One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
Menikahi Dosen Killer



"Ayo. Sayang, makan dulu setelah makan barulah istirahat kalian pasti capek," ajak mama kepadaku dan pandangannya beralih ke arah belakang di mana rupanya Abrar berdiri tepat di belakangku.


Kami berdua berjalan mendekati kursi masing-masing yang berjajar berdekatan, ketika aku mau menarik kursi Abrar sudah lebih dulu menarik kursi tersebut untukku, setelah itu barulah dia menggeser untuknya sendiri.


Tanpa banyak bicara, aku mengambil piringku dan menuangkan nasi ditambah ayam kecap dan telur balado. Tidak lupa sambalnya dengan lalapan timun. Dan aku langsung makan dengan lebih cepat serta kaki yang aku angkat sebelah menginjak kursi.


Yang langsung di colek oleh Mama. Ketika aku mengangkat wajah, semua orang yang berada di meja makan mengarahkan pandangannya padaku dengan tatapan heran.


"Sayang, kok makannya kayak gitu? nggak sopan itu kaki diangkat-angkat turunkan!" Mama setengah berbisik padaku yang kebetulan duduknya di sampingku.


Aku mengarahkan pandangan ke arah Umi yang menatapku begitu heran dan aku pun merasa malu, sehingga segera menurunkan kakiku. Dan aku buru-buru menghabiskan makan ku.


Yang lain pun tampak menikmati makan malamnya sambil ngobrol tentang kepulangan Umi ke daerah Bekasi yang tidak mau menginap di mari.


"Kenapa, Umi nggak menginap saja dulu di sini barang satu malam dan besok barulah pulang!" kata Mama kepada Umi.


"Tidak, lain kali saja. Lagian kan dekat juga, kapan saja kita bisa bertemu. Oya Abrar ... jangan lama-lama ninggalin rumahnya. Sayang kalau nggak ada yang menghuni, walaupun ada Bibi alangkah baiknya Kamu sendiri yang mengisi dan bawa istri kamu tinggal di sana." Kata Umi dengan lembut kepada putranya.


Dan perkataan umi itu membuatku tersedak dan dengan sigap suamiku, Abrar langsung menyodorkan minum buatku.


Umi, papa. Mama menatap ke arahku seraya berkata, makannya jangan terlalu cepat-cepat nanti tersedak lagi.


Aku hanya nyengir menunjukkan gigiku yang bersih dan berbaris rapi. Lalu melanjutkan makanku dan menyudahinya dengan banyak sisa di piring.


"Sebaiknya makan itu dihabiskan! Pamali menyisakan makanan, masih banyak orang yang kelaparan!" kata pak Abrar padaku.


Aku berdiri, mencuci tangan di wastafel yang ada di belakangku. "Aku tidak begitu lapar!" ketus ku. Lalu setelah mencuci tangan aku membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa kantong makanan dan coklat, aku membawanya ke atas, dimana kamarku berada.


Di meja makan, tampak tegang melihat sikap ku yang cuek pada suami dan tidak memperdulikannya, papa berusaha mencairkannya.


"Ya sudah kita lanjutkan lagi makannya, dia emang kayak begitu tolonglah dimaklumi, sikapnya masih kekanak-kanakan! makanya saya ingin Abrar dapat mendidiknya agar menjadi wanita yang lebih baik, lebih dewasa dan tanggung jawab!" Katanya sambil kembali menyiapkan nasi ke mulutnya.


"Ini sebuah PR untukmu Abrar. Dan jika kamu berhasil kamu akan sangat beruntung. Hadapi dengan sabar, karena sekeras apapun sebuah batu kalau lama-kelamaan biarpun kena setetes air dia akan membekas!" Lirih umi kepada putranya.


"Iya Umi, insya Allah aku akan sabar menghadapinya," Abrar mengangguk sembari melanjutkan makannya.


"Saya sudah berusaha untuk mendidiknya! agar lembut dan menurut, tanggung jawab dan dewasa! tapi saya belum berhasil, yang ada saya malah terus ditentang, jarang sekali Dia mau menurut pada saya ataupun papanya," ungkap Mama sembari melirik ke arah sang suami yang menganggukkan kepala, dia merasa putus asa dan tidak tahu harus gimana cara mendidik putri semata wayangnya tersebut.


