
Hari ini adalah, hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Naura karena mereka akan pergi ke Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam hidup dia akan menginjakkan kakinya di negara tersebut negara tempat dimana keluarga suaminya tinggal.
"Kamu terlihat sangat bahagia sekali sayang, apa yang membuatmu bahagia?" tanya Alta pada istrinya yang terlihat sangat bahagia sekali.
Naura sendirian yang tersenyum saya saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari suaminya.
jelas dia bahagia karena dia bisa pergi berlibur bersama suaminya sekaligus berkunjung ke rumah mertuanya.
"Tidak ada hal yang tidak membuatku bahagia jika itu bersama kamu. Gege adalah suami yang tampan, suami hebat dan penuh kasih sayang. Aku berharap bisa berteman baik dengan kedua adik iparku."
"Jangan!" tolak Alta karena dia tidak ingin istrinya teracuni dengan adik-adiknya.
Sheila dan Sheela adalah ancaman baginya. Alta tidak akan membiarkan istrinya berteman dengan kedua adik kembarnya itu karena adik kembarnya itu juga status spesies dengan ketiga wanita yang berada di Eropa tersebut.
"Kenapa?" tanya Naura punya suami biasa aja melihat pria itu yang melarangnya untuk berteman dengan adik-adik iparnya.
"Bukankah mereka itu saudari kembar? kemarin saat pesta aku tidak bisa berinteraksi lebih dengan mereka jadi mungkin saat ini aku akan berteman dengan mereka."
"Aku mohon jangan terlalu dekat dengan mereka sayang. Sheela an Sheila itu kedua kutub yang sangat berbeda. Aku mohon jangan sayang, apalagi kedua wajah mereka yang sangat mirip dan kamu bahkan sangat sulit untuk membedakannya. Jika Sheela itu menyebalkan, maka Sheila adalah kebalikannya. Dia tidak tertarik dengan Shania mana pun karena dia memiliki dunianya sendiri. Aku sudah menayangkannya untuk melakukan terapi sepertiku agar bisa keluar dari zona nyamannya tapi dia tetap menolaknya. Dia mengatakan bahwa dia nyaman dengan zonanya saat ini dan dia tidak membutuhkan dunia." jelas Alta pada istrinya yang terlalu ingin mengetahui tentang kedua adik kembarnya.
"Benarkah seperti itu? apakah mereka berdua sudah menikah lalu bagaimana bisa Sheila bersikap dingin seperti itu?"
"Entahlah, dia akan menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman saja tapa kata-kata manis. Bersama anaknya pun dia tidak banyak berinteraksi lebih, maka Daddy dan Mommy menyuruh Sheila untuk tinggal bersama mereka jadi Mommy dan Daddy bisa memantau kegiatannya. Jika Sheela, dia tinggal menetap di Bali bersama suaminya." jelas Alta panjang yang menceritakan tentang bagaimana kedua sikap adiknya yang sangat bertolak belakang.
Jika Sheila sangat introvert, maka Sheela kebalikannya karena dia adalah tipe wanita ekstrovert yang sangat menyukai keramaian dan dunia luar.
Masih terekam dengan jelas di ingatan Alta saat adiknya pergi ke sebuah konser besar dan Sheela terlihat sangat bahagia bisa berteman dengan banyak orang.
"Baiklah, aku akan bertemu dengan mereka nanti dan aku akan berteman. Eh, tapi usiaku baru 23 tahun, lalu bagaimana dengan usia mereka jika Gege saja sudah mau 40 tahun?" tanya Naura dengan serius karena dia ingin tau berapa usia adik-adik iparnya itu.
"Usia mereka 32 tahun."
"What?" tanya Naura yang tidak percaya dengan apa yang suaminya katakan tentang usia adik iparnya.
"Lalu aku harus memanggil apa?"
"Panggil saja nama mereka, itu sudah lebih dari cukup." ucap Alta karena memang seperti itu saja panggilannya.
