubungi restoran dan menunggu selama hampir satu jam akhirnya makanan mereka sampai dan di sanalah mereka mulai menceritakan banyak hal terutama Jose yang banyak bertanya tentang kehidupan Leo setelah dia kembali dari New York.


"Tidak banyak hal yang bisa kulakukan di sini setelah pulang dari New York. Tapi, jika kau bertanya apa yang aku lakukan di sini sebelum aku berangkat ke New York maka aku akan mengatakan yang banyak. Banyak hal yang aku lakukan di sini sebelum aku bertolak ke sana dan aku bertemu dengan manusia sepertimu. Banyak hal yang ku lewati, dan aku telah membuat hidupku merasa bahagia dengan kebebasan yang kudapatkan dari Daddy. Dia pembebasan untuk melakukan hal apapun di luar sana sebelum aku duduk di perusahaan karena itu perjanjian kami. Jadi jangan tanyakan apapun lagi padaku karena aku sedang lapar!" Leo makan dengan begitu lahapnya dan dia tidak mau memperdulikan lagi kedua teman yang terus saja menetap ke arahnya saat ini, karena yang terpenting dalam dirinya saat ini adalah makan untuk melampiaskan kekesalannya karena tidak bisa bertemu dengan Jasmine.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Joe.


"Bertemu dengan Jasmine!" jawabnya dengan antusias karena memang itu keinginannya.


"Baik, kita akan melakukannya nanti!"