One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
Mafia



Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 25 menit dari tempat tinggal mereka, akhirnya Sandra sudah sampai di pusat perbelanjaan bersama dengan Arsen. Seperti saat ini, Arsen menggandeng tangan Sandra dan tidak pernah melepaskannya seolah dia takut bahwa gadis yang berada di dekatnya ini akan pergi meninggalkannya. Tapi apa yang Arsen lakukan saat ini menjadi pusat perhatian banyak orang, terutama kaum wanita yang menatap sengit ke arah Sandra karena mereka merasa bahwa Sandra adalah ancaman terbesar bagi mereka semua.


Bagaimana tidak, jika banyak dari mereka mendambakan seorang Arsenio, yang tidak tersentuh oleh siapapun tapi tiba-tiba saja mereka di kejutkan dengan pemandangan ini bahwa Arsen menggandeng seorang gadis yang sangat cantik dan itu membuat mereka kesal karena pria yang banyak di kagumi para wanita kini telah bersama dengan seseorang yang membuat banyak hati yang di patahkan.


"Kenapa Cantik?" tanya Arsen pada Sandra ketika melihat gadis yang berada di sisinya saat ini merasa tidak nyaman. Sandra sendiri malah merasakan hal itu karena dia menjadi pusat perhatian banyak orang. Sebenarnya sebesar apa pengaruh pria yang bersamanya saat ini hingga membuatnya menjadi pusat perhatian banyak orang. Apalagi Andra bisa melihat beberapa dari mereka yang menatap sengit ke arahnya.


"Tidak ada, hanya saja mereka yang menatap penuh permusuhan terhadapku. Sebenarnya siapa Kamu? kenapa mereka seperti tidak menyukaiku ketika aku berjalan bersama Kamu seperti ini? apa salah satu dari mereka pernah terlibat hubungan dengan Kamu?" tanya Sandra. Bukannya menjawab Arsen malah tertawa ketika mendengar pertanyaan dari Sandra.


Melihat Arsen tertawa seperti itu tiba-tiba saja membuat Sandra merasa kesal. Dia mempertanyakan hal itu sungguh-sungguh lalu bagaimana bisa Arsen menertawakannya seperti ini? ini bukan lelucon dan ini bukan April mop hingga membuat Sandra bahan tertawaan oleh Arsen sendiri.


"Kamu tahu Cantik, aku tidak pernah terlibat dengan siapa pun jika Kamu memang ingin mengetahui sebenarnya. Aku, tidak pernah sekalipun melakukan kencan atau terlibat hubungan dengan wanita-wanita di luar sana karena memang aku tidak pernah tertarik sama sekali dengan mereka. Satu-satunya wanita yang bisa membuatku jatuh cinta dan banyak melakukan hal gila adalah Kamu, Sandra Carissa. Kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatku seperti orang gila ketika tidak menemukanmu. Apa Kamu tau bagaimana hancurnya aku ketika tidak menemukan Kamu dan mendapati kabar bahwa Kamu diculik?" Sandra menatap mata Arsen dan berusaha untuk mencari kebenaran dari apa yang dikatakan pria itu saat ini. Dia belum bisa meyakini hatinya bahwa Arsen memang kekasihnya. Entah mengapa rasanya seperti ada yang mengganjal di dalam hatinya ketika dia mengetahui keadaan yang sebenarnya bahwa dia adalah seorang kekasih dari pria bernama Arsenio.


"Hatiku hancur dan hari-hariku terasa sangat mengerikan. Aku tidak bisa hidup dengan tenang karena tidak ada Kamu, tapi Aku tidak ingin mengingatnya lagi karena menurutku semuanya sudah selesai. Kini, kita sudah bertemu dan aku tidak akan membiarkan Kamu pergi meninggalkan Aku lagi. Tidak akan Sandra," ujarnya. Arsen benar-benar tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi hubungannya dengan Sandra karena dia akan menghancurkan mereka tanpa sisa jika berani mengusik ketenangannya.