"Sudah, ayo tidur." akhirnya Naura tidur di dalam pelukan suaminya karena saat ini masih berada di dalam pesawat menuju Indonesia dan beberapa jam lagi mereka akan mendarat.
Entah berapa lama Naura tertidur sampai dia tidak mengetahui jika mereka sudah sampai di Indonesia.
"Sayang, ayo bangun kita sudah sampai." ucap Alta yang membangunkan istrinya.
"Apa sudah sampai?" tanya Naura pada suaminya.
"Sudah, sekarang ayo bangun." Naura menganggukkan kepalanya karena memang dirinya masih lemas.
Melihat istrinya masih mengantuk seperti itu membuat Alta langsung membawa wanita itu dalam gendongannya.
"Sayang, kenapa menggendongku seperti ini?" tanya Naura pada suaminya ketika dia sudah berada di dalam gendongan pria itu. Bahkan suaminya ini terlihat sangat mudah sekali untuk menggendongnya, apalagi saat mereka menuruni satu persatu anak tangga pintu pesawat tersebut, Naura benar-benar merasa ketakutan hingga membuatnya masih membelit kedua kakinya di pinggang Alta dan melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya itu.
"Diam dan tenanglah sayang. Aku tidak akan membiarkanmu terjatuh dan untuk itu jangan banyak bergerak jika tidak ingin terjatuh bersamaku." Naura pun mengangguk-angguk kepalanya karena dia tidak ingin jatuh bersama suaminya.
Hap...
"Ahk..." Naura berteriak saat suaminya tiba-tiba saja melompat dari anak tangga terakhir ke bawah hingga membuatnya ketakutan.
Melihat Naura yang ketakutan seperti itu membuat harta tersenyum karena dia merasa bahwa apa yang dilakukannya saat ini benar-benar sangat mengasyikkan. Apalagi ketika melihat wajah istrinya yang terlihat sangat lucu seperti itu.
"Sayang..." panggilnya dengan suara manja bercampur panik karena ulah suaminya yang membuatnya ketakutan tadi.
"Maaf, sayang. Kamu terlihat sangat menggemaskan sekali dalam keadaan panik seperti itu. Jarang-jarang bukan aku bisa melihat wajah panik kamu."
"Tapi tidak harus begitu. Bagaimana jika kita jatuh?"
"Dan aku yang terluka kan aku akan memastikan bahwa kamu tidak akan pernah terluka. Aku akan melindungi kamu bagaimanapun caranya karena aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin kamu terluka oleh apapun."
Greek...
"Ahk..sayang..." pekik Alta ketika dia merasakan bahunya yang digigit oleh Naura.
Ya, orang yang masih gajah menggigit bahu suaminya karena dia terlalu kesal dengan pria ini. Entah mengapa semakin hari Naura merasa bahwa suaminya ini semakin pintar saja menggombal dan berkata seperti seorang penyair.
"Is, menyebalkan. Sudah ayo turunkan aku Gege, aku malu di lihat banyak orang seperti ini." pinta Naura pada suaminya karena dia tidak ingin di gendong dan menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Tidak akan, jadi diam saja di gendonganku karena aku tidak akan membiarkan kamu berjalan." ucap Alta.
Naura sendiri hanya bisa pasrah saja mendengar apa yang suaminya katakan karena memang jika sudah begini dia tidak bisa lagi membantah pria itu. Makan Naura hanya bisa pasrah berada di dalam gendongan suaminya dan menjadi pusat perhatian banyak orang.
Sungguh, rasanya Naura benar-benar malu saat ini apalagi ketika dia melihat banyak orang yang menatap darah mereka.
"Lihat Gege, pasti mereka tengah berpikir sesuatu tentang kita berdua."
"Aku tidak peduli sayang, karena apapun yang mereka katakan itu tidak penting bagiku. Kamu istriku jadi aku berhak melakukan apapun terhadapmu termasuk menggendong kamu seperti ini. Lagi pula ini biasa saja, karena yang menggendong adalah istriku bukan istri orang lain."