
Naura terbangun saat dia tidak mendapati suaminya yang tidur di sampingnya karena tempat tidurnya kosong. Hanya dia saja yang berada di sana.
"Kemana Gege?" tanya Naura saat dia terbangun dan tidak ada siapapun di kamar mereka saat ini.
Naura mencari ke kamar mandi namun tidak mendapati suaminya di sana juga. Lalu dimana suaminya?
Apa suaminya bekerja? karena merasa penasaran akhirnya Naura memilih untuk turun ke bawah dan melihat apakah benar suaminya di ruangan kerja atau tidak.
Namun, saat dia sampai di bawah Naura merasa tidak nyaman karena rumah sebesar ini tidak ada siapapun lagi karena ini sudah tengah malam dan itu artinya tidak ada siapapun lagi disini.
Jam sudah menunjukan pukul 01.00 dini hari dan itu artinya sudah tidak di benarkan bagi mereka untuk bekerja di jam seperti ini karena ini waktunya istirahat.
Mendengar suara pintu utama yang terbuka membuat Naura langsung melihat ke arah sumber suara karena dia penasaran siapa yang datang di jam seperti ini.
Betapa kagetnya Naura ketika melihat bahwa suaminya yang baru saja datang dengan keadaan berantakan seperti itu.
"Gege,"
"Naura?" tanya Alta yang sangat kaget ketika melihat bahwa istrinya yang berada di depan sana saat ini.
Kenapa Naura ada disini? ini sudah tengah malam, lalu apa yang di lakukan istrinya di lantai satu?
"Sayang, kamu sedang apa di sini?" tanya Alta pada istrinya dan langsung menghampiri wanita yang menguasai hatinya itu.
Naura menerima pelukan dari suaminya yang dicarinya sejak tadi.
"Aku mencari kamu, namun tidak ada di kamar dan aku ke lantai satu, dan disini aku tidak melihat satu orangpun. Apa setiap harinya begini tidak ada orang di rumah ini saat malam?" tanya Naura pada suaminya karena dia merasa bingung. Bahkan saat dia haus bagaimana nantinya?
"Memang seperti ini sayang, karena para pembantu dan pelayan akan kembali ke rumah belakang jika sudah jam 9 malam. Itu adalah peraturan rumah karena jam 9 malam batas kerja mereka dan setelahnya mereka akan istirahat di rumah belakang." jawab suaminya yang membuat Naura menganggukkan kepalanya karena dia mulai mengerti cara kerja di rumah ini.
Tapi tunggu dulu, Naura langsung melepaskan pelukan suaminya dan dia menatap pada pria yang baru saja datang dari luar ini.
Tadi, sebelum Alta masuk Naura juga mendengar ada suara mobil yang baru saja dimatikan. Apa itu memang benar suaminya?
"Gege dari mana saja? apa mobil yang berhenti tadi itu mobil Gege?" tanya Naura dan Alta menganggukkan kepalanya. Dia tidak ingin berbohong pada istrinya karena memang dialah yang baru saja datang dari luar.
"Ini kenapa?" Naura kembali bertanya pada suami saat melihat tangan pria itu yang memerah dan Naura yakin bahwa ada yang dilakukan suaminya di luar sana.
"Bukan apa-apa sayang." jawab Alta sekenanya karena dia tidak ingin membuat istrinya khawatir.
Dia tidak ingin membuat Naura khawatir padanya karena keadaan yang baik-baik saja. Rasanya sudah puas karena telah melakukan apa yang memang harus dilakukan olehnya terhadap laki-laki pengecut itu. Laki-laki yang tidak tau diri karena telah menyakiti hati adik perempuannya.
"Aku baru saja dari club malam sayang."
"Untuk apa?" tanya Naura yang masih penasaran apa yang dilakukan suaminya di klub malam seperti itu.
"Aku menemui suaminya Sheila. Aku menghajarnya habis-habisan hingga dia terkapar di atas lantai. Aku memberinya pelajaran atas apa yang telah dilakukan terhadap Sheila." jawab Alta hingga membuat Naura langsung pergi ke dapur untuk mencari air hangat.
Dia akan mengompres tangan suaminya agar tidak membangkang nantinya.
Melihat Naura jangan langsung pergi meninggalkannya membuat Alta mengejar wanita itu. Dia takut jika Naura marah padanya dan akan mendiamkannya.
"Sayang, apa yang ingin kamu lakukan di dapur?" tanya Alta yang terus saja mengikuti istrinya.
Bahkan dia benar-benar mengikuti istrinya sampai berada di dapur.
"Duduk disini, ayo." ajak Naura pada suaminya dan dia langsung mendudukkan suaminya di kursi makan lalu Naura mengompres punggung tangan pria itu yang terlihat memerah. Itu terlihat sangat jelas apalagi Alta yang memiliki kulit putih seperti salju. Bahkan Alta lebih putih darinya lagi, jadi luka lebam itu akan terlihat sangat kontras sekali dengan warna kulitnya.
"Sayang, aku baik-baik saja. Ini bukan luka besar seperti yang kamu pikirkan." ucap Alta pada istrinya karena ini memang bukan luka besar seperti yang ada di pikiran Naura saat ini.
"Aku tidak pernah mengatakan bahwa ini adalah luka besar. Luka kecil sekalipun bisa menjadi besar jika itu infeksi. Ini luka lebam dan itu artinya ada gumpalan darah yang tidak mengaliri area tersebut. Jika dibiarkan bisa saja berakibat buruk nantinya. Bagaimana jika ingin membengkak dan menghambat aliran darah?" tanya Naura pada suaminya.
Alta sendiri hanya bisa mendesah pasrah saja dan dia tidak bisa melakukan apapun lagi karena memang istrinya yang mengetahui segalanya.
"Aku memang hanya seorang dokter gigi, tapi aku mempelajari semua ini sebelum aku mengambil spesialis. Kami belajar dasar-dasar utama sebagai seorang dokter. Jadi, jangan lagi mengatakan bahwa ini hanya luka kecil dan tidak berakibat apa-apa pada Gege."
"Iya sayang, maaf." ucap Alta pada istrinya.
Naura terus saja membersihkan luka di punggung tangan suaminya hingga dia merasa bahwa luka itu sudah cukup membaik. Setelah dia selesai membersihkan luka di punggung tangan suaminya, Naura langsung pergi meninggalkan pria itu begitu saja.
Entah mengapa rasanya tidak nyaman saja ketika melihat suaminya terluka seperti itu. Naura merasa bahwa ada ketakutan di dalam dirinya jika terjadi sesuatu pada suaminya.
Melihat Naura yang langsung pergi meninggalkannya begitu saja tanpa pamit membuat Alta panik. Dia takut jika istrinya marah dan mendiamkannya, untuk itu Alta memilih untuk menyusul Naura saat ini.
"Sayang, kamu marah?" tanya Alta saat mereka sudah sampai di dalam kamar.
"Aku akan menyiapkan pakaian ganti Gege dan segeralah tidur. Ini sudah waktunya untuk manusia istirahat. Tapi jika Gege bukan manusia ya silahkan saja. Aku tidak memaksa Gege untuk istirahat bersamaku. Mungkin dunia luar lebih menyenangkan." kedua bola mata Alta langsung membulat sempurna saat mendengar apa yang istrinya katakan saat ini. Dia kaget ketika melihat istrinya yang marah seperti ini.
"Sayang, kamu marah?"
"Aku sudah menyiapkan pakaian gantinya. Selamat malam." ucap Naura yang mengakhiri pembicaraan mereka malam ini karena dia ingin segera tidur.