
Tempat tidur bertabur kelopak bunga mawar itu menjadi sakti penyatuan sepasang suami istri yang baru saja merasakan indahnya malam bersamanya.
"Aahhh...Gege... pelan-pelan..." pinta Naura karena dia merasakan perih ketika merasakan ada sesuatu yang ingin bisa masuk ke dalam inti tubuhnya.
Rasanya, perih panas dan sakit. Apalagi ketika suaminya berusaha keras untuk mendorong agar seluruhnya masuk dengan sempurna.
"Ini sedikit lagi sayang dan bertahanlah. Aku berjanji bahwa aku akan melakukannya dengan pelan." ucap Alta yang terus berusaha mendorong agar bisa masuk sepenuhnya.
Perlahan tapi pasti ada benar-benar bisa masuk hingga membuat Naura mencengkram sisi tempat tidur mereka.
"Eeggghhhh...." Naura berusaha keras untuk menahan rasa sakitnya ketika dia merasakan bahwa ada sesuatu yang merobek itu tubuhnya.
Sementara Alta sendiri, dia merasakan kenikmatan yang begitu luar biasa. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup di usianya yang memasuki 40 tahun yang baru merasakan kenikmatan dunia.
Sungguh, yang bener sangat luar biasa dan Alta tidak bisa menjelaskan lagi apa yang dirasakannya saat ini.
Semuanya sudah masuk dengan sempurna hingga terbenam di dalamnya. Baik Alta maupun Naura keduanya sama-sama merasakan kenikmatan yang luar biasa karena milik Alta dijepit dengan dinding yang sempit milik Naura.
Setelah merasa bahwa keduanya mulai baik-baik saja ada meminta izin pada istrinya untuk melakukan hal tersebut.
"Aku akan bergerak dengan pelan sayang. Aku tidak tahu bagaimana cara melakukannya tapi aku akan berusaha agar tidak menyakitimu." Naura hanya bisa menganggukkan kepalanya saja karena dia tidak bisa lagi menjawab apa yang suaminya katakan.
Anggukan membuat atap mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan perlahan.
Awalnya dia juga merasa sedikit kaku namun ketika dia mulai merasakan kenikmatan itu dan mendengar suara ******* dari istrinya, atau mulai semakin menambah kecepatannya dan karena di kecepatan desakan yang dilakukannya semakin membuat ******* yang akan semakin kencang.
"Aahhh...Gege... Pelan-pelan." minta Naura dengan pelan karena dia merasakan gesekan tersebut.
Gesekan itu benar-benar sangat luar biasa dan rasanya perih tapi ada rasa nikmat juga yang dirasakannya.
"Aahhh...Gege...." Naura bergerak gelisah di atas tempat tidur ketika merasakan seperti ada yang ingin meledak dari perutnya.
Dadanya membusung ke depan dan itu membuat atau langsung melakukan sesuatu yang tiba-tiba saja terpikir olehnya.
"Aahhh...Gege... ssshhh...." Naura menekan kepala suaminya bahkan dia juga menjabat rambut Alta ketika merasakan bahwa pria itu mulai melakukan aksinya.
Pinggulnya terusan bergerak maju mundur keluar masuk, sibuk menyesap kenikmatan yang disajikan sang istri.
Entah berapa lama mereka melakukannya hingga Naura langsung saja tertidur setelah pertempuran panas tersebut.
Alta telah menjadi pria seutuhnya karena telah bisa memberikan hak bagi istrinya. Begitu cuma dengan Naura yang memberikan mahkota yang dijaganya selama 23 tahun ini untuk sang suami.
Melihat di atas tempat tidur setelah pertempuran panas mereka membuat Alta merasa bangga karena bisa mendapatkan kesucian milik Naura.
Di belainya dengan lembut tapi istrinya dan Alta juga merapikan anak rambut yang menutupi wajah sang istri.
Alta berikan sebuah kecupan manis di kening Naura terima kasihnya.
"Terima kasih karena telah berjuang untukku. Istirahatlah sayang, mimpi yang indah Naura." mata meninggalkan sang istri yang tertidur di atas tempat tidur sementara dia pergi untuk membersihkan dirinya lagi.
