One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
Benih Yang Tertinggal




Dor!!


Sebuah tembakan yang mengenai ban mobil yang dikendarai, membuat seseorang pria di dalam mobil mengumpat kesal.


Dor!!


Kembali suara tembakan di ledakkan namun pria itu berhasil keluar dari dalam mobil, jika saja dirinya membawa senjata pasti sudah dia lawan.


"Shitt!!"


Pria itu berlarian dengan napas memburu, sesekali menoleh kebelakang saat derap langkah semakin dekat dan membuatnya semakin panik.


"Tidak, aku tidak akan menyerahkan diriku pada kalian."


Berlari dan melihat sebuah rumah kost dengan banyak pintu, tanpa pikir panjang pria itu menerobos pagar yang hanya sebatas dada, melompat untuk bisa masuk kedalam.


Pria itu menatap deretan pintu yang tertutup, tanpa sengaja tangannya membuka salah satu handel pintu yang kebetulan tidak terkunci.


Karena merasa terancam, pria itupun memilih masuk kedalam dan menguncinya dari dalam.


Mengintip dari horden jendela, beberapa orang dengan pakaian serba hitam tampak memerhatikan sekitar, tapi tak lama mereka pun pergi.


Shh


Mendengar suara mendesis, pria itu langsung menoleh ke atas kasur, di mana seorang gadis sedang gelisah sambil menutup matanya.


ughh


Lenguhan gadis itu membuat bulu kuduk pria itu meremang.


"Kenapa dia seperti itu," Gumamnya sambil mendekati kasur.


Matanya mengedar keruagan kecil, ini adalah kamar kost kecil di gang yang tadi dia lewati. Dia sendiri tidak tahu ini ada di daerah mana, karena saat dirinya terancam bahaya pria itu hanya terus berlari menghindari kejaran orang yang ingin membunuhnya.


Melihat reaksi gadis di atas kasur membuat pria itu mengetahui sesuatu, "Siapa yang sudah membuatnya seperti ini."


Di lihatnya wajah gadis yang sepertinya masih sangat muda, wajah cantik hidung kecil namun tinggi, belum lagi bibirnya yang ranum dan terbuka sedikit membuat dirinya menelan ludah.


"Enghh, panas," lirih gadis itu sambil berusaha membuka pakainya.


Seketika pria itu panik, meskipun dirinya bukan pria baik yang pernah menyentuh seorang wanita, tapi melihat gadis cantik yang sepertinya di jebak malah membuatnya merasa terancam.


"Tolong, ini panas sekali ahh." Gadis itu terus bergerak untuk mencari kenyamanan dalam dirinya, tanpa tahu apa yang dia lakukan sudah memancing kucing yang sedang menatapnya lapar.


Ceklek..ceklek... ceklek..


Menoleh kebelakang, pria itu melihat gagang pintu yang bergerak, sepertinya ada orang yang ingin memaksa membukanya


"Kenapa jadi di kunci, tadi saat keluar aku tidak menguncinya."


Terdengar suara seseorang di luar pintu, pria itu mendekati jendela dan mengintip.


"Ck, kalau begini gagal gue mencicipi tubuh Elara," Kesal seorang pria yang terlihat marah.


"Sumpah, tadi tidak di kunci!" Wanita itu masih terus berusaha membuka pintu.


"Gue minta uang gue balik, percuma gue bayar lu kalau Elara gak bisa gue nikmati."


Pria itu melangkah mundur, sepertinya gadis diatas kasur ini dijebak.


"Shittt!" Umpatnya lagi saat berbalik gadis bernama Elara itu ternyata sudah setengah polos.


"Jika tidak bisa di lampiaskan, gadis ini bisa mati!"


Karena sudah terpancing pria itu pun segera naik ke atas kasur, kasur lantai yang akan menjadi saksi dimana keduanya sedang melakukan hal yang seharusnya tidak boleh di lakukan.


Gadis bernama Elara merasakan sesuatu yang sejak tadi membelenggu dirinya tanpa tahu bagaimana untuk lepas, dan tiba-tiba dirinya merasakan sesuatu itu pelan-pelan terlepas hingga membuat tubuhnya lelah namun bercampur nikmat, setelah merasakan sakit yang luar biasa tapi kini gadis bernama Elara itu bisa tidur dengan lelap tanpa rasa panas dalam tubuhnya seperti sebelumnya.


Cup


"Meskipun kau korban, tapi Maaf, dengan cara inilah kau bisa selamat." Melirik ke bawah matanya bisa melihat jika gadis yang sudah dia gagahi masih perawan, ada senyum tipis di sudut bibirnya.


