
Heri ini Leo sudah benar-benar bekerja dan memutuskan bahwa dia akan bekerja sesuai dengan yang diinginkannya walau sang Daddy sempat menolak keinginannya untuk bekerja di bagian kebersihan tapi tetap saja putranya itu menolak.
Leo tetaplah Leo, dia akan melakukan hal apapun yang menurutnya benar.
"Hey, udah lama kerja di sini?" tanya leo pada seseorang yang sedang beristirahat di dekatnya.
"Eh, baru aja kok. Baru dua bulan sih." jawab Joe pria yang ditanya oleh Leo tadi.
"Nama kamu siapa sih? temenan yuk." ajak Leo pada pria yang baru saja ditemuinya ini. Dari apa yang Leo lihat, Joe ini adalah pria yang baik dan mau bekerja keras jadi Leo ingin berteman dengannya.
"Joe, aku hidup sebatang kara di kota besar ini. Aku harus bekerja untuk hidupku." ucapnya pada teman barunya seraya duduk bersandar di lantai.
Leo yang mendengar semua ini hanya bisa menganggukkan kepalanya dan ikut menikmati apa yang Joe nikmati.
"Kamu bekerja memiliki wajah yang tampan. Seharusnya kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari pada ini."
"Memang!" jawab Leo dengan dengan sombong karena memang benar seperti itu.
"Kau ini sombong juga ternyata." ucap Joe sambil tertawa bersama Leo.
Selama dua bulan kerja di sini hanya Leo yang mau berteman dengannya padahal Joe memiliki kulit hitam dan dia selalu di jauhi oleh teman-teman dan rekan kerjanya bahkan tidak ada yang ingin berteman dengannya.
"Aku sombong karena aku tampan. Kau seharusnya bangga bisa berteman denganku." kata Leo lagi. Mereka malah tertawa bersama di ruangan ruangan loker tempat mereka menyimpan barang.
"Kau sudah makan?" Joe menggelengkan kepalanya karena memang dia belum makan.
Dia harus menghemat sampau awal bulan karena dia tidak memiliki uang lagi untuk biaya hidupnya sampai dua menerima gaji nanti.
"Aku juga belum makan, ayo kita makan bersama." ajak Leo tapi Joe menggelengkan kepalanya karena dia tidak ingin merepotkan siapapun.
Lagi pula dia tidak memiliki uang lagi untuk makan. Dia harus berhemat dan hanya bisa makan sehari sekali dan itu malam hari agar uang yang di milikinya cukup.
"Kau lihat ini, uangku banyak. Jadi ayo temani aku makan di luar." ajak Leo yang menarik lengan Joe begitu saja tanpa memikirkan Joe yang terus saja menolak keinginannya.
Leon yang melihat putranya langsung bisa berteman dengan rekan kerjanya seperti itu membuat senyumannya merekah karena dia tau bahwa Leo mudah berteman dengan siapa saja jika dia menyukainya.
"Tuan, bukankah itu putra anda?" tanya asisten pribadinya dan beberapa orang yang berada di belakang Leon saat ini.
"Biarkan dia. Jangan pernah mengganggunya. Dia bekerja di sini sebagai bagian dari tim kebersihan dan jangan pernah mendekatinya jika tidak ingin aku memecat kalian jika sampai putraku marah padaku nanti." ancam Leon dan beberapa orang di belakangnya hanya bisa menganggukkan kepalanya dan menurut dengan apa yang Leon katakan.
Sementara Joe sendiri dia merasa bahwa hidupnya sedang berada di ujung tanduk saat ini. Apalagi yang mereka lewati tadi adalah bos besar bersama para asisten dan sekretarisnya. Entah apa yang akan terjadi padanya nanti setelah mereka kembali ke perusahaan.
"Leo, kita harus kembali dan meminta maaf pada bis besar karena kita telah tidak sopan pada mereka. Aku masih ingin bekerja dan melanjutkan hidupku Leo." ucap Joe yang mulai ketakutan jika mereka akan di pecat nantinya.
