
"Ayo kita pergi." ajak Arka pada kedua temannya.
Sementara Alta sendiri dia meminta maaf pada istrinya karena tidak bisa menemani malam ini. Setidaknya Naura mengerti bahwa dirinya harus menemani temannya lebih dulu sebelum mereka pulang ke Indonesia.
"Sebentar, aku harus pamit pada istriku dulu." ujar Alta yang ingin kembali berpamitan pada istrinya.
Sedangkan Arka, dia sudah ingin sekali menjamak rambut atas saat ini karena pria itu kembali ingin berpamitan pada istrinya. Dia tahu bahwa Alfa ini pengantin baru tapi tidak harus seperti ini juga.
Apa ini ada sangkut pautnya dengan usianya yang 40 tahun baru menikah? Entahlah, Arka benar-benar tidak habis pikir dengan sahabatnya.
"Ayolah Al, kau sudah berpamitan pada istrimu dua kali dan ini yang ketiga kalinya. Bahkan tentara yang mau dikirim ke medan perang saja tidak sepertimu. Sudah, ayo berangkat." Arka langsung menarik temannya itu untuk pergi meninggalkan rumahnya.
Husein sendiri tidak bisa berbuat banyak karena melawan pun dia percuma. Disini hanya Husen yang paling susah dan bahkan pesantrennya saja masih mendapatkan donasi dari perusahaan Arka dan akta juga. Walau memang mereka semua akan sama derajat dengan di mata Allah tapi tetap saja di dunia dia kalah dengan power kedua temannya.
"Tapi kita mau ke mana Ar, jangan macam-macam." ucap Alta yang berusaha untuk memperingati teman aku karena dia tahu terkadang jalan pikiran teman yang agak menyimpang.
Beruntung bahwa Arka tinggal di Indonesia bersama Husein yang bisa kapan saja membuat dirinya sadar. Ada untungnya juga Husein yang berprofesi sebagai ustad karena bisa menyadarkan temannya kapanpun termasuk meruqyah.
"Sudah, kita akan bersenang-senang malam ini. Party woi."
"Kau gila Arka. Jangan macam-macam karena ada Husein." mendengar apanya yang temannya katakan membuat Husein langsung sadar.
"Arka, astaghfirullah Ar. Istighfar Arka, istighfar." Husein berusaha untuk menyadarkan temannya yang hendak berbuat khilaf.
Club' malam dan sejenisnya itu haram bagi agama mereka dan Husein tidak ingin teman yang terjerumus ke dunia malam seperti itu.
"Heh, saudaranya Aladin. Gue ngajak kalian keluar bukan untuk pergi ke club. Lagian pikiran lu tuh jahat banget sih gue mau ngajakin kalian main ke club. gue tuh mau ngajak kalian berdua nongkrong sekedar cerita-cerita kita. Bukan malah pergi ke tempat yang begituan. Haram bos, haram." ujar Arka dengan suara yang terdengar sangat kesal.
Jelas dia kesal karena kedua temannya itu berpikir bahwa dia akan mengajak pergi ke tempat dugem. Entahlah, bisa-bisanya mereka berpikir seperti itu.
"Alhamdulillah kalau gitu. Ana kita antum udah menyimpang dari ajarannya."
"Astaghfirullah bahlul, gue masih sadar ya. Lu gak tau papi gue taat banget walau dia bukan ustadz kayak elu. Setidaknya gue mengamalkan apa yang Allah ajarkan, dan gue jauhi tuh segala larangannya. Bahkan jika Allah minta gue untuk menjauhi lo maka saat itu juga gue akan menjauh dari lo. Tapi sayangnya tiba-tiba manusia seperti lo ini calon-calon penghuni surga jadi gue ngikut aja deh kali aja gue kecium bau surga juga." Alta sendiri hanya bisa menggelengkan kepalanya saja ketika mendengar kedua sahabatnya yang bercerita ke sana kemari.
Dia membiarkan Arka yang mengemudi di sini entah ke mana pria itu akan membawa mereka tapi yang pasti Al tak percaya bahwa dia tidak akan membawa mereka pergi ke tempat yang tidak baik.
