
Saat jam olahraga, tiba-tiba Sean pergi ke lapangan basket karena mereka akan olahraga hari ini. Sean sudah duduk dan sampai lebih dulu di lapangan itu dan tinggal menunggu gurunya saja.
"Kau terlihat bersemangat sekali Sean?" tanya Jack saat melihat temannya sudah siap dengan pakaian olahraga miliknya karena dia belum memiliki seragam olahraga.
"Akh memang selalu bersemangat karena di sekolahku yang lama kami tidak memiliki fasilitas yang memadai di sekolah. Kalian tau sendiri bagaimana sekolah SD biasa bukan?" Jack dan Damian menganggukkan kepalanya karena mereka tau dan mengerti betul apa yang di maksud Sean.
"Oh, seperti itu. Kapan-kapan bisa ajak kamu ke panti? Kami ingin pergi ke sana juga dan melihat bagaimana tempat tinggalmu selama ini dan kami juga penasaran. Di sana banyak teman bukan?" tanya Jack lagi. Dia penasaran dan ingin tau bagaimana kehidupan di panti asuhan.
"Maaf, bukan bermaksud untuk merendahkan kamu tapi karena hanya ingin mengetahui bagaimana kehidupan di sana. Agar kamu tahu dan bisa bersyukur dengan kehidupan yang kami jalani saat ini. Bukankah begitu Dam?" tanya Jack dan Damian kembali mengganggukan kepalanya karena mereka hanya penasaran saja dengan kehidupan panti asuhan.
"Oke, aku akan bicarakan hal ini dulu dengan mommy, Daddy juga harus mengetahuinya karena aku harus meminta izin dulu pada mereka agar bisa pergi." jawab Sean apa adanya. Mereka menunggu guru olahraga sampai saat gurunya datang barulah mereka memulainya.
Sean terlihat sangat lucu banget sekali karena dia memang menyukai olahraga hanya saja karena fasilitas yang tidak memadai maka dia tidak bisa melakukan hubungan tersebut. Mereka memulainya sampai di mana saat bermain, Sean bermain dengan teman-temannya sampai tiba-tiba saja ada bola yang menghantam wajahnya hingga membuat dia terjatuh dan mimisan.
"Sean!" teriak Damian dan juga Jack ketika melihat teman mereka yang terjatuh seperti itu. Guru olahraganya langsung menghampiri Sean dan memberikan pertolongan pertama pada siswa barunya di sekolah ini dan ketika melihat Sean berdarah seperti itu pihak sekolah langsung menghubungi keluarganya karena tidak ingin terjadi salah paham nantinya.
Jasmine yang mendapatkan kabar bahwa putranya mimisan di sekolah membuatnya langsung ketakutan. Dia panik sampai merasa bahwa perut bagian bawahnya kram, keringat dingin mulai membasahi wajahnya dan dia benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan Sean.
"Jasmine, apa yang terjadi?" tanya Alicia ketika melihat wajah panik menantunya. Dia tahu pasti ada yang terjadi di luar sana sehingga membuat Jasmine ketakutan seperti itu. Jika tidak ada apa-apa tidak mungkin Jasmine panik.
"Sean, Ma. Sean terjatuh saat olahraga dan dia mimisan. Katanya dia terkena bola basket saat bermain," jelas Jasmine dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
"Hubungi suami kamu sekarang dan dia harus datang ke sekolah untuk melihatnya. Kita tidak mungkin pergi ke sekolah dengan keadaan kamu seperti ini. Biar mama yang menghubungi Leo sekarang." Alicia langsung menghubungi putranya dan mengatakan apa yang terjadi pada Sean di sekolahnya saat ini. Begitu mendengar kabar tentang putranya yang mengalami insiden di sekolah membuat Leo langsung pergi meninggalkan ruangannya begitu saja untuk menyusul dan melihat keadaan Sean.
Panik, kalau saat ini semua orang merasa panik karena ini adalah hari pertama Sean masuk sekolah tapi dia sudah mengalami cedera seperti itu.
