
"Hueeek!" tiba-tiba saja Naura merasa bahwa perutnya sangat mual setelah makan buah apel tadinya.
Dia berlari ke kamar mandi dan itu membuat Alta yang melihatnya merasa panik. Suami mana yang tidak panik ketika melihat istrinya seperti itu maka secepat mungkin dia menyusul Naura karena ingin mengetahui apa yang terjadi pada istrinya.
"Sayang, kenapa kamu kenapa?" tanya Alta yang merasa sangat khawatir dengan keadaan istrinya saat ini. Dia takut terjadi sesuatu pada Naura.
"Aku tidak tau, tapi rasanya sangat mual sekali. Aku merasa-" Naura terdiam sejenak lalu dia meminta Alta untuk mengambilkan ponselnya.
"Untuk apa?" tanya Alta ketika Naura memintanya untuk mengambilkan ponsel.
"Sudah, ayo cepat ambilkan dulu sayang," pinta Naura lagi. Akhirnya Alta mengambil ponsel istrinya dan membawa ke pada Naura saat itu juga. Dia ingin tau apa yang terjadi sebenarnya hingga membuat Naura panik seperti itu.
Ketika melihat ponselnya Naura langsung merasa lemas. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Naura takut jika apa ini alamnya saat ini tidak benar jadi sebisa mungkin dia meminta harta untuk membelikannya alat tes kehamilan yang membuat pria itu langsung kaget.
"Sayang, apa kamu yakin?" tanya Alta ketika dia diminta Naura untuk membelikan alat tes kehamilan. Bukan dia tidak senang. Sumpah demi apapun dia sangat senang sekali karena bisa merasakan hal ini lagi. Tapi yang menjadi masalahnya saat ini adalah apakah benar bahwa Naura sedang mengandung atau tidak.
"Sepertinya begitu dan semoga saja ini benar. Jika memang ini benar, maka Tuhan telah mengabulkan doa-doa ku lagi selama ini." keduanya saling berpelukan satu sama lain.
Alta sangat bahagia sekali dengan berita ini. Rasanya sangat membahagiakan sekali. Dia benar-benar tidak menyangka jika mereka masih di berikan kepercayaan untuk mendapatkan momongan lagi. Momongan yang sudah sangat lama mereka nantikan.
Dia buru-buru pergi ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan seperti apa yang istrinya. Tidak hanya satu, tapi dia memberi beberapa alat tes kehamilan dengan berbagai merek agar hasilnya semakin akurat. Alta tidak ingin dibohongi oleh salah satu alat tes kehamilan jadi dia ingin membelinya beberapa buah agar hasilnya akurat.
Begitu juga dengan Naura, dia juga merasa heran dengan apa yang di alaminya saat ini.
"Ya Tuhan, bagaimana ini?" tanya Naura yang merasa panik. Dia takut jika terjadi sesuatu nantinya.
"Bagaimana jika nanti tidak benar? Aku takut jika nanti Alta kecewa." Naura sangat takut jika hasilnya tidak sesuai dan suaminya akan kecewa.
Dia sangat takut sekali akan hal itu. Bahkan saat Alta sudah kembali ke rumah pun Naura masih terlihat berpikir keras seperti itu.
"Kenapa diam saja sayang?" tanya Alta saat dua baru saja pulang ke rumah dengan membawa beberapa buat testpack yang Naura minta padanya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya takut jika hasilnya tidak sesuai nanti. Aku takut jika kamu akan-"
Rasanya dia dan Alta seperti sedang menanti kehamilan pertamanya lagi. Keduanya sama-sama gugup menunggu hasilnya sampai saat Naura keluar dan membawa salah satu alat tersebut, Alta benar-benar bahagia ketika mengetahui bahwa istrinya kembali mengandung anak kedua mereka.
"Astaga sayang, aku benar-benar tidak percaya jika Tuhan kembali mempercayakan Habibie daripada kita berdua. Tuhan kembali memberikan kita kepercayaan itu sayang. Aku harap kamu dan calon anak kita akan sehat." Alta benar-benar bahagia sekali dengan berita ini. Hal yang sudah sangat lama mereka nantikan ternyata kembali hadir di usia pernikahan mereka yang memasuki tahun ke sebelas.
"Kamu bahagia?"
"Sudah jelas aku sangat bahagia Naura. Aku sangat-sangat bahagia sekali. Aku bahagia Naura, aku sangat bahagia sekali saat ini." mereka kembali berpelukan sampai keduanya tidak sadar jika yang mereka lakukan saat ini dilihat oleh anak mereka. Nayla menatap aneh pada kedua orang tuanya dan menurutnya itu sangat aneh sekali.
"Ayah, Ibu ada apa?" tanya Nayla yang merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Sungguh, rasanya dia sangat penasaran sekali dengan apa yang kedua orang tuanya lakukan saat ini.
Mereka berpelukan seolah-olah sedang mendapatkan hadiah besar saat ini. Sadar akan kehadiran putri mereka, Naura dan Alta melepaskan pelukannya karena ada Nayla yang menghampiri mereka berdua saat ini.
"Sayang, ayo sini." Alta memanggil Nayla untuk bergabung bersama mereka. Sumpah, rasanya mereka sangat bahagia sekali dengan apa yang mereka dapatkan saat ini.
"Ada apa?" tanya Nayla yang juga penasaran sekaligus aneh dengan kedua orang tuanya saat ini.
"Kamu pernah mengatakan bahwa kamu ingin memiliki adik bukan?" dengan begitu polosnya Nayla langsung menganggukan kepalanya karena dia benar-benar ingin memiliki saudara.
Dia ingin memiliki teman untuk bercerita dan bermain di rumah besar mereka ini karena tidak ada siapapun yang mau berteman dengannya di rumah ini. Mu
"Kamu juga pernah berdoa bahwa kamu ingin memiliki adik kan, dan sekarang Tuhan telah mengabulkan doa-doa kamu selama ini, karena saat ini di perut ibu ada seorang adik untuk kamu," ucai Alta dengan penuh kebahagiaan.
"Aahhh..., aku akan menjadi kakak. Aku apa punya adik seperti Sean. Aku akan bermain dengan adikku seperti teman-temanku bersama adiknya. Terima kasih Tuhan, telah mengabulkan doa ku." melihat reaksi putrinya membuat Naura semakin merasa bahagia dengan kehadiran janin yang ada di dalam kandungan yang saat ini.
Apalagi ketika melihat reaksi Nayla yang sangat antusias ketika Alta mengatakan bahwa dia akan memiliki saudara.
"Akhirnya, aku bisa pergi ke sekolah bersama dengan supir, tidak harua terus di antar ayah ke sekolah."
"Tidak! ayah akan tetap mengantar kamu ke sekolah bahkan sampai saat kamu SMA. Ayah tidak akan membiarkan siapapun berani menyakiti kamu karena jika mereka berani menyakiti Putri kesayangan ayah maka ayah akan menghancurkan mereka semua. Ayah tidak segan-segan untuk mencabut kehidupan mereka bahkan sampai ke akarnya. Jadi, jangan katakan lagi jika kamu tidak ingin pergi bersama ayah!" setelah mendengar kata-kata dari ayahnya, Nayla pun hanya bisa mengajukan kepalanya saja untuk saat ini. Dia tidak bisa melawan apa yang telah ayahnya katakan karena itu memang sebuah ketentuan di dalam rumah mereka.
***