
Di dalam mobil menuju rumah sakit, Leo tidak berbicara sepatah kata pun dengan Claudia karena memang dia masih kesal dengan istrinya sejak kemarin malam. Apalagi ketika wanita itu menyuruhnya untuk menikahi wanita lain hanya untuk mendapatkan keturunan. Sungguh, dia benar-benar tidak percaya ini, dia menyuruhnya begitu saja untuk menikah lagi.
Mereka terus saja diam bahkan sampai saat tiba di rumah sakit pun Leo tetap diam walau masih memberlakukan istrinya dengan begitu baik pada Claudia. Hanya saja memang dia terlalu diam karena tidak ingin membicarakan hal apa pun saat ini sebelum dia mendengar penjelasan dari dokter.
"Leo, aku mohon jangan lakukan ini. Jangan bunuh mimpiku dengan kenyataan pahit ini Leo," pinta Claudia dengan sangat pada suaminya. Dia benar-benar memohon pada Leo untuk tidak melakukan semua ini karena dia tidak ingin melakukan operasi itu. Jika mereka melakukan kemoterapi saat ini mungkin saja suatu saat Claudia bisa mengandung. Tapi, jika mereka melakukan operasi dan mengangkat kehamilan maka itu artinya sampai kapanpun Claudia tidak bisa mengandung. Pupus sudah harapannya untuk semua ini.
"Lalu apa kamu pikir kamu tidak menghancurkan mimpiku Claudia? kau makan sudah menghancurkan hati dan perasaanku ketika mendengar permintaan konyol itu. Apa kau tahu bagaimana sakitnya aku ketika mendengar kau menyuruhku untuk menikahi wanita lain? sakit Claudia, sakit sekali rasanya." jawab Leo karena memang seperti itulah kenyataannya. Dia merasakan sakit yang luar biasa ketika istrinya memintanya untuk menikahi wanita lain. Jangankan untuk menikahi wanita lain di luar sana, melihatnya saja pun ia tidak mau karena dia tidak tertarik dengan wanita manapun selain istrinya. Hanya Claudia saja yang bisa membuatnya jatuh cinta hingga sedalam ini. Sifat dan pembawaan dirinya serta hati yang begitu tuluslah yang membuatnya jatuh cinta hingga tidak lagi melihat wanita di luar sana. Bagi Leo saat ini wanita-wanita di luar sana hanya manusia yang berjalan dan bernafas. Selebihnya dia tidak pernah menganggap keberadaan mereka di dekatnya.
"Tapi aku melakukan semua ini demi Claudia, tolong mengertilah." akhirnya Claudia pasrah, dia mengikuti suaminya masuk ke dalam ruangan dokter. Mereka langsung bertemu dengan dokter yang sudah menunggu mereka. Saat keduanya sampai di ruangan dokter yang memeriksa Claudia kemarin, beliau sudah menyambut kedatangan mereka. Dokter tersebut masih mengingat dengan jelas wajah pasiennya yang kemarin dan kini dia sudah datang lagi.
"Selamat pagi nona Claudia, bagaimana hari anda apakah menyenangkan?" tanda daftar tersebut memulai membangun pembicaraan diantara mereka berdua. Bagaimana pun, dia ingin membuat pasien yang merasa nyaman sebelum mereka melakukan pembicaraan serius karena penyakit yang diderita Claudia bukan penyakit ringan seperti demam atau batuk pilek. Penyakit Claudia ini penyakit yang serius, maka dari itu harus di bicarakan dengan serius.
"Langsung saja dokter, saya ingin membicarakan masalah istri saya, dan saya juga ingin istri saya mengambil tindakan operasi." tukas Leo. Dia sudah yakin dengan keputusannya ini jika Claudia akan menjalani operasi pengangkatan rahim.
"Pahami dulu ya, biar saja jelaskan untuk masalah operasi dan penyakit yang di alami istri anda saat ini. Operasi pengangkatan rahim pada wanita yang mengindap penyakit tertentu itu tidak mudah tuan.Operasi angkat rahim itu adalah prosedur medis yang dilakukan untuk mengobati penyakit-penyakit pada organ reproduksi wanita, seperti kanker serviks atau kanker rahim, fibroid rahim atau miom, endometriosis, turun peranakan atau prolaps uteri, radang panggul, menstruasi yang tidak normal. Tapi kasus istri anda saat ini adalah kanker rahim." Jelas dokter Arman yang mulai menjelaskan pada sepasang suami istri tersebut.
"Dalam prosedur ini, rahim dapat diangkat sebagian atau seluruhnya, tergantung pada seberapa parah penyakit yang diderita oleh wanita. Meski operasi pengangkatan rahim umumnya memiliki efektivitas yang tinggi dalam mengatasi penyakit di atas, tidak dapat menutup fakta bahwa tetap ada risiko efek samping atau komplikasi di balik prosedur ini." lanjut sang dokter.
