
Seperti biasanya, pagi-pagi sekali Devina sudah berangkat pergi ke bekerja karena dia harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum Gerry datang.
Devina tidak ingin bertemu dengan pria itu dan kali ini dia datang jauh lebih pagi lagi agar tidak bertemu dengan sang pemilik ruangan.
Tapi dia salah, entah mengapa juga tiba-tiba saja ketika dia sedang membersihkan ruangan kerja pria itu, dia mendengar ada suara aneh di balik pintu yang berada di ruangan ini.
Devina melihat ke arah jam yang menempel di dinding sana dan ini masih menunjukan pukul 06.00 dan kru artinya dia masih memiliki waktu 1 jam lebih sebelum pria itu datang untuk bekerja.
"Siapa yang ada di sana? apa itu pencuri?" tanya Devina yang langsung membawa alat pel-nya untuk menjadi senjata jika di perlukan nanti.
Devina masuk ke dalam ruangan itu secara perlahan sebelum dia menangkap basah pencuri di dalam sana.
"Aku akan menangkapnya dan akan ku buat dia menyesal." ucap Devina yang mengendap-endap untuk masuk ke ruangan itu.
Ceklek...
Dengan lembut Devina membuka pintu ruangan pribadi milik Gerry karena dia masih berpikir bahwa yang ada di dalam ruangan adalah pencuri.
"Astaga, benar-benar ada pencuri di sini." ucap Devina dalam hati saat dia melihat ada seseorang yang berada di dalam kamar mandi.
Dia menghampiri pintu kamar mandi dan bersiap untuk melakukan penyerangan setelah pria yang ada di dalam ruangan itu keluar.
Devina menghitung dalam hati dan ketika pintu kamar mandi ini dibuka dia langsung melakukan aksinya untuk menangkap basah pencuri tersebut.
"Rasakan kau, akan ku buat kau menyesal karena telah mencuri di ruangan ini. Rasakan ini!" teriak Devina yang memukuli pria tersebut dengan sekuat tenaga.
bugh...bugh...bugh...
"Devina, hentikan itu. Hentikan Devina." teriak Gerry karena memang dialah yang berada di ruangan itu dan Devina berpikir bahwa ada maling di rumah ini.
"Hah?" Devina yang terkecil ketika mendengar suara yang sangat dikenalinya langsung mundur beberapa langkah. Dia bahkan menjatuhkan alat pel-nya begitu saja karena takut akan apa yang telah dilakukannya tadi.
Merasa devina yang tidak memukulinya lagi membuat Gerry langsung melihat ke arah wanita itu dan mendapat terkejutnya dia ketika melihat devina yang sudah ingin melarikan diri.
"Mau kemana kamu?" tanya Gerry ketika dia berhasil mendapatkan Devina yang hendak keluar membuka pintu ruangan pribadinya.
Brak!
Gerry kembali menutup pintu ruangan pribadinya agar Devina tidak bisa keluar dari kamar ini. Dia ingin tahu apa yang membuat wanita itu hingga datang ke ruangannya dan bisa memukul seperti ini.
"Pak, saya mohon tolong lepaskan saya pak. Maaf, saya tidak tahu jika itu benar-benar bapak. Saya pikir ada pencuri jadi-"
"Jadi apa Devina?" tanya Gerry yang sengaja mengunci pergerakan wanita itu. Devina sendiri malah tidak bisa melakukan apa-apa lagi karena Gerry yang menghimpit tubuhnya saat ini dengan kedua tangannya yang mengunci pergerakannya.
"Maaf untuk apa Devina?" tanya Gerry yang semakin memangkas jarak di antara mereka berdua.
"Pak saya mohon lepaskan saya pak, saya-hemph..." bibir Devina langsung di bungkam oleh bibir Gerry karena memang pria itu merasa gemas dengan wajah Devina yang ketakutan tapi terlihat gemas di matanya.