Setelah meninggalkan benih di rahim gadis itu dan merasa puas, pria itupun memilih bangun dan segera memakai pakaiannya, segera pergi setelah memastikan di luar aman.


*


*


Brak!!


Brak!!


Brak!!


Suara wanita terdengar berteriak dan di susul dengan gedoran pintu.


Sedangkan nama Elara yang di panggil, gadis itu sendang meringkuk di atas kasur dengan lelehan air matanya.


"Elara, buka pintunya atau ku diobrak!"


Suara wanita yang sangat Elara kenali, suara pemilik kost tempat tinggalnya.


Mengusap air matanya di pipi, perlahan Elara memunguti pakaiannya yang tercecer di atas lantai, gadis itu berdiri dengan susah payah karena milikinya terasa sakit dan perih.


Kedua matanya semakin memanas saat melihat bercak darah yang sudah mengering di atas sprei, seketika tubuh Elara menjadi lemas.


Setelah menguasai keadaanya dan memakai pakaian, Elara mengikat rambut coklatnya dan berjalan menuju pintu, sebelum wanita itu merusak pintunya yang akan membuat kerugian untuknya bertambah banyak.


Brak!!


Saat dibuka, tanpa tahu jika dari luar wanita itu mendobrak, hingga terdengar suara nyaring sampai Elara berjingkat kaget.


"Berikan uang sewa!"


Wanita itu langsung berkacak pinggang dan menagih uang sewa, Elara menelan ludah melihat kemarahan dari pemilik kost tersebut.


"Aku belum ada uang Mili," Cicit Elara dengan wajah menunduk.


Semakin gelap saja wajah wanita itu, sudah dua bulan nunggak dan sekarang tidak punya uang.


"Kau kerja banting tulang, tidak punya uang? kau kerja atau jual diri gratis!!" Bentak wanita bernama Mili dengan wajah garangnya, tatapan matanya yang melotot dengan kulit yang hitam, jangan lupakan rambut yang kribo, jika dipikir sudah mirip gendruwo, hanya saja gendruwo matanya merah dan hijau seperti rambu-rambu.


"Aku akan membayarnya Mili, tapi beri aku waktu lagi," Ucap Elara dengan wajah pucat.


Tubuhnya lemas dan tenaganya tidak rasanya Elara sedang sekarat.


"Tidak ada uang kau pergi saja! masih banyak yang mau mengambil penginapan di sini!!"


"Elara ada apa ini?" Seorang gadis mendekati Elara yang tampak pucat, "Kamu sakit?" tanya gadis itu tampak khawatir.


Elara yang merasakan kepalanya berputar-putar pusing, membuat gadis itu langsung tak sadarkan diri diambang pintu.


"Elara!!"


*


*


"Noah dari mana saja kamu!"


Pria yang di panggil Noah hanya melirik saja, tanpa mau menjawab.


"Noah, Berlin sedang bertanya," Suara dad Alber Jhonson menghentikan langkah Noah.


Pria yang memilki mata biru safir dan rahang tegas itu berbalik, menatap Dad Alber yang bicara.


"Kabur dari pembunuh bayaran, apalagi." Sarkasnya dengan tatapan sinis.


Berlin membulatkan kedua matanya, saat ingin bicara Noah lebih dulu bicara.


"Tapi sayangnya mereka tidak berhasil."


Setelah mengatakan itu Noah memilih pergi menaiki lift menuju kamarnya.


"Honey, siapa orang yang jahat ingin menghabisi Noah?" Ucap Berlin dengan nada khawatir.


Sedangkan Dad Alber hanya diam sambil mengusap pugung tangan istrinya.


Di dalam kamar mandi, Noah mengguyur tubuhnya di bawah air shower yang dingin, pria tinggi tubuh kekar nan berotot itu membersihkan diri setelah bercintanya semalam.


Noah mengusap kepalanya dengan tangan sampai kebelakang leher, di mana ada sebuah tato dibagian leher sampai ke punggung.


Saat matanya terpejam, tiba-tiba bayangan percintaan dengan gadis yang tidak dia kenal muncul begitu saja, suara erotis dan desahann seksi gadis itu memenuhi kepalanya.


"Shittt!"


Noah langsung membuka matanya, tidak biasanya dia sampai membayangkan bercintanya dengan para wanita, tapi kenapa gadis itu malah muncul di kepalanya.


Menyudahi mandinya, Noah pun keluar dengan handuk di pinggang, pria itu menyambar ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Cari tahu siapa yang membayar mereka!"


Noah tersenyum miring, siapa yang sudah berani mengusik dirinya, nyawa mereka lah yang akan melayang.