
Hari ini Sandra di bawa ke tempat yang sama sekali belum pernah di datangi olehnya. Tempat yang sangat asing dan tidak di ingatnya sama sekali.
Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di sebuah rumah yang menurutnya cukup mewah dan halamannya sangat indah dengan bunga-bunga yang bermekaran. Dari tatapannya saat ini, Arsen tau jika Sandra sedang mencari tau kebenaran dari semua yang ada di depannya saat ini.
"Ayo Sayang," ajaknya dengan lembut hingga membuat Sandra yang sejak tadi fokus pada bangunan dan taman di depannya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Arsen yang telah mengulurkan sebelah tangannya. Dengan perasaan ragu Sandra menerima uluran tangan Arsen hingga membuat pria itu tersenyum dengan begitu manis padanya.
Sandra sudah keluar dari alam mobil bersama Arsen dan ada beberapa pria berbadan besar yang menyambut kedatangan mereka saat ini. Bahkan Sandra juga bisa melihat jika tempat ini seperti di jaga dengan sangat ketat.
"Kita masuk?" Sandra menganggukkan kepalanya dan pergi memasuki bangunan cantik itu bersama dengan Arsen.
Ketika masuk ke dalam rumah yang kata Arsen adalah tempat tinggalnya dulu membuat Sandra mulai berjalan melihat setiap sudut ruangan yang ada di dalamnya. Beberapa ada foto yang terpajang di dinding dan itu semua foto dirinya. Terlihat sangat indah sekali menurutnya bahkan Sandra tidak tahu jika itu semua hasil manipulasi dari Arsen. Anak buah pria itu yang telah melakukan semua ini dengan begitu mulus tanpa kecacatan sedikitpun. Benar-benar sangat bagus dan terlihat seperti real hingga membuat Sandra menatap ke arahnya. "Apa semua ini foto tentang juta berdua? itu kapan?" tunjuknya pada sebuah foto saat mereka di sebuah taman yang indah.
"Itu saat kita pergi ke Italia. Kamu sangat menyukai tempat itu dan pernah meminta ku untuk kembali membawa Kamu lagi pergi ke sana," jawab Arsen dengan penuh kebohongan. Sandra kembali fokus pada semua yang berada di depannya saat ini.
Ketika Sandra sibuk memandangi setiap sudut rumah, dia mendengar bahwa ada suara ponsel yang benerin dan ternyata itu ponsel Arsen. Melihat Sandra yang juga menatap ke arahnya membuat Arsen tersenyum. "Sebentar ya Sayang, aku pekerjaan sebentar," pamit Arsen sebelum dia menjawab panggilan telepon dari anak buahnya.
"Katakan!" perintah Arsen pada Robby yang menghubunginya saat ini.
"Wilgo mulai menjalankan aksinya dan dari apa yang saya dapat bahwa saat ini mereka sedang dalam perjalanan ke dermaga," jelas Robby pada Asren langsung mengepalkan kedua tangannya jika mendengar beritanya. Dia harus segera menyelesaikan semua ini tapi bagaimana dengan Sandra? Arsen tidak mungkin meninggalkan sandera begitu saja di saat semuanya baru saja dimulai. Kenapa masalah harus datang ketika dia baru saja ingin memulai hidupnya bersama Sandra?
"Kerahkan anak buahmu untuk menjaga dermaga dan pastikan kapal menyelam dan membawa barangnya. Aku tidak ingin barang yang Aku miliki di dapatkan dengan begitu mudah oleh mereka. Pastikan juga jika mereka tidak sampai masuk ke dalam kawasanku!" titah Arsen hingga membuat Robby mengerti dan langsung menjalankan perintah dari bosnya.
"Baik Tuan, mengerti." Arsen memutuskan sambungan teleponnya begitu saja dan dia juga memberikan perintah pada anak buahnya untuk menjaga setiap tempat pribadi miliknya. Termasuk tempat mereka saat ini.
