One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
S2. Sarapan Bersama



Melihat sudah berkumpul di meja makan membuat Alta merasa ciut. Entah mengapa rasanya dia merasa ketakutan. aku takut jika keluarganya membahas apa yang terjadi tadi malam dan itu bisa membuat Naura malu.


Bukan hanya Naura saja yang malu, Alta sendiri pun merasa malu jika keluarga membahas tentang hal itu.


Sebelum bergabung bersama keluarganya Alta menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Melihat suaminya yang seperti itu membuat Naura merasa aneh.


"Apa Gege merasa gugup?" tanya Naura ketika melihat raut wajah suaminya tidak selepas biasanya.


"Aku baik-baik saja sayang. Hanya saja aku takut keluargaku membully kita. Apalagi melihat kamu yang keramas pagi seperti ini." ujar Alta. Di lihat yang sang istri yang terlihat sangat berbeda sekali pagi ini. Wajahnya cantik tanpa menggunakan make up sama sekali.



"Tidak masalah, setidaknya ini tidak terlalu buruk karena sudah mulai kering. Hanya saja memang jika dibawa jalan masih sedikit perih. Aku apa yang Gege miliki bisa sebesar itu."


"What?" tanya Alta dengan ekspresi wajah yang terkejut. Dia tidak menyangka jika istri bisa mengadakan hal seperti ini.


Entah ada yang polos atau Naura yang polos dan dia tidak mengerti apa yang dikatakannya tadi.


"Tidak, jika ini dibahas terus maka tidak akan selesai. Ayo Gege, mereka pasti sudah menunggu kita." akhirnya Naura membawa suaminya untuk datang ke meja makan bersama keluarganya.


Pagi ini, seluruh keluarga besar mereka berkumpul di satu meja makan yang sama. Naura terlihat biasa saja namun suaminya yang tidak biasa.


Alta mendapatkan tatapan aneh dari keluarganya. Terutama para pria klan Alexander yang datang menghampiri kamar tidurnya tadi malam bersama Naura.


Melihat menantunya yang merasa malu seperti itu membuat Leon mengusap punggungnya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Terima kasih Dad." ucap Alta pada ayah mertuanya.


Melihat interaksi antara suami dan ayahnya membuat Naura sedikit merasa aneh. Memangnya ada apa hingga membuat Daddy-nya mengatakan semua akan baik-baik saja.


"Memangnya apa yang terjadi Dad? kenapa Daddy mengatakan pada Gege bahwa semuanya akan baik-baik saja?" tanya Naura karena dia benar-benar penasaran.


"Tidak ada sayang, sekarang ayo makan." Naura malam menyiapkan sarapan untuk suaminya dan itu semua dilihat oleh keluarga besar mereka.


Diandra merasa bahagia karena putranya begitu sangat dilayani dan dimengerti oleh istrinya. Setidaknya dia merasa benar-benar lega saat ini karena putranya telah mendapatkan pendamping dan mendapatkan istri seperti Naura.


Entah apa jadinya ada jika di usianya yang sudah memasuki 40 tahun dan juga menikah.


"Aku baik-baik saja sayang." ucap Diandra pada suaminya karena pria itu menggenggam tangannya saat ini.


Matheo tau, bahwa istrinya saat ini telah memikirkan putranya yang baru saja memulai kehidupan barunya bersama menantu mereka.


Bukan hanya Diandra saja, tapi Matheo pun ikut merasakan kebahagiaan ini karena aku telah mereka benar-benar sudah menemukan kebahagiaannya.


"Terlalu banyak pekerjaan yang sudah menumpuk dan aku harus membawa Naura ke Moskow. Kami sudah sudah sepakat setiap akhir pekan kami akan datang ke Berlin. Alta sudah mengurus segala keperluan yang berwarna Naura siap pindah sore ini juga." ujar Alta seraya menggenggam tangan sang istri.


Melihat dari gesturnya, mereka semua bisa melihat bahwa Alta benar-benar mencintai wanita bernama Naura itu. Apa yang menjadi kebahagiaan atau menjadi kebahagiaan mereka juga.


Serrt..


"Aku sudah selesai." ucap Leo yang pamit pada semua orang di sana.


Entah mengapa semakin lama jadi semakin sesak di dadanya karena sebentar lagi dia akan ditinggal pergi oleh kakaknya.


"Leo..." Alicia merasa malu dengan perbuatan putranya saat ini. Dia tahu bahwa dia kecewa dengan kakaknya lebih tepatnya kecewa dengan situasi ini. Tapi dia juga tidak boleh bersikap seperti itu karena menghalangi kebahagiaan kakaknya.


"Biar Naura yang bicara dengan Leo ma. Mama lanjutkan saja makan di sini dan tolong temani ibu mertua Naura lebih dulu." Alicia dan Diandra tersenyum ketika mendengar apa yang kau rasakan.


Terlebih lagi Diandra, dia merasa sangat bahagia karena menantu dan benar-benar sangat sopan.


Naura benar-benar munyusul adiknya dan ternyata Leo ada di dekat kolam renang.


"Leo..." panggil Naura pada adiknya dan Leo langsung melihat ke arah kakaknya yang baru saja datang.



"Apa?" tanyanya dengan wajah sombong. Dia memperlihatkan pada kakaknya bahwa saat ini dia tengah marah.


"Aku duduk di sini ya. Besok, jika aku sudah pergi jangan nakal. Jangan membuat Mama terus memarahimu. Jika jika Mama marah pada siapa lagi kamu akan mengadu." terdengar hal nafas berat dari adiknya membuat Naura ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Leo saat ini.


"Kenapa aku harus memiliki perasaan seperti ini? aku rasa adik di luar sana akan senang jika kakaknya pergi karena dia bisa mendapatkan seluruh perhatian orang tuanya. Seharusnya aku memang harus senang karena kakak pergi itu artinya mama dan Daddy hanya akan fokus untuk menyayangiku saja. Tapi kenapa aku harus merasa sedih saat ini?" ujar Leo dengan helaan nafasnya yang berat.


Rasanya sulit sekali untuk menceritakan apa yang dirasakannya. Dia ingin mengatakan dan meminta pada kakaknya untuk tidak pergi tapi tidak mungkin.


"Awas saya jika akhir pekan tidak pulang. Jika sampai kakak tidak pulang maka aku akan menyusul ke Moskow." ucap Leo jangan pernah ancaman.


Dia sengaja mengancam kakaknya seperti itu agar wanita itu tahu bahwa dia bisa mengancamnya.


"Tapi jika kamu yang datang ke Moskow itu juga bagus. Kita bisa berjalan-jalan di sana dan menghabiskan uang kakak iparmu. Katanya dia kayak jadi ayo kita lihat seberapa kaya dia."


"Wah, ide yang bagus. Ayo kita habiskan uang suamimu itu. Akan ku kuras isi dompetnya sampai kandas. Dia telah berani menikahi kakakku itu artinya dia siap miskin untuk diriku juga." Naura memeluk Leo karena dia tau bahwa adiknya ini ingin di sayang tapi gengsi dengan tinggi badannya.


"Ah, sudahlah. Jika dapat kekasih nanti, pastikan tinggi badannya. Jangan sampai dia lelah bicara dengan mu karena tubuh tinggi mu yang luar biasa ini."


"Ahhh...kakak menyebalkan. Sudah sana pergi. Aku tidak ingin suami mu menangkap basah kita dan cemburu pada ku nanti. Awas sana kamu." usirnya pada sang kakak karena dia merasa sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.