"Lalu apa ada efek samping tertentu dokter?" tanya Claudia yang mulai penasaran dengan operasi ini.
"Ada beberapa efek samping operasi angkat rahim yang dapat terjadi pada wanita yang menjalani prosedur ini adalah infertilitas. Operasi angkat rahim akan menyebabkan infertilintas atau kemandulan Hal ini tentu akan berdampak pada kondisi mental orang yang menjalaninya, terlebih bagi wanita yang masih ingin memiliki anak bukan hanya kemandulan, pengangkatan rahim juga dapat menyebabkan pasien mengalami menopause lebih awal, meskipun usianya belum mencapai 45 tahun. Kondisi ini juga dapat terjadi pada pasien pasca operasi angkat rahim total, di mana indung telur atau ovariumnya ikut diangkat. Kondisi ini dapat menimbulkan beragam gangguan, seperti sulit tidur, hot flashes (munculnya sensasi panas dari dalam tubuh), ****** kering, sakit saat berhubungan seksual, hasrat seksualnya menurun sampai perubahan suasana hati yang tidak menentu." jelas dokter Arman. Dia berusaha menjelaskan segala hal yang bisa saja terjadi pada Claudia jika melakukan operasi nantinya.
"Saya berikan lagi penjelasan tentang efek samping dari obat bius pasca operasi. Efek samping yang terjadi tak hanya diakibatkan oleh tindakan operasi itu sendiri, tapi bisa juga karena obat yang digunakan untuk membantu kelancaran prosedur ini. Salah satu obat yang digunakan pada operasi angkat rahim adalah anestesi atau obat bius. Anestesi dapat menimbulkan beragam efek samping, seperti sakit tenggorokan, mulut kering, nyeri otot, mengantuk, gatal-gatal, serta mual dan muntah. Di luar beberapa efek samping di atas, histerektomi juga dapat menimbulkan efek samping lain, seperti,Nyeri berat, Demam, Infeksi, Pembekuan darah yang dapat menyebabkan sumbatan aliran darah, Kerusakan pada organ di sekitar rahim, dan Perdarahan, Pelengketan pada organ di dalam perut dan panggul. Penanganan efek samping operasi angkat rahim tidak selalu sama pada tiap pasien. Namun, biasanya dokter akan memberikan beberapa penanganannya, seperti obat antinyeri. Setelah menjalani operasi angkat rahim, pasien akan merasakan nyeri berat. Hal ini menandakan bahwa tubuhnya sedang pulih dan berusaha menyembuhkan luka operasi. Untuk mengatasi nyeri dan membantu pasien beristirahat lebih nyaman, dokter akan memberikan obat antinyeri. Lalu ada antibiotik. Obat antibiotik diberikan untuk mencegah dan mengatasi infeksi setelah operasi pengangkatan rahim. Suatu studi menyebutkan bahwa pemberian antibiotik setelah operasi efektif untuk mencegah terjadinya infeksi yang dapat mengganggu proses pemulihan pasien. Ketiga juga ada terapi pergantian hormon. Untuk mengatasi gejala perubahan hormon atau menopause, dokter juga dapat memberikan terapi pergantian hormon. Terapi ini dilakukan dengan pemberian obat khusus yang berfungsi menggantikan hormon yang hilang akibat menopause. Ke empat, ada Menopause, Jika pasien mengalami masalah psikologis atau tekanan batin yang berat setelah menjalani operasi angkat rahim, dokter dapat menyarankan konsultasi psikologi atau psikoterapi. Setelah menjalani operasi angkat rahim, pasien perlu beristirahat selama beberapa hari di rumah sakit. Selama di rumah sakit, dokter akan memantau kondisi pasien, memberikan terapi cairan melalui infus untuk mencegah dehidrasi, dan memberikan obat-obatan lain sesuai kebutuhan pasien. Setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, pasien juga tetap membutuhkan istirahat dan menjalani beberapa hal agar pemulihan dapat berjalan lancar. Beberapa perawatan di rumah yang dimaksud adalah, Beristirahat yang cukup dan hindari mengemudi.T idak berdiri terlalu lama. Tidak mengangkat beban berat. Menggunakan obat pencahar jika terkena sembelit. Tidak berhubungan **** selama 4-6 minggu atau sampai ****** benar-benar sembuh. Mengindari minuman beralkohol dan rokok. Meski efek samping operasi angkat rahim telah dirasa hilang, akan lebih baik bila Anda tetap melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin ke dokter. Hal itu bertujuan agar ketika muncul gangguan lain, dokter dapat segera mengetahuinya dan melakukan penanganan yang tepat. Jadi bisa di pahami sampai di sini?" baik Claudia mau pun Leo, keduanya masih terdiam dengan apa yang dokter jelaskan pada mereka.