
Seluruh keluarga besar King Alexander sedang panik tatkala menghadapi situasi kelahiran calon pewaris selanjutnya pemimpin perusahaan milik keluarga besar mereka karena hari ini adalah hari yang di nantikan.
"Al, jangan panik karena semua akan baik-baik saja. Istri kamu tidak akan kenapa-kenapa dan berdoa saja pada Tuhan untuk segala kelancarannya." ucap Matheo pada putranya karena memang Alta terus saja merasa panik karena saat ini Naura sedang berjuang di ruang persalinan.
Alta sendiri sudah mengatakan pada istrinya untuk melakukan operasi Caesar saja agar Naura tidak merasakan kesakitan tapi wanita itu tetap kekeh pada pendiriannya bahwa dia ingin melahirkan secara normal. Lagi pula apa yang ditakutkannya semuanya sudah baik-baik saja dan dia dinyatakan siap untuk melakukan persalinan normal lalu untuk apa dia melakukan operasi Caesar jika normal saja bisa.
Operasi Caesar itu hanya untuk opsi kedua jika opsi pertama tidak bisa dilakukan. Tapi pada posisi Naura saat ini opsi pertama dia bisa melakukannya dan dia siap untuk melakukan hal itu.
"Bagaimana Al tidak panik Dad, dalam sana istri Al sedang berjuang keras untuk melahirkan calon anak kami, lalu bagaimana bisa tidak merasakan panik sama sekali?" tanya Alta karena memang dia merasakan kepanikan yang luar biasa saat ini. Sungguh, dia benar-benar ketakutan karena terus saja memikirkan keadaan istrinya.
"Saat ini sindiran ketakutan dan masuk ke dalam untuk menemani istrimu. Saat yang dibutuhkan Naura adalah support system dari suaminya dan kamu harus berada di dekatnya untuk menyemangati dia."
"Tapi Dad-"
"Masuklah sayang, temani istri kamu karena saat ini Naura sangat membutuhkan kamu. Kamu adalah sumber kekuatannya, jadi pergi untuk menamainya." ucap Diandra yang berusaha untuk menenangkan putranya agar tidak merasa khawatir lagi dengan semua ini.
Terlihat Alta menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menghembuskannya lagi. Dia berusaha untuk meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa dia sanggup dan bisa melewati semua ini demi Naura yang tengah berjuang untuk melahirkan calon buah hati mereka.
"Doakan istri dan anak Al Mom, Dad." ucap Alta yang memohon doa restu karena kedua orang tuanya untuk anak dan istrinya.
Saat halte pertama kali masuk ke ruangan bersalin dia melihat bahwa saat ini kepala calon anaknya sudah hendak keluar dan dia melihat bahwa istrinya sedang merasakan kesakitan yang luar biasa saat ini.
"Sayang,"
"Gege..." air matanya berlinang begitu saja tanpa di pandu olehnya ketika melihat sang suami yang datang untuk mendampinginya.
"Kamu pasti kuat sayang, kamu kuat." ucap Alta yang berusaha untuk menguatkan sang istri yang terlihat sudah sangat kelelahan.
"Aku bisa Gege, aku bisa." ucap Naura dengan yakin karena memang dia yakin bahwa dia bisa bertahan dengan semua ini.
"Ayo bu, sedikit lagi." ucap sang bidan yang membantu proses kelahiran Naura saat ini.
Mendengar aba-aba dari dari bisan membuat Naura kembali berusaha untuk mendorong keluar calon anak mereka.
"Dalam hitungan ketiga ya ibu, satu, dua, tiga."
"Eghhh...." Naura mendorong sekuat tenaganya mendorong suatu tenaganya untuk mengeluarkan calon anak mereka hingga perjuangannya berhasil.
Air semakin deras ketika mendengar suara tangisan dari anak yang sudah dilahirkannya.
"Sayang, anak kita suha lahir. Anak kita sudah lahir sayang..." Alta tak henti-hentinya mengucap syukur dan mencium kening sang istri ketika dia melihat bahwa anak mereka sudah lahir dengan selamat. Ini adalah berkat dan anugrah terindah dari Tuhan untuknya.
Dia menikah dengan Naura, lalu di karuniai anak yang terlahir dengan sempurna saat ini.
Apalagi ketika bidan meletakkan anaknya di dadanya masih dalam keadaan belum dibersihkan. Ini adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan padanya.
"Ya Tuhan, ini anakku, ini anak kita Gege..."
"Iya sayang, ini anak kita. Ini putri kita dan aku akan memberinya nama Aleera Casio King Alexander." Naura tersenyum ketika mendengar nama untuk putri mereka dan itu terdengar sangat indah sekali.
"Nama yang indah," ucap Naura yang lemas. Jujur tenaganya terkuras habis setelah berjuang untuk melahirkan calon anak mereka.
"Biar di bersihkan dulu ya ibu," bidan kembali mengambil bayi Naura dan Alta untuk di bersihkan begitu juga dengan Naura.
Alta juga sedang bersiap untuk membersihkan dirinya karena dia akan melakukan sentuhan pertama bagi Putri mereka.
Skin to Skin, Alta sendang melakukan hal itu Dan saat dia menggendong putrinya dengan kedua tangannya sudah tiba-tiba saja air matanya jatuh.
Alta benar-benar merasa bahwa kebahagiaannya sudah lengkap dan semua ini di lengkapi dengan kehadiran Naura dan juga Putri mereka.
"Terima kasih telah ada dalam hidup kamu sayang, kamu dan Mama kamu menjadi kado terindah dalam hidup Papa. Terima kasih karena telah berdua bersama mama kamu. Kamu dan mama kamu adalah sumber kebahagiaan bagi papa. Teruslah sehat dan tumbuh dengan baik untuk kami semua Aleera, papa mencintai kamu sayang."
Cup...
Alta mencium kening putrinya karena dia benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat ini.
Setelah selesai dengan putrinya, Alta pergi keluar dari ruangan itu karena memang sebentar lagi Naura juga akan di pindahkan ke ruangan rawat.
"Selamat kakak, kalian akan tau bagaimana rasanya bergadang karena mengurus bayi dan aku harap kakak bisa menahan hasrat kaa selama satu bulan penuh." ucap Sheela karena memang dia selalu menggoda kakaknya seperti itu.
"Bisa diam tidak?" Alta menatap tajam pada adiknya yang menyebalkan itu karena memang dia selalu seperti itu.
"Al, kenapa selalu marah-marah pada adik kamu? bukankah adik kamu mengatakan hal yang benar?" tegur mom Diandra karena dia selalu saja melihat Alta yang selalu saja bertengkar dengan adiknya.
Apalagi mereka tinggal di Indonesia dan juga Sheela yang tinggal bersama mereka juga.
"Rasakan wleeekk..." Sheela kembali mengejek kakaknya karena dia merasa bangga bahwa dia dibela oleh mom Diandra.
"Sheela, kamu juga salah. Tidak seharusnya kamu terus saja mengejek kakak kamu seperti itu. Lagi pula kamu juga baru saja datang dari Bali bukan?" Diandra juga menegur anak bungsunya yang terus saja mengejek kakaknya.
"Maaf, mom." ucap Sheela yang menyesal dengan semua ini karena memang juga merasa bersalah karena telah menggoda kakaknya.
"Sudahlah, kita harus melihat kakak Naura di ruang rawatnya. Sebentar lagi dia akan keluar dan di bawa ke ruang rawat." Akhirnya pertengkaran mereka selesai dengan semua pertengkaran yang tidak bisa di bicarakan lagi ketika melihat Naura yang sudah di bawa keluar dari ruangan persalinan.