"Sudahlah, Ayo sekarang kita pergi berbelanja." Arsen mengajak Sandra untuk berbelanja. Namun, saat mereka hendak memasuki sebuah brand ternama, ponsel Arsen berdering dan itu panggilan masuk dari Robby, asisten pribadinya.


Dia tahu, jika pria itu menghubunginya maka ada hal yang sangat genting. Sebisa mungkin dia berusaha untuk tetap tenang agar tidak terlihat mencurigakan di mata Sandra yang sudah menatap ke arahnya saat ini.


"Kamu masuk saja dulu Sayang, tolong pilihkan pakaian untukku. Pakaian kerjaku sudah harus di perbaharui jadi tolong lakukan itu untukku oke. Aku akan menjawab panggilan telepon ini sebentar." Sandra sambutan kepalanya lalu masuk ke salah satu butik yang menjual berbagai macam pakaian pria khususnya untuk pergi ke kantor. Sementara Arsen, dia langsung menjawab panggilan telepon dari Robby.


"Katakan!" titah Arsen dengan suara beratnya ketika dia menjawab sambungan telepon dari asisten pribadinya. Dia tahu jika Robby menghubunginya pasti ada sesuatu yang akan terjadi.


"Mereka mulai bergerak. Saat ini mereka menuju pelabuhan dan aku tidak yakin jika bisa menekan mereka semua. Saat ini polisi dan mereka sudah mengepung tempat kita."


"****!" umpat Arsen ketika mendengat kabar yang Robby sampaikan padanya.


"Bersikaplah seolah tidak terjadi apa pun saat ini. Tetaplah di sana dan jangan terpengaruh dengan berita ini karena aku yakin mereka ada yang mengincarmu saat ini."


"Baik, aku akan melakukannya." jawab Arsen sebelum mereka mengakhiri penggilan teleponnya.


Sedangkan Sandra, dia semakin merasa aneh dengan sikap Arsen. Entah mengapa rasanya semua ini sangat janggal dan aneh sekali. Apalagi cara Arsen berbicara dengannya dan dengan orang-orang yang bekerja dengannya itu sangat berbeda sekali. Apalagi jika dia berbicara dengan para bodyguard-nya, itu sangat-sangat berbeda sekali. Terlihat seperti seorang bos yang sangat di takuti oleh anak buahnya.


"Tidak, aku tidak boleh memikirkan hal seperti itu. Belum tentu apa yang aku pikirkan itu benar," ucap Sandra yang menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin meracuni pikirannya dengan hal-hal belum tentu benar adanya.


Arsen sendiri cukup kaget ketika dia berbalik dia sedang melihat sandera yang berdiri di belakang. Bahkan gadis cantiknya itu sedang memegang dua setel jas yang berbeda warna.


"Sayang, sejak kapan kamu berada di sini?" tanya Arsen yang merasa penasaran dengan kehadiran Sandra di dekatnya.


"Tidak ada, hanya saja karena Kamu lama jadi, Aku menyusul. Aku ingin menunjukan jas ini, apakah Kamu suka atau tidak. Tapi ternyata Kamu masih sibuk, jadi menunggunya di sini," jawab Sandra karena memang seperti itulah kenyatannya. Dia tidak ingin menganggu Arsen maka dari itu dia lebih memilih untuk menunggunya saja.


"Lain kali, panggil saja Aku jika ingin bicara." Sandra langsung menggelengkan kepalanya karena dia tidak ingin menganggu Arsen.


"Tidak masalah. Dengan siapa pun Aku bicara, Kamu bisa menghentikannya begitu saja karena Kamu adalah prioritas utama bagiku. Jadi, tidak perlu menunggu seperti ini." Arsen membawa Sandra kembali masuk ke dalam butik lalu dia menggunakan kode dengan anak buahnya yang memantau mereka dari jarak jauh untuk bersiap karena akan ada guncangan nantinya dari musuh mereka.


...****************...