"Saya sangat percaya kalau anak Abrar ini bisa merubahnya, memang tidak akan bisa instan tapi setidaknya lambat laun ... dia akan lebih menghormati dan menurut sama suaminya, hormat pada orang tuanya!" ucap papa yang ditujukan kepada Abrar yang sedikit manggut-manggut.


Begitu selesai makan, Umi pun berpamitan. Dia akan pulang bersama sopirnya yang sudah menunggu di depan.


"Iya insya Allah, Umi ... tapi nggak bisa dalam waktu dekat ini, karena besok lusa kami akan berangkat ke luar Negeri dalam berapa bulan ini seperti yang Umi tahu!" perkataan Mama mengingatkan Umi kalau mereka menikahkan Abrar dengan putrinya, karena mama dan papa akan ke luar Negeri, supaya selama di sana, Sahila ada yang menjaga.


"Bisa saja, saya menitipkan pada saudara atau kerabat yang lain. Tapi belum tentu saya Sahila bisa menurut, sebagaimana pada orang tuanya pun dia membangkang berbuat semaunya saja, kurang bertanggung jawab manja dan suka main hingga lupa waktu.


"Makanya, kami menitipkan Sahila kepada Umi juga agar dididik. Siapa tahu dia lebih mau mendengarkan Umi ketimbang kami papa dan Mamanya," sambung papa sambil jalan mengantar Umi ke teras.


"Iya insya Allah, jika memang ada kesempatan kamu bersama dan seandainya dia berbuat sesuatu yang kurang berkenan. Pasti akan Umi tegur dan janganlah kalian sakit hati jika Umi menegurnya." Umi memandangi kedua besannya bergantian.


"Tidaklah, Umi. Kami tidak mungkin tersinggung ataupun marah, kalau memang seperti putri saya yang salah!" Mama tersenyum lalu menyalami Umi yang kemudian berjalan menghampiri mobilnya setelah mengucapkan salam.


Abrar mengantar sampai dekat mobil meraih tangan Umi lalu mencium punggungnya. "Hati-hati Umi. Pak sopir hati-hati ya?" Abrar menyembulkan kepalanya melalui jendela, melihat ke arah sopir yang langsung mengangguk.


"Abrar, jadilah suami yang baik ya, Nak istri kamu masih kanak-kanak mengingat usianya masih belasan, dia belum dewasa! makanya kamu harus ekstra sabar menghadapinya, jangan terburu dan harus bisa mendidiknya. Ingat itu anak orang yang kamu pun harus hati-hati bila menegur Di saat dia berbuat kesalahan," ucap Umi sambil memeluk putranya dengan sangat erat.


"Iya umi!" balasnya Abrar sambil menganggukkan kepala dan membukakan pintu mobil untuk ibundanya. Matanya pun mengedarkan ke arah lantai atas gimana kamar Sahila berada dalam pikiran Abrar, istrinya tidak mengantarkan sang mertua ataupun menyalaminya saat mau pulang.


Umi yang mengerti dengan apa yang Abrar pikirkan langsung berkata. "Tidak apa-apa, dia tidak menemui, Umi. Lagian kan tadi ketemu di meja makan, bilang saja salam Umi kepadanya ya!" Umi menepuk bahu putranya.


Lalu kemudian wanita yang bertubuh tinggi berkerudung panjang pun masuk ke dalam mobilnya, setelah di dalam. Dia melambaikan tangan ke arah kedua besannya yang berdiri di teras.


Begitu mobil Umi menghilang Abrar membalikan tubuhnya menghampiri Mama dan Papa yang mengajaknya masuk. Ke dalam rumah kembali.


"Sebaiknya, Nak Abrar istirahat saja, bukannya besok mau langsung mengajar lagi!" Kata Papa sambil berjalan berdampingan dengan sang mantu.


"Iya, Pah ... besok saya mengajar lagi, kalau begitu, saya duluan. Pah, Mah." Abrar mengangguk hormat pada papa dan mama. Lalu dia berjalan langsung menaiki anak tangga menuju kamar Sahila.


Namun setibanya di depan pintu kamar, daun pintu tampak begitu rapat dan ketika digerakkan handle pintunya tidak bisa terbuka! rupanya pintu tersebut dikunci dari dalam. Membuat kepala Abrar menggeleng seraya mengetuknya.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Assalamualaikum, Sahila ... Nurafianti? buka pintunya. Saya mau masuk!" terdengar suara pak Abrar dari balik pintu.


***