One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
S2. Sakit Hati



Sore harinya, saat Leo sudah keluar dari ruangan kerjanya, dia kembali melihat bahwa Jasmine masih berada di depan gedung perusahaan padahal jam sudah menunjukkan pukul 18.30 dan itu artinya sudah tidak ada lagi orang yang bekerja di sini tapi kenapa dia masih melihat Jasmine berada di perusahaan.


"Kau kembali melakukan lembur?" tanya Leo yang berdiri tepat di samping Jasmine.


"Tidak, aku sedang menunggu hujan." jawab Jasmine seadanya karena memang dia menunggu hujan reda baru dia bisa berjalan keluar untuk mencari bis. Sebenarnya bisa saja dia menaiki taksi tapi sayang uangnya karena dia harus menabung agar mereka bisa melunasi hutang-hutang yang ditinggal mendiang ayahnya.


"Hanya orang bodoh yang berdiam diri menunggu hujan. Hujan tidak akan berhenti jika kau menunggunya di sini. Apa kau ini sejenis pawang hujan seperti yang ada di Indonesia?" tanya Leo yang mulai cerewet dengan Jasmine dan itu membuat Jasmine kaget karena dia tidak menyangka jika dia bisa cerewet seperti ini.


"Apa ini pria sombong yang sering mengatakan hal tidak sedap padaku? kau kah itu tuan muda Leonard Casio yang terhormat?"


"Cih, kau bahkan sudah menghafal namaku dengan baik. Aku bertanya apa yang sedang kau lakukan disini? ini sudah hampir malam dan tidak ada orang lagi di sini selain satpam. Aku tidak bisa menjamin jika tidak ada yang berbuat nakal denganmu seperti yang sudah-sudah." ujar Leo karena dia masih mengingat dengan jelas beberapa kali dia menolong Jasmine karena ingin dilecehkan oleh seseorang.


"Aku sudah mengatakan bahwa aku menunggu hujan reda dan jika hujannya sudah rendah maka aku baru bisa pergi berjalan ke halte bis untuk menaiki bis dan pulang ke rumah."


"Kenapa tidak naik taksi?"


"Sekali aku pergi menaiki taksi untuk pulang ke rumah itu sama saja dengan biaya pulang pergi ku selama satu inggu bekerja. Lagi pula untuk apa membuang uang hanya untuk naik taksi jika naik bisa saja bisa. Tetap sama bukan? rumahku tidak akan berubah menjadi rumah mewah jika aku pulang dengan naik taksi." jawab Jasmine karena memang itu kenyataannya.


Leo sendiri benar-benar tidak percaya dengan apa yang dijawab Jasmine. Bagaimana bisa dia menghitung semua biaya pulang perginya bekerja selama seminggu dengan biaya sekali naik taksi itu sama. Sejauh itu kah pikiran wanita itu?


"Lalu, itu sebabnya kau selalu berada di halte bisa menjadi incaran para penjahat di luar sana hanya karena kau tidak ingin menaiki taksi dan takut kamu habis daripada keselamatanmu sendiri?"


"Dimana pun kita berada, ancaman marabahaya itu selalu ada jadi aku percaya bahwa Tuhan tidak akan tinggal di dan di tuhan juga selalu menolong hambanya yang benar-benar taat." jawab Jasmine lagi karena memang itu kenyatannya.


"Kau berkata seperti itu seolah kau ini wanita suci. Lalu apa yang kau lakukan di club' malam?" pertanyaan dari Leo membuat Jasmine kembali mengingat masa lalunya.


Tatapan tajam Jasmine menusuk Leo hingga ke jantungnya dan itu membuatnya seperti merasa bersalah saat ini.


"Apakah wanita yang bekerja di tempat seperti itu tidak boleh taat beribadah terhadap Tuhan? apa ada larangan tertentu untuk beribadah? jika wanita malam sekalipun apa dia tidak diperbolehkan untuk beribadah dan taat pada Tuhannya?"


Plak!


Jasmine menampar Leo dengan berani. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia menampar seseorang yang menurut dia sudah keterlaluan.


"Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku memukul seorang pria. Aku tidak pernah melakukan hal ini pada siapapun karena mereka tidak pernah merendahkan dulu lebih dari apa yang kamu lakukan saat ini. Kamu tidak pernah mengetahui apapun yang telah aku jalani selama ini jadi jangan pernah mengatakan hal yang tidak kau ketahui sama sekali. Kau hanya tau apa yang aku lakukan dan yang pernah kau lihat tanpa kau tau apa yang terjadi sebenarnya. Kita tidak sedekat itu hanya membuatmu bisa merendahkanku seperti itu. Jika pun memang benar aku ini seorang wanita malam itu bukan urusanmu sama sekali. Kau tidak berhak apapun dalam hidupku dan apalagi mencampuri urusanku. Cukup, cukup bersikap sebagai seorang bos dan membawakan saya dan jangan pernah berlaga baik padaku karena aku tidak membutuhkan itu. Permisi tuan!" ucapnya dengan penuh penekanan. Bahkan dia senagaja menekan kata-katanya.


Bahkan setelah ni menampar wajah Leo dan menuding pria itu dengan kata-kata kasar darinya Jasmine langsung pergi menerobos hujan begitu saja karena dia tidak ingin terlalu berlama-lama bersama dengan pria yang sama sekali tidak pernah menghargai wanita.


Leo hanya bisa diam memaku di tempatnya karena apa yang Jasmine lakukan padanya tadi benar-benar membuatnya tidak percaya dengan semua itu. Sungguh, Leo meras bersalah dengan apa yang telah dikatakannya pada Jasmine tentang dunia yang pernah di lewatinya.


Benar kata wanita itu, bahwa mereka tidak pernah sedekat itu hingga membuat Leo bisa menghinanya. Siapapun Jasmine di masa lalu, Leo tidak berhak melakukan hal itu padanya. Apalagi menyakiti hatinya seperti itu.


"Sudahlah, aku tidak peduli dengannya." ucap Leo yang langsung masuk ke dalam mobil merah miliknya karena dia juga segera pulang ke rumahnya. Rasanya lelah sekali menghadapi semua ini. Entah sampai kapan dia harus bekerja di perusahaan ini karena Daddy-nya uang tidak kunjung kembali.


Brak!


Leo bahkan sampai membanting pintu mobilnya karena dia merasa kesal pada dirimu sendiri tapi dia tidak mau meyakini bahwa hatinya ke sal karena ulahnya sendiri. Dia terus saja berpikir bahwa apa yang membuatnya kesal adalah Jasmine.


Sementara wanita itu, akhirnya dia pergi menaiki Tasik untuk kali ini sudah karena dia tidak ingin bertemu dengan Leo lagi. Terserahlah kali ini dia harus mengeluarkan banyak untuk menaiki taksi, karena setidaknya dia bisa pergi meninggalkan pria itu dengan cepat dan tidak diketahui olehnya lagi. Jika saja dia ini kan menunggu bus malah dia akan basah dan belum tentu juga akan mendapatkan bus.


Di dalam taksi, Jasmine menghapus air matanya yang jatuh begitu saja ketika mengigat apa yang Leo katakan tentangnya tadi.


Sungguh, ini sangat sakit sekali dan Jasmine merasa bahwa dirinya menjadi wanita yang paling hina di muka bumi ini. Apalagi ketika dia mengatakan pada Leo tentang keyakinannya terhadap Tuhan.


"Tissue," supir taksinya memberikan kotak tissue padanya dan Jasmine langsung mengambilnya dan berterima kasih untuk itu.