
Sebenarnya, Leo sedang merasa muak berada di tempat acara seperti ini tapi dia tidak bisa pergi karena mamanya yang masih bertahan di sini.
Entah bagaimana bisa dilepas dari acara mau makan ini agar dia bisa bernafas dengan tenang. Perlahan tapi pasti Leo menjauh dari kerumunan itu karena menurutnya ini tidak penting sama sekali.
Namun, saat dia merasa sendirian tiba-tiba saja datang seorang wanita yang duduk di dekatnya.
Melihat hal tersebut membuat Leo kaget dan langsung menjauhkan tubuhnya dari wanita itu. Dia tidak ingin terlibat apapun dengan yang namanya wanita karena menurutnya belum saatnya dia berdekatan dengan lawan jenis. Apalagi dengan usia yang masih 18 tahun seperti ini dia rasa dia tidak perlu melakukan hal itu karena pada akhirnya nanti, dia juga akan merasakannya jika waktunya sudah tepat dan saat ini semua itu tidak tepat.
"Kenapa menjauh?" tanya gadis itu ketika melihat pria yang didekatinya langsung menjauh begitu saja ketika dia duduk di dekatnya.
Leo sendiri hanya menggelengkan kepalanya saja karena dia tidak tertarik sama sekali untuk memulai obrolan di antara mereka. Menurutnya hari ini adalah hari menyebalkan baginya karena dia pikir dia bisa beristirahat dengan tenang setelah hampir dua minggu bekerja keras di kantor lalu kuliah pula di pagi hari.
Namun, kangennya hanya tinggal kenangan karena tidak mungkin dia meninggalkan sang Mama berada di tempat ini sendirian tanpa pengawalan.
"Claudia," ucapkan dengan ramah dan penuh sopan santun. Bahkan gadis itu mengeluarkan tangannya ke arah Leo agar dia mau menjabatnya.
Tapi tidak semudah itu membuat Leo yang memiliki hati sekeras batu bisa melulu begitu saja hanya dengan senyuman tulus dari seorang wanita karena cara kerjanya tidak seperti itu.
Sebenarnya Leo adalah anak yang paling mudah bergaul hanya saja karena teman-teman yang berada di sekitarnya lebih sering membawa pengaruh buruk padanya dan pada teman-teman yang lain maka dia lebih memilih untuk tidak menjalin hubungan apapun di kampusnya termasuk dengan pertemanan dengan circle tertentu.
"Ah, apa aku harus memastikan bahwa tanganku benar-benar bersih baru kamu mau menjabat tanganku? tapi aku rasa tanganku cukup bersih karena aku memakai hand sanitizer dan juga tisu basah untuk mengelapnya sebelum berkenalan denganmu. Bukankah ini tidak ada bagiku?" tanya wanita itu yang sengaja memancing perbincangan di antara mereka.
Tapi usahanya sia-sia saja karena Leo sama sekali seperti tidak tertarik dengan apa yang ingin tau apa yang Claudia bicarakan saat ini
"Apa anak tunggal? tapi aku rasa tidak sama sekali karena aku tahu bahwa kamu memiliki kakak yang sangat cantik dan sekarang dia sudah menikah dengan keturunan dari penguasa Eropa. Tapi aku hanya ingin menjelaskan di sini bahwa aku adalah anak tunggal dan aku tidak memiliki saudara maka dari itu bisakah kita berteman?" Claudia sendiri kembali mengulurkan tangan yang berharap bahwa apa yang dilakukannya untuk kedua kali ini disambut baik oleh Leo.
Melihat bagaimana wanita itu yang mengeluarkan tangannya dengan penuh ketulusan dan kelembutan di dalam hatinya membuat Leo sedikit luluh.
Dia juga mengeluarkan tangannya hingga membuat pria itu mau berjabat tangan dengannya dan berkenalan secara langsung.
Dari apa yang dilihatnya saat ini Leo sedikit merasa nyaman dan tertarik dengan wanita itu. Setidaknya dia juga tahu bahwa kalau dia juga merasakan ketidaknyamanan berada di tempat acara seperti ini.
"Apa yang kau rasakan lalu bagaimana bisa kamu ikut bersama mamamu?" kembali bertanya pada Leo agar pria mudah dihadapannya ini mau membuka pembicaraan diantara mereka.
"Tidak ada seorang anak yang bisa menolak keinginan ibunya dan jika ada anak yang menolak keinginan ibunya itu berarti dia tidak pernah mencintai ibunya dengan tulus. Sebagai seorang anak aku hanya melakukan apa yang menurutku pantas dan bisa membahagiakan ibuku maka aku akan melakukannya. Tidak banyak, karena aku tahu bahwa ibu tidak akan pernah memaksakan kehendaknya terhadapku. Lalu apa yang kau lakukan di sini bersama ibumu?" tanya Leo dengan raut wajah datarnya. Bahkan saat ini dia sudah tidak lagi menatap pada wajah cantik kalau dia karena tatapannya hanya tertuju ke depan saat ini. Mereka masih berada di ruangan restoran mewah ini, hanya saja Leo dan Claudia sudah memisahkan diri dari gerombolan.
"Tidak yang berbeda dengan apa yang kamu lakukan untuk ibumu. Jika hal ini untuk menjadi anak yang baik bagi ibumu maka tidak denganku. Aku selalu saja ingin ikut ke mana ibuku pergi karena hanya dialah teman terbaikku. Tidak ada yang ingin berteman denganku karena menurut mereka aku ini menyebalkan jadi ya begitulah." jawabnya dengan tersenyum lembut.
Leo menata gadis itu sejenak lalu dia kembali mengalihkan pandangannya karena dia tidak ingin terperangkap dengan pesona Claudia.
Menurutnya, Claudia ini memiliki wajah yang unik dengan lesung pipi di wajahnya. Rambut pirangnya benar-benar sangat cocok dengan wajah cantiknya itu.
"Teman, apa kamu nggak bisa memiliki teman di luar?"
"Tidak karena menurutku teman zaman sekarang kita terlalu banyak yang toxic. Mengatas namakan pertemanan hanya untuk kepentingan pribadi. Aku tidak butuh manusia-manusia seperti itu karena aku paling membenci hal semacam ini. Apalagi yang namanya hubungan bisnis, tapi kau tau apa tentang bisnis karena aku yakin bahwa kau tidak mengetahui apapun tentang bisnis."
"Jangan terlalu meremehkan seorang wanita yang belum kamu ketahui bisa melakukan apa. Tidak semua wanita muda dan menjadi anak tunggal tidak bisa melakukan apa-apa. Aku sudah di ajarkan untuk belajar dengan kehidupan sejak kecil, jadi jika itu hanya perusahaan keluargamu saja aku masih bisa menanganinya dengan baik." jawab Claudia yang sengaja mengatakan hal seperti itu agar Leo tau jika perempuan juga bisa melakukan hal yang sama dengan aka yang bisa pris lakukan.
Setidaknya tidak ada lagi kesenjangan dan perbedaan di antara kita karena kita ini satu dan akan tetap sama di mata Tuhan.
Leo tidak menjawab lagi karena dia masih fokus dengan ponselnya saat ini karena dia sedang menunggu email masuk dari kampus untuk acara perlombaan antar mahasiswa Minggu depan.
"Apa kau masih kuliah?" tanya Claudia.
"Kuliah dan jangan tanyakan aku semester berapa karena aku akan kaget nantinya!"