"Tidak akan ada yang berani memecat dirimu bahkan bos besar sekalipun
Sekarang duduk diam di belakang dan aku akan mengajakmu makan di luar kali ini untuk merayakan hari pertemanan kita." ujar Leo yang langsung menjalankan motornya ke tempat yang menurutnya bisa mereka datangi untuk makan siang.
"Apa saja asal aku bisa makan tapi tolong, Kuta harus kembali cepat sebelum jam kerja di mulai."
"Kau terlalu takut. Sudah diam saja dan jangan banyak bicara." akhirnya mereka pergi ke sebuah tempat makan ayam crispy terkenal untuk makan siang.
Joe kaget ketika melihat Leo yang bisa memakan t potong paha ayam tanpa nasi dan itu sangat luar biasa sekali baginya.
Makan sepotong ayam dengan nasi saja sudah sangat luar biasa sekali bagi Joe, dan hari ini dia bisa makan enak dan itu semua berkat Leo teman barunya.
"Terima kasih Leo, karena kau aku bisa makan enak."
"Maka kau harus membayarnya dengan menjadi temanku. Besok kita akan makan di luar lagi seperti ini jika kau mau." kata Leo pada Joe dan dengan cepat pula Joe menggelengkan kepalanya karena dia tidak ingin terus membebani teman barunya ini.
Leo mau berteman dengannya saja sudah lebih dari cukup baginya. Lalu bagaimana bisa pria ini terus mengajaknya untuk makan di luar.
Tidak, Joe tidak ingin membebani siapapun karena dia sudah terbiasa dengan hidup seperti ini.
"Sudah cepat habiskan makananmu karena kita harus kembali ke perusahaan. Kau harus menemaniku bekerja. Setelah ini kita akan kembali bekerja." Joe pun menganggukkan kepalanya karena memang mereka akan kembali bekerja dengan baik karena hanya ini saja sumber penghasilan dari Joe untuk menyambung hidupnya.
Apalagi kost yang menjadi tempat tinggalnya harus si bayar setiap bulannya. Belum lagi air, listrik dan lainnya lagi.
Setidaknya Joe harus terus bersyukur karena bisa bekerja dan makan walau dia harus seorang menahan lapar untuk dirinya.
Ketika mereka sudah kembali ke perusahaan dan kembali bekerja, tiba-tiba saja ada seseorang yang lewat begitu saja bahkan dia sengaja melemparkan bekas bungkus permen miliknya ke arah tubuh Joe yang sedang menyapu lantai.
Melihat hal itu membuat Leo tidak terima dan langsung menghampirinya.
"Jangan Leo, aku mohon jangan." ucap Joe yang tidak ingin bermasalah dengan siapapun di tempat kerja ini.
Apalagi dengan mereka yang memakai jas dan pakaian rapi. Joe benar-benar tidak ingin terlibat apapun lagi dengan mereka.
"Siapa ku berani menghardik ku seperti ini?" tanya seseorang tersebut hingga membuat senyuman iblis di bibir Leo menghiasi wajahnya.
Dia sangat menyukai hal-hal seperti ini. Apalagi ketika pria itu berani mendorong tubuhnya.
"Kau salah besar karena telah melakukan hal ini padaku." ucap pria itu dengan menunjukan id card miliknya.
"Manager pemasaran. Darius Antonio." jelasnya dengan bangga memamerkan id card miliknya pada Leo dan juga Joe.
Di saat mereka terlibat pertengkaran seperti ini, Leo melihat asisten Daddy-nya dan dia langsung memberikan kode untuk tidak ikut campur dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
"Kalian hanya karyawan rendahan jadi jangan berlagak di depanku." ucap Darius yang langsung meninggalkan Leo dan juga Joe di sana.
Namun bukan Leo namanya jika dia tidak berbuat ulah, dia sengaja menjegal kaki pria itu hingga terjatuh dan pakaiannya basah karena air bekas pelan lantai.