"Pastikan semua ini baik-baik saja dan jaga semuanya. Jangan biarkan siapapun masuk ke kawasan pribadiku! tidak terkecuali."
"Baik, Tuan." jawab anak buahnya serempak mendengar perintah dari bos besar.
Perusahaan besar miliknya berjalan bidang Retail terbesar di kotanya dan perhotelan. Tak jarang Arsen juga menimbun kekayannya dengan memiliki beberapa saham di perusahaan besar lainnya lagi.
"Sudah selesai?" Arsen yang kaget langsung berbalik arah ketika mendengar suara Sandra yang bertanya padanya. Senyum Arsen kembali terukir di wajahnya ketika melihat Sandra yang menyusulnya ke halaman.
"Sudah, Sayang. Ada apa?" tanya Arsen pada Sandra yang datang menghampirinya.
"Pelayan di dalam memberi tahu jika makan siang sudah siap. Jadi Aku menyusul Kamu."
"Kenapa harus Kamu Sayang? apa mereka yang menyuruhnya?" tanya Arsen lagi. Jika memang benar mereka menyuruh sandera untuk menjemputnya ke sini maka mereka semua akan mendapatkan akibatnya. Arsen tidak akan sudah segan menghukum mereka yang telah berani menyuruh calon istrinya seperti itu.
"Bukan mereka, karena Aku sendiri yang berinisiatif untuk menyusul Kamu. Aku hanya ingin semakin mengenal Kamu dan berusaha mengingat apa yang pernah hilang dariku. Setidaknya Aku melakukan semua ini demi kebaikan diriku sendiri dan kebaikan kita mungkin. Jadi-"
"Oke, Aku paham Sayang. Sudahlah, Ayo kita masuk." Arsen kembali menggendong tangan Sandra sedangkan Sandra sendiri masih saja berusaha mengingat dan merasakan setiap sentuhan yang Arsen berikan padanya.
Jujur, Di salam hatinya Sandra masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri benarkah dia dan Arsen sepasang kekasih? jika memang iya kenapa tidak ada satupun memori yang tertinggal di dalam dirinya. Bahkan jika memang dia kekasih Arsen kenapa dia bisa berada di kota lain sementara ini tempat tinggalnya. Lalu bagaimana dengan ibunya?
"Tunggu dulu," langkah Arsen berhenti ketika Sandra yang menghentikannya.
"Ada apa Sayang?" tanya Arsen yang merasa aneh karena tiba-tiba Sandra menghentikan langkah mereka.
"Jika memang ini rumahku, dan kita sepasang kekasih lalu bagaimana bisa aku berada di kota lain sementara ini tempat tinggalku. Tidak hanya itu saja, bagaimana dengan ibuku yang telah meninggal beberapa bulan setelah aku sadar dari koma?" Jantung Arsen berdebar kencang ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Sandra. Dia tidak menyangka jika wanita itu bisa berpikir hingga sejauh ini. Tapi Arsen juga tidak akan membiarkannya begitu saja, karena dia tetap tidak akan membiarkan Sandra mengingat semuanya karena jika sampai Sandra mengingat semua itu, maka apa yang telah di lakukannya akan hancur.
"Ibu dan ayah kandung kamu sudah meninggal jauh sebelum kita bertemu Sayang. Mereka meninggal karena kecelakaan mobil. Aku juga tidak paham saipa wanita yang bersama kamu bilang sebagai ibu kamu itu, tapi yang pasti aku akan mencari informasi tentangnya. Sekarang jangan terus memikirkan hal seperti ini karena aku tidak ingin kepala kamu pusing dan sakit lagi jika berusaha keras untuk mengingat semuanya." akhirnya Sandra mengalah dan dia ikut bersama Arsen karena dia percaya dengan apa yang di jelaskan oleh pria itu. Setidaknya dia mulai mengetahui siapa jati dirinya saat ini dan itu semua berkat Arsen.
...****************...