"Gak usah turun deh. Kita di sini aja." ucap Arka.
Dia membuka atap mobil milik Alta dan mereka mulai menikmati indahnya kota Moskow tempat dimana temannya ini tinggal.
"Al..."
"Apa?" jawab Alta ketika Arka memanggilnya.
"Lu beneran udah move on Al? jangan macam-macam nikahi anak orang kalau belum move on kasihan nanti. Lagian istriku masih muda banget jadi kalau misalnya lu nikahin dia hanya karena umur lu yang udah 40 tahun mending pisah aja deh." ujar Arka karena dia tidak ingin jika temannya yang menikah hanya karena usia saja.
"Aku mencintainya Ar, lagi pula aku tidak untuk mempermainkan pernikahan. Asal kau tahu saja, bahkan sebelum ini aku sudah bertemu dengan Amanda dari Naura juga sudah mengetahui cerita masa lalu kebersamaan Amanda. Naura juga sedang bicara pada Amanda untuk tidak mengingatku lagi karena semua yang terjadi di antara kami sudah selesai. Aku dan Amanda tidak ditakdirkan Tuhan untuk bersama dan aku sudah menerima semua keputusan itu. Aku sudah benar-benar melupakan jalan aku hidup bahagia bersama istriku. Aku mencintai Naura, Arka." jelas Alta panjang lebar karena dia tidak ingin dicapainya mempermainkan pernikahan oleh teman-temannya.
"Dalam agama apa-apa tidak dibenarkan untuk mempermainkan pernikahan. Jika memang kamu sudah yakin dengan perasaanmu dan juga istrimu jalani semuanya dengan benar. Beriman terhadap Tuhan itu yang tahu. Suami istri harus saling mengerti satu sama lain agar tidak ada cekcok di dalamnya. Jika pun ada masalah tolong bicarakan dengan kepala dingin dan jangan memakai emosi di dalamnya. Setan, aku yakin bahwa dalam agama apapun setan itu ada dan mereka mengganggu hubungan rumah tangga seseorang dan merusaknya. Berusahalah agar kalian selalu dekat dengan Tuhan." ujar Husein yang kebahagiaan yang dirasakan Alta teman mereka ini.
Karena berteman dengan Arka dan juga Alta dia bisa mengenal dunia luar dengan keanekaragaman yang berbeda.
Agama mereka juga berbeda, tapi persahabatan mereka masih erat hingga saat ini.
"Aku benar-benar sudah melupakan segalanya. Baik itu Amanda maupun Elle. Mereka pernah singgah di hatiku dan aku harap Naura menjadi jodoh terakhirku. Naura itu sangat istimewa dan aku mencintainya." jelas Alta.
Mereka membuka minuman kaleng yang di bawa mereka dari rumah Alta.
Ketiganya begitu menikmati suasana kota malam ini.
"Terkadang aku berpikir bahwa aku ingin kembali ke masa kanak-kanak di mana kita bisa bermain sepuasnya. Kalian tau bukan jika aku ajak tunggal. Dunia ku terasa sangat sepi apalagi orang tuaku yang begitu sibuk. Entahlah, mungkin memang aku ditawarkan untuk tidak memiliki saudara tapi kalian hanya sebagai saudaraku. Kau tau Al, mungkin kau akan mengatakan bahwa aku ini lebay atau berlebihan tapi aku tidak peduli dengan semua itu karena saat mendengar kau ingin menikah aku adalah orang yang paling bahagia di dunia ini. Mami dan Papua ku juga menitipkan salam untukmu dan istri mu. Katanya, jika kalian ingin berlibur ke Indonesia maka pasti dan mamiku yang akan membiayai semuanya. Mereka mengatakan bahwa itu hadiah untuk kalian berdua."
"Aku akan mengambil hadiah itu nanti jika memang Naura ingin pergi ke Indonesia. Terima kasih karena masih menjadi teman yang hebat untukku. Lalu bagaimana pesantren milikmu Husein?" tanya Alta pada temannya.
"Semuanya berjalan dengan lancar karena Allah dan juga bantuan dari kalian. Terima kasih karena masih menjadi teman terbaik untuk ku."