
Joe benar-benar sangat jenius dan karena ide gilanya beliau bisa bersemangat saat itu juga. Tapi ada sosok lain yang tidak bersemangat dengan kenyataan ini dan orang itu adalah Jose.
"Apa ini? sejak tadi kau terus saja mengumpat ku lalu kini kau meminta bantuanku untuk menjalankan aksimu ini hanya untuk bertemu dengan calon istrimu. Ayolah Leo, jangan membawaku ke dalam masalah seperti ini," ucap Jose yang merasa kesal dengan temannya. Dia sejak tadi seperti orang yang dimusuhi lalu kini diajak untuk bertempur secara tiba-tiba. Bukankah itu sangat menyebalkan?
"Kau sudah banyak menghabiskan makanan tadinya jadi kau harus bekerja saat ini. Lagi pula apa susahnya membantu teman sendiri? seharusnya kau mau membantu temanmu, mau jadi apa kalau sudah makan tidak mau bekerja!" bibir Leo ini benar-benar sangat mengerikan sekali. Dia bisa mengatakan hal seperti itu tanpa perasaan sedikitpun. Entah bagaimana cara Jose menjelaskannya bahwa dia tidak ingin tertangkap oleh mereka semua dan dipenjarakan nantinya. Eh, tapi tunggu dulu, mana mungkin mereka dipenjara hanya karena masalah sepele seperti ini. Lagi pula mereka menyelinap masuk ke rumah ini dan menyamar sebagai tukang bunga saja. Bukan mau merampok benda-benda berharga di rumah ini.
Lagi pula apa yang ingin mereka rampok karena di rumah ini tidak ada barang yang mewah sama sekali. Jadi untuk saat ini Jose hanya bisa menurut saja pada Leo dan membantu temannya itu untuk bertemu calon istrinya.
"Siapa kalian?" tanya ibu Jasmine dengan buku memo di tangannya.
Melihat itu Joe langsung sikap melakukan aksinya karena Leo sudah mengatakan pada mereka jika ibunya Jasmine itu bisu dan tidak bisa bicara, jadi jika mereka nantinya dihadapkan dengan buku memo seperti itu maka mereka harus menjawabnya dengan cepat.
"Kami dari toko bunga yang di kirim tuan Leon untuk menghias rumah ini Nyonya," ucap Joe yang mengambil perannya lebih dulu hingga membuat Leo tersenyum dalam hati karena temannya ini bisa melakukan semuanya dengan begitu mudah.
Leo benar-benar berharap bahwa dia bisa melewati semua ini. Setidaknya dia bisa melepaskan rasa rindunya terhadap Jasmine dan bertemu dengan wanita itu.
"Masuklah!" tulisnya lagi di buku memonya hingga membuat mereka bertiga langsung beraksi saat itu juga. Ibunya Jasmine pergi ke luar untuk mengecek persiapan yang lainnya lagi dan pergi meninggalkan mereka.
"Yes!" Leo sangat bersemangat untuk itu dan dia langsung masuk ke dalam kamar Jasmine dengan membawa satu ikat bunga mawar untuknya.
Saat Leo masuk ke dalam kamarnya, Jasmine yang tidak mengenali Leo langsung berteriak saat itu juga.
"Hemmm...." teriakan Jasmine di bungkam oleh tangan Leo saat dia mulai berteriak.
"Leo," panggil Jasmine ketika mengetahui ternyata pria itu memang Leo yang sedang menyamar.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Jasmine yang penasaran karena Leo berada di dalam kamarnya seperti ini dengan pakaian dari sun florist, sebuah toko bunga paling terkenal di kota besar ini.
"Untuk menemuimu," jawab Leo karena memang seperti itu kenyataannya. Dia ingin bertemu dengan Jasmine karena dia sangat merindukan wanita itu hingga membuatnya berani menyamar seperti ini.
"Hah?"
"Iya, aku sengaja melakukan hal ini karena aku merindukanmu. Aku terpaksa melakukan penyamaran seperti ini karena kita tidak diperbolehkan untuk bertemu. Aku juga hanya ingin mengatakan padamu bahwa aku merindukanmu. Andai saja ponselmu bisa dihubungi maka aku tidak akan nekat melakukan hal seperti ini." Leo menceritakan apa yang dirasakannya saat ini karena dia memang sangat merindukan Jasmine terlebih lagi sudah terhitung 4 hari mereka tidak berkomunikasi jadi itu membuat Leo berani melakukan semua ini dan melakukan penyamaran.
"Tapi Leo, aku-"
"Stttt...." Leo meletakan jari telunjuknya di bibir Jasmine hingga membuat wanita itu seperti menegang kaku karena tidak bisa bergerak lagi karena jari Leo yang berada di bibirnya saat ini mulai bergerak nakal hingga membuatnya tidak bisa melakukan apa pun lagi.
"Jasmine..." panggil Leo dengan suara beratnya hingga membuat seluruh darah Jasmine mengalir dua kali lebih cepat dari biasanya.
Leo terus saja mengusap bibir Jasmine hingga ketika tidak mendapatkan balasan apa pun darinya membuat Leo memajukan bibirnya untuk mencium bibir Jasmine.
Untuk pertama kalinya Jasmine di cium oleh seorang pria dan itu Leo sendiri. Jasmine hanya bisa diam saja saat Leo terus saja menyesap bibirnya hingga membuat sang pemilik raga hanya bisa terdiam dan memejamkan kedua matanya membuatkan pria itu melakukan aksinya saat ini.