
Leo sudah kembali ke kantornya dan dia benar-benar berubah. Jika kemarin ada sikap dinginnya maka kali ini jauh lebih dingin. Dia bahkan sudah tidak lagi menjawab sapaan dari anak buahnya dan itu membuat Jasmine merasa kaget dengan perubahan pria itu.
Tidak hanya Jasmine saja yang merasa kaget dengan perubahan Leo, tapi Joe juga merasakan hal-hal yang sama apalagi ketika mereka berada di ruangan meeting. Leo sangat menyeramkan dan bahkan dia bisa merobek berkas yang ada di depannya hanya karena tidak sesuai dengan keinginannya.
"Aku tidak ingin tau, beresan itu semuanya sebelum besok. Jika besok semuanya belum selesai makan berikan padaku surat pengunduran diri kalian maka aku akan menandatanganinya!"
"Meeting selesai!" ucap Joe yang mengetahui bahwa temannya ini masih membutuhkan waktu. Mereka juga memahami apa yang Leo rasakan saat ini tapi tidak mesti seperti ini menjadikan para bawahan mereka menjadi sasaran atas keterpurukannya.
"Apa yang kau lakukan hah? kau bersikap seolah-olah kau tidak membutuhkan mereka semua di perusahaanmu. Aku tahu kau pemilik perusahaan dia tapi tidak seharusnya kau mengatakan hal seperti itu pada mereka. Sekarang aku tanya padamu apa bisa kau menjalankan perusahaanmu ini tanpa bantuan dari anak-anak? kau memang bos pemilik perusahaannya tapi jika tidak ada mereka maka kau tidak bisa mendapatkan posisimu saat ini. Sekarang pikirkan itu baik-baik dan jangan menjadi orang bodoh!" ucap Joe yang terlalu begitu saja setelah mengatakan apa yang ingin dikatakannya padanya Leo.
Kini, hanya tinggal yang berada di ruangan meeting itu bersama Leo. Dia juga ingin pergi dari sana setelah membereskan berkas-berkas dan juga laptop miliknya. Namun, dia ndak bergendingan ruangan meeting itu tiba-tiba saja Leo menghentikannya.
"Itu untukmu, aku tidak membukanya sama sekali dan aku tidak tahu apa isinya. Tapi di atas surat itu tertera namamu, jadi aku berpikir bahwa itu untukmu." ucap Leo yang mengeluarkan selembar surat tadi dari saku jas miliknya. Jasmine mengambil selembar kertas putih tersebut dan berpamitan pada Leo.
"Terima kasih tuan," jawabnya yang langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Jasmine kembali ke ruangan kerjanya dan dia membuka surat yang bertuliskan namanya di sana.
Hay, Jasmine, aku harap ketika kamu membaca surat ini kalau dalam keadaan baik dan aku sangat berharap bahwa kau akan selalu berada dalam lindungan Tuhan.
Maaf, aku tidak tahu kenapa aku bisa menuliskan surat ini untukmu tapi yang pasti aku ingin mengatakan padamu bahwa aku begitu berterima kasih atas apa yang telah kau lakukan untukku selama ini. kamu mau menjadi teman terbaik untukku Dan kamu mau mendengarkan setiap keluh kesahku.
Hey, apa kau tahu bahwa aku merasa bahagia saat ini? aku merasa bahwa aku benar-benar bisa lepas setelah ini tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya tapi aku merasa bahwa hidupku kembali seperti semula. Ingatkah kau dengan apa yang pernah ku ceritakan padamu bahwa aku sangat mencintai seorang pria dan aku tidak bisa melupakannya, kau berkata bahwa itu adalah lewat tapi kenyataannya tidak, karena dia bukan Leo. Aku mencintai pria bernama Jasson, Dan tolong jangan katakan apapun pada Leo jika kau mengetahui siapa pria itu. Ya dia adalah teman kuliah aku dan dia sudah pergi lebih dulu meninggalkanku karena kecelakaan.
Jasmine, perlu kau ketahui bahwa Leo pernah bercerita dia mencintai seorang wanita tapi tidak berani mengatakannya karena background masa lalunya. Dulu, belum kami menikah Dia pernah mengatakan hal seperti itu dan dia tidak pernah berani memperjuangkannya karena dia takut jika keluarganya akan menolak semua itu. Tolong, tolong carikan wanita itu untuknya. Katakan padanya bahwa Leo pernah mencintainya dan mungkin saja hingga saat ini dia masih mencintainya.
Claudia,
Air mata Jasmine jatuh begitu saja ketika malam selesai membaca surat yang Claudia tuliskan untuknya. Dia Dia benar-benar tidak percaya ini bahwa selama ini Leo memiliki perasaan padanya dan bahkan dia pernah mengatakan bahwa dia mencintainya tapi tidak berani memperjuangkan semua itu karena masa lalunya.
Bolehkah Dia merasa bahwa dia adalah wanita itu? tapi bagaimana jika itu bukan dia. Air matanya terus saja mengalir hingga membuat janin memberanikan diri untuk memberikan surat itu pada Leo. Dia kembali ke ruangan meeting dan melihat pria itu yang masih duduk di kursinya.
"Apa kau tau sudah membacanya?" tanya Leo dan Jasmine menganggukkan kepalanya mendengar semua itu.
"Lalu apa isinya?" tanya Leo lagi.
Jasmine memberikan surat itu dan Leo membacanya. Kata demi kata dibaca oleh Leo sampai dia tiba-tiba saja meremas surat itu ketika mengetahui apa isinya.
"Jangan pernah salah paham dengan semua ini, aku-"
"Ya, aku juga cukup tahu diri dengan posisiku saat ini. Lagi pula apa yang anda lakukan sudah benar karena tidak mungkin Anda menyukai wanita seperti saya. Ibu ku disabilitas dan hanya penjual hot dog di pinggir jalan, masalah aku dicap sebagai wanita buruk karena bekerja di klub malam untuk melunasi hutang-hutang ayahku. Tidak ada yang harus dibanggakan dari diriku jadi anda pantas mengatakan hal seperti itu."
"Permisi," Jasmine pamit meninggalkan Leo setelah dia mengatakan hal seperti itu. Sedangkan Leo sendiri hanya bisa memukuli kepalanya saja mendengar apa yang Jasmine katakan.
Kenapa dia tidak bisa mengatakan hal yang lebih baik lagi? kenapa bibirnya selalu mengungkapkan kata-kata kasar yang menyakiti Jasmine seperti itu di saat dia sudah mengetahui kebenarannya.
"Bodoh! Dasar bodoh! Bajingan kau Leo! Kau manusia bodoh!" umpatnya pada dirinya sendiri karena dia merasa bahwa dia telah salah dan kembali menyakiti Jasmine dengan kata-kata yang keluar dari bibirnya.