One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
S2. Satu Mobil



Keesokan paginya, saat Leo dalam perjalanan menuju perusahaan ya dia melihat ada seorang wanita yang sangat dikenal hingga berada di halte bus. Ini sudah hampir setengah delapan pagi dan sebentar lagi waktunya bekerja. Apalagi pagi ini cuaca sedang buruk karena hujan cukup deras.


Awalnya Leo merasa tidak peduli dan dia melewati Jasmine begitu saja di halte bus karena memang tidak penting. Tapi entah mengapa rasa kasihan muncul dalam dirinya hingga membuat Leo kembali memundurkan mobilnya.


Jasmine dan beberapa orang yang berada di halte bus itu cukup kaget ketika melihat ada sebuah mobil mewah yang kembali mundur ke belakang setelah melewati mereka tadi.


Dan betapa kagetnya Jasmine ketika melihat siapa pria yang berada di dalam mobil mewah tersebut saat kaca jendela mobilnya di turunkan.


"Aku akan menghitung sampai 3, dalam perhitungan ketiga kau tidak ingin masuk ke dalam mobilku tidak akan pernah lagi menolong kamu." Jasmine berpikir sejenak apa yang akan dilakukannya saat ini karena dia juga tidak mungkin ikut masuk ke dalam mobil mewah itu.


Siapa dirinya ikut masuk ke dalam mobil mewah yang sedang di naiki Leo saat ini.


Di saay Jasmine sedang berpikir apa yang akan dilakukannya nanti, lihat sendiri sudah mulai berhitung dan ketika hitungannya sampai di angka 2 saat itu juga Jasmine berlari menembus hujan dan masuk ke dalam mobil tersebut.


"Maaf, tapi bagaimana ini jika basah?" tanya Jasmine karena dia takut baju basahnya ini mengotori mobil mahal milik Leo.


"Maka kau yang harus membersihkannya!" jawab Leo seadanya.


"Tapi kenapa harus aku?" tanya Jasmine yang masih tidak mengerti dengan apa maksud Leo saat ini.


"Lalu kau pikir siapa lagi? lagi pula yang menaiki mobilku ini kau jadi harus kau membersihkannya apa harus Daddy-ku yang membersihkan mobil ini?" Jasmine langsung menggelengkan kepalanya karena dia juga tidak akan mungkin membiarkan bos besar yang membersihkan mobil ini karena dia yang telah mengotorinya.


"Oke, fine. Aku yang akan membersihkannya, jadi jangan lagi mengatakan bahwa bos besar yang akan membersihkan mobil ini." ucap Jasmine yang membuat Leo diam karena dia tidak fokus dengan semua itu lagi.


Saat ini fokusnya terus saja tertuju pada jalanan karena memang jalanan pagi ini sangat licin dan dia juga jauh lebih fokus lagi karena memang hujan turun dengan deras pagi ini.


Sedangkan Jasmine sendiri yang menumpang mobil Leo pagi ini terlihat gugup dan tidak nyaman. Apalagi dia merasa bahwa Leo sesekali menatap ke arahnya tapi dia tidak berani mengatakannya karena takut jika dia di katakan terlalu percaya diri karena di tatap seperti itu.


Karena terlalu lama diam, akhirnya mereka tidak sadar jika mereka sudah sampai di perusahaan lagi ini. Terlebih lagi Jasmine yang tidak sadar jika mereka sudah sampai di perusahaan.


"Kau mau sampai kapan berada di dalam mobilku? apa kau terlalu nyaman denganku?" tanya Leo yang membuat Jasmine langsung tersadar dengan apa yang pria itu katakan.


Sungguh, rasanya Jasmine benar-benar merasa malu dengan apa yang terjadi pada mereka saat ini. Apalagi ketika Leo sampai menegurnya seperti itu.


"Terima kasih!" jawab Jasmine yang langsung ingin keluar dari dalam mobil Leo namun dia tidak bisa membukanya.


"Kenapa ini tidak bisa di buka?" tanya Jasmine tidak bisa membuka pintu mobil milik Leo.


"Tolong buka pintu mobilnya, perusahaan tempat kita bekerja jadi tolong biarkan aku turun dari mobil dan terima kasih atas tumpangannya." jawab Jasmine karena memang dia tidak ingin menjadi pusat perhatian banyak orang karena apa yang mereka lakukan saat ini. Apalagi ini sudah waktunya bekerja, jadi mungkin akan banyak orang yang akan melihat mereka.


klik!


Leo menekan sebuah tombol hingga membuat pintu mobilnya langsung terbuka begitu saja setelah dia menekan kunci otomatisnya.


"Keluarlah! kau bisa keluar sekarang." usir Leo yang menyuruh Jasmine untuk keluar dari dalam mobilnya.


Jasmine langsung keluar dari mobil Leo ketika pintunya sudah di buka. Begitu juga dengan Leo yang langsung keluar dari dalam mobilnya setelah Jasmine keluar.


Ketika dia hendak masuk ke ruangan kerja daddy-nya, tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika melihat Darius yang menatap penuh kekagetan padanya.


"Aku pernah mengatakan padamu bahwa kau harus menunggu waktu kurang dari 3 tahun bukan? tapi nyatanya ini tidak sampai dua tahun aku sudah berada di atas mu bukan?" Leo sengaja mengatakan hal seperti itu karena dia ingin melihat bagaimana reaksi Darius ketika minatnya memakai pakaian rapi seperti itu.


Usianya memang masih 18 tahun tapi dia berani bertaruh kepintaran dengan Darius yang sudah berusia 25 tahun.


"Tapi tenang saja, bekerjalah dengan baik dan jangan sampai membuatku muak denganmu hingga menendangmu dari perusahaanku. Jadi bekerja keraslah dengan baik dan jangan terlalu sombong dengan apa yang kau miliki saat ini." sindir Leo.


Dia meninggalkan Darius begitu saja karena pekerjaannya pagi ini cukup banyak dan dia tidak akan mau menyia-nyiakan waktu lama untuk berdebat dengan Darius.


Sedangkan Darius sendiri benar-benar tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini jika Leo adalah anak pemilik perusahaan tempat dimana dia bekerja selama ini.


"Jika begini, aku tidak bisa bermain-main lagi dengannya. Bisa saja dia menunjukan kuasanya dengan memecatku hanya dengan alasan tidak masuk akal seperti ini." ucap Darius yang tidak akan mencari perkara lagi dengan Leo.


Saat masuk ke dalam ruangan kerja sang Daddy, Leo sudah di hadapkan dengan begitu banyak berkas-berkas yang harus di periksanya.


"Ayo, kita akan selesaikan ini semua sebelum jam makan siang!" ucap Leo dengan semangat yang membara. Dia membuka jas yang di pakainya dan hanya menggunakan kemeja putihnya yang di gulung sampai ke lengan lalu mulai bekerja.


Leo mulai belajar memimpin periksaan karena mau tidak mau dia akan menjadi pewaris tunggal dari kerajaan bisnis milik Daddy-nya.


"Jika aku memiliki saudara lagi, lebih baik aku memilih menjadi manusia biasa saja agar aku bisa berjalan kemana pun tanpa harus takut dengan nama baik yang harus aku jaga." gerutunya karena memang dia harus mengerjakan semua itu dengan baik tanpa harus mengeluh.


"Aahhh...Daddy, ayo cepat pulang!" teriak Leo di dalam ruangan kerjanya karena memang dia mulai lelah dengan semua pekerjaan ini.