"Semoga kamu baik-baik saja Nak," ucap Leo panik. Dia masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan di atas rata-rata agar dia bisa segera sampai di sekolah putranya. Saat Leo sampai di sekolah Sean dia langsung melihat keadaan putranya.
"Son, apa yang terjadi?" tanya Leo panik. Dia melihat hidung Sean yang masih ada kapasnya untuk menghentikan darah yang keluar dari lubang hidungnya.
"Aku baik-baik saja dad. Aku masih berusaha menyesuaikan diriku dengan keadaan di sini dan aku sedang bermain basket tiba-tiba saja ada sebuah bola yang datang menghantam wajah aku. Tolong, jangan salahkan siapa-siapa di sini karena aku sendiri yang salah. Aku tidak kenapa-kenapa dan aku yang tidak fokus hingga membuat bola tersebut mengenai wajahku," jelas Sean. Dia berharap bahwa daddy-nya percaya dengan apa yang dijelaskan di saat ini. Walau sebenarnya dia tahu bahwa anak laki-laki bernama Jason yang melakukan hal itu tadi memang sengaja melemparkan bola tersebut agar mengenai wajahnya.
Damian dan Jack hanya bisa mengenal nafas mereka saja dengan pasrah ketika mendengar penjelasan dari temannya. Sean memiliki kesempatan untuk membuat Jason n mendapatkan pelajaran tapi dia tidak melakukan hal itu. Jika itu terjadi pada mereka berdua sudah pasti mereka akan melakukannya mereka akan membuat anak sombong itu mendapatkan pelajaran atas kesombongannya. Apalagi keluarga Sean memiliki begitu banyak pengaruh di kota ini jadi bisa saja dengan mudah Sean melakukannya dan memanfaatkan nama besar.
Tapi tidak, dia malah lebih memilih untuk berbohong pada daddy-nya agar mereka semua aman.
"Kamu yakin? Apa kita harus pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan kamu? kita ke rumah sakit saja!"
"Tidak dad! Aku baik-baik saja dan aku hanya membutuhkan istirahat sebentar. Lagi pula ini kesalahanku Karena aku belum terbiasa saja. Aku ingin tetap di sekolah dan menyelesaikan jam pelajaran sampai benar-benar selesai. Ini adalah hari pertamaku sekolah jadi aku tidak ingin menyia-nyiakannya. Percayalah dad, aku baik-baik saja." Sean berusaha untuk menjelaskan pada daddy-nya jika keadaannya saat ini memang baik-baik saja dan dia tidak membutuhkan perawatan rumah sakit karena hanya mimisan saja bukan.
Leo sendiri hanya bisa menarik nafas yang dalam dan menghembuskannya secara perlahan untuk menetralkan perasaannya saat ini. Ternyata seperti inilah perasaan orang tua ketika anak mereka sakit dan dia sangat bersyukur dia bisa merasakan hal ini dan itu pertama kali dirasakannya saat memiliki Sean dalam hidupnya.
"Oke jika begitu. Jangan di paksakan bermain jika lelah. Daddy pergi ke kantor lagi oke. Masih banyak pekerjaan yang harus Daddy selesaikan."
"Oke dad," jawab Sean pada daddy-nya. Leo pergi meninggalkan putranya setelah dia mengusap puncak kepala putranya dan kembali ke perusahaan.
Setelah kepergian daddy-nya Sean, Jack dan juga Damian langsung menyayangkan hal itu.
"Seharusnya kamu katakan saja pada Daddy mu apa yang terjadi sebenarnya kawan. Selama ini tidak ada yang berani melawan Jason karena keluarganya, tapi sekarang keluargamu bahkan berada jauh di atas keluarganya Jason, jadi kah bisa membuatnya mengerti seperti apa pengaruh dirimu!!"
"Tidak seperti itu Jack, aku hanya ingin sekolah dengan tenang dan damai. Jika Maslah seperti ini, aku akan mengesampingkannya karena aku tidak ingin membuat siapa pun merasakan kesulitan karena diriku," jawab Sean.
***