
Mendapatkan kabar jika Claudia kecelakaan dan meninggal dunia di rumah sakit membuat Jasmine langsung pergi ke rumah sakit saat itu juga. Dia benar-benar tidak percaya dengan takdir ini. Baru saja tadi mereka menceritakan tentang takdir bersama Leo tapi kini takdir sudah kembali mempermainkan pria itu. Sebenarnya apa salah Leo hingga membuat takdir begitu kejam padanya.
Jasmine juga mengetahui betapa Leo sangat mencintai Claudia, lalu takdir macam apa yang Tuhan berikan padanya saat ini. Sepasang suami istri itu harus terpisah oleh takdir yang menyakitkan ini.
"Claudia, bagaimana bisa kamu seperti ini?" ucap merasa sangat sedih ketika mendapatkan kabar seperti ini. Dia pergi ke rumah sakit menggunakan mobilnya sendiri yang baru aja di belinya dengan uang tabungan miliknya walau masih mencicilnya.
Dia berusaha agar sampai di rumah sakit lebih cepat karena dia apa yang terjadi sebenarnya. Saat dia sampai di rumah sakit, Jasmine melihat Leo yang duduk sendirian di lorong rumah sakit menuju ruang jenazah. Awalnya Jasmine tidak ingin menghampirinya. Namun, hati nuraninya tidak tega meninggalkan Leo begitu saja.
"Tuan," panggil Jasmine ketika melihat pria itu dengan tatapan kosongnya. Jasmine benar-benar tidak tega melihat keadaan Keo saat ini. Pris itu terlihat sangat menyedihkan sekali.
"Kehidupanku sudah hancur Jasmine, aku tidak bisa melakukan apa pun sata ini. Wanita yang sangat ku cintai lebih memilih pergi meninggalkanku begitu saja. Dia lebih memiliki untuk pergi dariku karena dia tidak ingin hidup denganku lagi." ucapnya dengan begitu menyedihkan. Jasmine sendiri merasakan bagaimana hancurnya Leo saat ini. Dia tahu sebesar apa pria itu mencintai istrinya jadi ketika dia mendapatkan hal seperti ini rasanya sangat menyakitkan sekali.
"Tuan, apa anda ingin menangis?" tanya Jasmine yang memberanikan diri untuk duduk di samping pria itu. Dia tahu walau apa yang dilakukannya saat ini salah tapi niatnya benar-benar ingin membantu pria ingin mengeluarkan rasa sakitnya. Rasa sakit yang tidak bisa dikeluarkan itu akan semakin terasa sangat menyakitkan, maka dia berusaha untuk membuat Leo bisa menangis dan mengeluarkan semua rasa sakit yang dirasakannya saat ini.
Di tatap Leo wajah Jasmine lalu dia menggelengkan kepalanya karena dia tidak bisa menangis. Jangankan menangis, apa yang harus dilakukan dan saat ini pun dia tidak tahu. Entah bagaimana lagi cara Leo mengungkapkan perasannya saat ini. Hidupnya terasa sangat hancur dan kenapa Claudia pergi makanan dengan keadaan seperti ini.
"Pernah dengar jika pria menangis itu bukan karena tanda dia lemah? seorang pria juga berhak menangis di kala dia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya. Tidak ada yang menganggap jika pria menangis itu adalah salah. Pria menangis karena dia sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi dan hanya bisa keluar dengan air matanya saja. Jika seorang pria sudah menangis, maka artinya dia sudah tidak sanggup merasakan rasa sakit itu sendirian." ucap Jasmine. Entah mengapa tiba-tiba saja air mata Leo mengalir begitu saja ketika mendengar apa yang jasmani katakan. Dia dengan begitu menyedihkannya seperti ini. Bahkan isak tangisnya pun terdengar sangat sangat pilu sekali.
"Kenapa Jasmine, kenapa takdir Tuhan begitu tega padaku. Apa salahku hingga Tuhan mengambil Claudia dariku. Aku mencintainya Jasmine, aku benar-benar sangat mencintainya. Lalu bagaimana bisa takdir melakukan semua ini padaku" air matanya kembali mengalir. Jujur, sakit sekali hatinya saat ini dan bahkan untuk bernapas saja pun rasanya Leo sulit. Dia tidak sanggup menahan perasaan menyesakkan dada ini. Benar-benar sangat sakit sekali rasanya.
Sedangkan Jasmine sendiri juga merasakan hal yang sama. Dia takut jika kecelakaan keluarga terjadi karena Leo yang pergi ke rumahnya tadi.
"Aku suami yang tidak bisa diandalkan Jasmine. Aku suami yang sangat buruk karena tidak bisa menjaga istrinya. Aku benar-benar sangat buruk!" Leo menjamak rambutnya dengan frustasi dan bahkan dia juga menghantamkan kepalanya ke dinding hingga membuat jas dan berusaha untuk menghentikannya. Dia benar-benar tidak tega melihat keadaan pria yang terlihat sangat frustasi air pas kepergian istrinya ini.
Kedua tangan Jasmine berusaha untuk menghentikan aksi Leo yang begitu terpukul saat ini tapi dia tidak sanggup. Dia tidak bisa melakukan semua itu sendirian karena tenaganya kalah dengan Leo.
Di saat Jasmine sedang berusaha untuk menghentikannya, tiba-tiba saja Daddy-nya datang dan langsung menampar wajahnya.
Plak!
"Tuan Leon," ucap Jasmine yang begitu kaget ketika melihat tuan besar menampar Leo. Ini pertama kalinya dia melihat tuhan besar terlihat begitu marah dan tidak terkontrol lagi keadaannya.
"Biarkan Jasmine, biarkan anak bodoh ini sadar dengan apa yang dilakukannya saat ini. Seharusnya dia memberanikan diri untuk menemui istrinya yang sudah meninggal, bukan malah bersikap seperti orang bodoh." ucap Leon yang merasa kesal dengan keadaan Leo saat ini. Dia juga mengetahui bagaimana sakitnya kehilangan dan dia tahu apa yang dirasakan putranya saat ini pasti sangat sakit. Tapi dia harus bisa menguatkan dirinya untuk melihat keadaan Claudia di sana. Bahkan sejak tadi keluarganya Claudia sudah menunggu Leo untuk datang melihat anak mereka untuk yang terakhir kalinya.
"Apa lagi yang harus selalu lakukan saat ini Dad? Apa?" tanya Leo. Hidupnya sudah hancur dan tidak ada lagi yang tersisa karena Claudia sudah pergi meninggalkannya.
"Tidak ada lagi yang tersisa dalam hidup Leo saat ini. Claudia sudah pergi meninggalkan Leo dan dia tidak akan pernah bisa kembali lagi. Lalu apalagi yang bisa membuat liong hidup? Tidak ada dad, ada lagi yang tersisa di sini." ucapnya dengan penuh frustasi. Dia benar-benar merasa hancur, bahkan bernafas saja pun rasanya sangat sulit sekali. Leo tidak bisa melakukan hal apapun selain air mata yang keluar dari matanya saja.
"Bangun pergi lihat istrimu!" Leon menarik tubuh putranya yang terlihat begitu lemas tak berdaya untuk pergi melihat keadaan istrinya. Leo ditarik oleh Daddy-nya untuk datang ke ruang jenazah tempat di mana Claudia berada saat ini.