Entah mengapa rasanya dia sudah tidak bisa tidur saat ini. Perutnya terasa sangat lapar dan itu membuatnya ingin keluar dan turun ke bawah untuk memesan makanan di restoran.
Tepat saat dia membuka pintu kamarnya, Alta di kagetkan dengan kehadiran keluarga besarnya di sana.
Lihat, atau bisa melihat bahwa di sana ada opak Alexander, ada Daddy-nya, lalu ada ayah mertuanya, ada saudara-saudaranya yang lain. Bahkan dia juga melihat bagaimana wajah menyebalkan milik Reve dan juga Rava.
"Kau benar-benar sudah melakukannya?" tanya Alif ketika dia melihat cucunya baru saja keluar dari kamarnya.
Bahkan bisa melihat bahwa di bagian leher cucunya yang ada terdapat seperti bekas cakaran. Apa itu bekas cakaran dari cucu menantunya?
"Opa, please. Kenapa setiap hari ada keluarga kita yang menikah selalu mendapatkan hal seperti ini. Apakah dulu Daddy juga mendapatkannya?" Matheo menghilangkan kepala karena yang tidak mendapatkan hal seperti ini.
"Apa? aku hanya penasaran bagaimana cara kerjamu. Tapi jika mendengar dari suaranya sepertinya kau berhasil. Jadi selamat atas pertempuran panas tapi aku rasa itu tidak terlalu panas. Besok, jika ingin bertempur lebih panas lagi masuk saja ke grup keluarga. Kau mendapatkan tutorial dari sana." ucap Alex dengan begitu entengnya.
Dia bahkan sudah tidak memperdulikan lagi bagaimana wajah cucunya yang terlihat menahan rasa malu. Apalagi di sini ada Leon yang berstatus sebagai ayah mertuanya. Sungguh, rasanya Alta benar-benar ingin menenggelamkan wajahnya saat ini juga.
"Kakak, selamat." ucap Reve yang langsung menjabat tangan kakak sepupunya. Dia bahkan tidak melihat bagaimana wajah pria itu yang menatap datar ke arah mereka.
Begitu juga dengan Rava, seperti yang dilakukan saudara kembarnya tadi dia juga melakukan hal yang sama pada kakak sepupunya.
Hal tersebut semakin membuat Alta kesal tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena di sini ada ayah mertuanya.
"Istirahatlah, kalian sudah terlalu lelah hari ini. Temani Naura karena jika hujan di malam hari di alam merasakan ketakutan. Traumanya terhadap hujan petir di malam hari benar-benar sangat mengerikan menurutnya. Jadi, peluk dia dan nyanyikan sesuatu yang bisa membuatnya lupa akan ketakutannya." Alta hanya bisa menganggukkan kepalanya saja saat mendengar apa yang ayah mertuanya katakan.
"Terima kasih Dad. Aku akan menjaga Naura." Leon pamit pada menantunya begitu juga dengan yang lain hingga menyisakan Matheo saja di sana.
"Dad-"
"Berbahagialah nak. Jaga istrimu dan cintai dia dengan sepenuh hati. Jangan pernah menyakiti hatinya jika tidak ingin Mommy-mu menangis. Bahagiakan dia dengan segala yang kamu miliki. Daddy pergi." Matheo menepuk pundak putranya sebelum dia pergi meninggalkan anak sulungnya itu.
Sedangkan Alta sendiri, dia masuk ke dalam kamarnya dan langsung menjamak rambutnya.
"Aahhhkkk... aku benar-benar tidak harus pikir dengan keluargaku. Bagaimana bisa mereka berkumpul di depan pintu kamar pengantin ku dengan Naura. Bagaimana jika mereka-aahkkk..." Alta terlihat sangat frustasi dengan keadaannya saat ini.
Bagaimana dia tidak frustasi jika keluarganya melakukan hal seperti itu terhadapnya. Dulu Aunty Rain, lalu Acher, Rigel dan kini dirinya.
Entahlah, entah bagaimana mereka melakukan hal itu. Apa mereka juga melakukan hal seperti itu pada Elle?
"Aku harap mereka tidak membahas tentang hal ini lagi di meja makan besok pagi. Jika mereka membahasnya maka habislah aku."