Apalagi ketika Devina terus aja berbicara hingga membuat kedua bibirnya bergerak-gerak seperti itu dan membuat Gerry tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya.
Gerry terus saja melakukan aksinya karena dia mencium bibir Devina terasa sangat panas tanpa memakai lipstik.
Devina benar-benar cantik definisi cantik apa adanya tanpa sentuhan make up dan Gerry menyukainya.
Merasa bahwa Devina ya mulai kehabisan nafas membuat diri langsung menghentikan ciuman keduanya.
"Devina,"
brugh...
Devina mendorong tubuh tinggi Gerry sekuat tenaganya agar pria itu bisa menjauh dari dirinya. Entah mengapa rasanya dia kembali di nodai oleh Gerry.
"Devina, maafkan aku Devina, aku tidak bermaksud melakukan hal itu padamu aku hanya-"
"Berhenti mengatakan maaf padaku karena anda tidak salah. Akulah yang bersalah di sini karena aku masuk ke ruangan pribadi anda. Andai saja aku tidak masuk ke ruangan ini mungkin anda tidak akan pernah melakukan hal ini padaku. Terima kasih pak, terima kasih karena telah kembali menodai diriku dan membuat diriku semakin rendah diri hadapan Tuhan. Ketahuilah pak, bahwa saya tidak akan membenci anda tapi saya mohon, jangan pernah menganggu hidup saya lagi. Cukup pak, sudah cukup dengan semua ini." ucap Devina dengan mata yang berkaca-kaca.
Entah mengapa rasanya dia merasa bahwa dirinya ini sangat hina sekali. Sudah dua kali dia mendapatkan perlakuan buruk seperti ini dan Gerry lah yang melakukannya.
"Saya permisi pak," Devina langsung pergi meninggalkan ruangan kerja Gerry hingga membuat pria itu langsung ingin mengejarnya.
"Devina, maafkan aku Devina." teriak Gerry berusaha untuk meminta maaf pada wanita itu karena dia benar-benar menyesal telah melakukan hal ini padanya.
Gerry tahu bahwa dia telah salah melakukan hal ini pada Devina, tapi dia juga tidak bisa menahan dirinya untuk menolak pesona Devina.
Pesona wanita itu benar-benar sangat kuat hingga membuatnya bisa lupa diri dan melupakan segalanya begitu saja ketika berhadapan dengan Devina.
"Devina, maafkan aku." ucap Gerry yang mengejar wanita itu hingga ke luar ruangannya.
Saat Devina hendak masuk ke dalam lift, Gerry kembali menahannya dan menarik tangannya.
"Pak, saya mohon jangan lakukan ini pada saya." ucap Devina yang kembali memohon pada Gerry untuk tidak melakukan hal ini lagi padanya.
Dia hanya ingin bekerja dengan baik untuk bisa menyambung kehidupannya. Tapi Gerry malah membuatnya kembali merasa terpuruk dengan ini semua.
"Maafkan aku Devina, aku belum minta maaf padamu. Sumpah, aku tidak sengaja melakukan hal itu dan aku tidak bisa menolak pesonamu Devina. Tolong, tolong maafkan aku dan terima pertanggungjawaban dariku Devina. Aku masih yakin dengan keyakinanku bahwa ada yang tertinggal dari ku di dalam dirimu Devina. Aku mohon mengertilah." Devina menggelengkan kepalanya karena dia tidak ingin mendengar apapun lagi yang kiri jelaskan tandanya.
"Percayalah pak, bawa apa yang Anda yakin itu tidak benar sama sekali. Tidak ada dari dalam diri anda yang tertinggal di dalam diriku. Tidak ada pak, jadi saya mohon berhenti mengatakan hal itu dan biarkan saya melanjutkan kehidupan saya. Saya sudah memaafkan anda dan saya juga sudah mengikhlaskan segalanya. Demi Allah saya iklhas pak."