One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
S2. Sendiri



Merasa kesal dengan kedua orang tuanya yang terus aja membicarakan tentang masa depan yang membuat Leo memilih untuk meninggalkan mereka berdua di rumah. Setidaknya di luar seperti ini dia bisa menikmati kesendiriannya.


"Astaga, apa aku tinggal di zaman purba hingga aku harus dijodohkan? ini benar-benar tidak bisa diterima." ucap Leo yang masih merasa kesal tentang apa yang kedua orang tuanya bicarakan.


Dia lebih memilih membeli kopi untuk menghilangkan rasa kesal dan menikmati hidupnya sebelum dia kembali bekerja nantinya.


Di gerai kopi ini, Leo jadi berpikir bahwa dia juga ingin membuka usahanya sendiri tapi di bidang apa?


Banyak bidang yang dikuasai olehnya tapi dia tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Semuanya benar-benar di luar kendalinya.


"Ya Tuhan, rasanya aku ingin sekali pergi ke tempat dimana aku bisa menikmati kesendirianku." ucap Leo lagi yang tidak tau harus pergi kemana.


Setelah merasa bosan, dia kembali berjalan menikmati kesendiriannya di dalam pusat perbelanjaan ini. Leo berjalan entah ke mana sampai dia menabrak seseorang hingga dia hampir terjatuh.


Brugh...


Reflek Leo menangkap tubuhnya agar tidak jatuh. Namun, ketika lihat-lihat siapa yang menabrak tubuhnya membuat Leo langsung melepaskan tangannya dari wanita itu.


"Astaga, kau kasar sekali pada wanita." gerutu Jasmine ketika tubuhnya dilepaskan begitu saja oleh Leo.


"Setidaknya kau harus berterima kasih padaku karena aku telah menolongmu. Jika aku tidak menolongmu tadi mungkin saja kau sudah tergeletak di lantai." jawab Leo sambil menunjuk lantai dengan gerakan matanya.


Tatapannya dingin seolah dia tidak menyukai Jasmine dan Jasmine melihatnya.


"Kenapa terlihat sangat tidak menyukaiku?" Jasmine memberanikan dirinya untuk bertanya pada Leo kenapa pria ini selalu saja bersikap dingin terhadapnya. Bahkan di setiap pertemuan mereka tidak ada kesan sedikitpun selain kebencian yang Jasmine lihat.


Leo menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyuman kecil yang terkesan meledek pada Jasmine.


"Aku tidak membutuhkan alasan apapun untuk membencimu. Bukan hanya kau saja, bahkan aku tidak membutuhkan alasan apapun untuk membenci orang lain di luar sana. Lagi pula bagaimana bisa kau menyimpulkan bahwa aku membencimu? apa keuntungan yang bagiku jika aku membencimu?" Jasmine terdiam ketika jawaban dari Leo. Dia kehabisan kata-kata untuk membalas apa yang pria ini katakan.


"Kau tidak memiliki jawabannya bukan? jadi menyingkir dari hadapanku." ucap Leo yang berjalan melewatinya begitu saja.


Melihat Leo yang pergi meninggalkannya begitu saja membuat Jasmine semakin merasa ada yang salah dengan dirinya. Untuk pertama kalinya ada laki-laki yang terlihat sangat membenci dan sangat tidak menyukainya. Jika biasanya banyak laki-laki yang akan tertarik padanya dan memuji kecantikannya tapi tidak dengan pria ini.


Leo benar-benar sangat datar dan seolah dia tidak tersentuh oleh wanita manapun di dunia ini.


"Aku semakin penasaran siapa dirimu yang sebenarnya Leo. Kau membuatku semakin penasaran dan ingin mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya. Sikap dingin-mu ini seolah membuatku yakin bahwa ada kehangatan di balik sikap dingin yang kamu miliki." ucap Jasmine yang yakin dengan apa yang di pikirannya saat ini.


Dia juga tidak tau kenapa dia bisa bersikap seperti ini pada wanita yang tidak di kenalnya sama sekali. Dia memang hanya mengetahui bahwa wanita itu bernama Jasmine, tapi dia tidak mengenal secara personal dengan wanita itu.


Entah mengapa Leo sangat membenci dengan yang namanya wanita malam karena dia masih mengingat dengan jelas masa lalu mamanya. Dia tau bahwa mama Alicia mantan wanita malam yang menikah dengan daddy-nya. Sebelum itu mamanya banyak melayani nafsu para pria hidung belang karena hutang keluarganya.


"Aku tidak pernah membenci mamaku Tuhan, hanya saja aku membenci masa lalunya. Masa lalu yang membuatku ingin melenyapkan tempat hiburan dunia malam." ucap Leo di dalam mobilnya.


Dia hendak keluar dari pusat perbelanjaan ini, namun dia kembali melihat bahwa wanita itu masih berada di sini dan sedang menunggu taksi atau semacamnya mungkin.


"Terserah! aku tidak peduli dengannya." ucap Leo lagi.


Dia melakukan mobilnya melewati Jasmine begitu saja tanpa melihat ke arahnya sedikitpun. Sementara Jasmine, dia mengingat jelas mobil siapa itu karena baru tadi pagi dia melihatnya dan pemiliknya adalah Leo. Pria dingin yang membuatnya penasaran.


Entah kemana perginya Leo, tapi dia memilih untuk pergi ke menjauh dari pusat kota dan dia sampai di sebuah sungai yang selalu menjadi tempat menyendirinya.


"Hidupku ini terlihat sangat menyedihkan sekali. Aku terlahir menjadi anak kedua yang tidak memiliki teman lagi setelah kakakku menikah. Lalu yang kedua, aku tidak memiliki teman lainnya lagi. Apa aku harus mencari kesibukan lain di luar jam kerja dan jam kuliahku?" tanya Leo yang bersandar di kap mobilnya lalu memejamkan matanya menikmati semua ini.


Angin berhembus menerpa wajahnya dan tiba-tiba saja dia merasa ada seseorang yang berada di dekatnya saat ini.


Ketika dia membuka matanya, Leo melihat bahwa itu adalah Joe.


"Sejak kapan kau disini?" tanya Leo yang cukup kaget ketika melihat temannya yang berkulit hitam itu berada di sana bersamanya.


"Aku mencari ikan di sini karena sungai ini banyak ikannya." jawab Joe.


"Untuk apa ikan?" tanya Leo yang tidak percaya dengan temannya ini yang mencari ikan di sungai seperti ini.


"Lalu dengan apa kau sampai kesini?"


"Sepeda, aku datang kesini dengan sepeda." jawab Joe yang terus saja sibuk dengan kail pancingnya.


"Astaga, hanya karena ingin makan ikan kau harus memancingnya lebih dulu?" tanya Leo yang masih tidak habis pikir dengan pria ini.


"Ya, karena ketika memancingnya itu teras sangat menyenangkan."


"Kau aneh!" timpal Leo lagi karena menurutnya Joe ini memang aneh. Hanya karena ingin makan ikan saja dia harus pergi memancingnya lebih dulu.