
Mendapatkan kabar dari Naura bahwa mereka mengalami kecelakaan membuat Leon langsung pergi begitu saja meninggalkan ruang rapat.
Pikirannya sudah ke mana-mana saat ini, ya terus aja berpikir tentang keadaan Alicia dan Naura yang berada di dalam mobil.
Naura bisa menghubunginya itu artinya putri kecilnya itu baik-baik saja, tapi menjadi masalah besar baginya saat ini adalah keadaan Alicia.
Bagaimana keadaan istrinya itu? lalu calon anak yang berada di kandungannya?
" Ya Tuhan, tolong selamatkan anak dan istriku. Aku tidak ingin mereka terluka. Ku mohon selamatkan mereka semua." Ucap Leon di dalam mobilnya.
Dia benar-benar merasa ketakutan saat ini. Tujuannya saat ini adalah rumah sakit tempat di mana Alicia dan Naura di bawah oleh kepolisian.
Saat sampai di rumah sakit pun Leon langsung berlari begitu saja untuk mencari di mana keberadaan kedua wanita yang paling dicintainya itu. Alicia dan Naura adalah semangat hidupnya.
" Di mana kamu Naura? di mana kamu sayang?" Tanya Leon.
Dia menghubungi ponsel Alicia dan ternyata yang mengangkatnya memang Naura, putrinya.
" Halo sayang, kamu di mana Naura? bagaimana dengan keadaan Mama Al?" Tanya Leon lagi.
Pikiran baru sudah menghantuinya saat ini. Entah mengapa tiba-tiba saja ketakutan merasuki jiwanya.
" Mama Al, Mama sedang berada di ruang operasi. Naura takut jika mama Al kenapa-kenapa." Suara tangisan Putri kecil yang membuat tubuh Leon menegang kaku.
Apalagi saat mendengar Putri kecilnya itu mengatakan bahwa Alicia berada di ruang operasi.
" Oke, Daddy akan datang." Kata-kata operasi itu kembali terngiang-ngiang di telinganya.
Telinganya berdengung hingga membuat kepalanya pusing seketika. Dia berusaha untuk tetap kuat menghadapi semua ini.
Sampai saat dia bisa melihat bahwa Putri kecilnya duduk di kursi roda.
" Daddy hiks..." Naura merentangkan kedua tangannya saat melihat Daddy-nya datang.
" Sayang..."
" Hiks...hiks...Mama Al Dad, Mama Al. Maa Al tertidur dan tidak mau membuka matanya. Mama Al berdarah dan kakinya juga. Kepala Mama Al berdarah, gaun Mama Al....hiks..." Leon kembali memeluk tubuh putrinya.
Dia tau bahwa putrinya saat ini benar-benar ketakutan atas apa yang mereka alami tadi.
Tubuh gadis kecilnya bergetar hebat hingga membuat Leon ikut merasakan apa yang dirasakannya.
" Keluarga pasien?" Leon langsung melepaskan pelukannya saat melihat dokter sudah keluar dari ruangan operasi.
" Ya, saya suaminya." Dokter tersebut menganggukkan kepalanya lalu meminta Leon untuk ikut bersamanya.
" Bisa ikut dengan saya? Ada yang harus kita bicarakan." Leon pun langsung ikut pergi bersama dokter yang sudah menangani istrinya tadi.
" Begini Tuan, kami terpaksa melakukan operasi curet untuk mengangkat janin yang ada di dalam kandungannya karena memang sudah tidak bisa di selamatkan. Saat ini istri anda tengah dalam pengaruh obat bius karena memang tadinya juga dalam keadaan pingsan. Setelah ini, tolong perhatikan kesehatannya. Untuk sementara tidak bisa di lakukan pembuahan sampai keadaannya benar-benar membaik." Tangan Leon bergetar hebat.
Ketakutannya tadi terjadi, apa yang ditakutkannya menjadi kenyataan. Anak yang dinantikannya bersama Alicia kini sudah pergi dan kembali pada Tuhan.
" Saya tau ini berat, tapi kita harus kembali bersemangat. Tuhan memiliki rencana indah lainnya untuk anda sekeluarga." Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Leon langsung pergi begitu saja meninggalkan ruangan dokter tersebut.
Hatinya hancur sekali saat ini. Calon anaknya, lalu Alicia sendiri.
" Maafkan aku Alicia, maafkan aku." Ucap Leon yang menangis dalam diamnya.
Dia tidak tau harus melakukan apa lagi saat ini. Sekarang, dia hanya fokus pada kesehatan Alicia saat ini.
...****************...