One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
Mual



Hueekkk....


Alicia terus saja memuntahkan isi perutnya ketika dia merasakan ada sesuatu yang berada di dalam perutnya mendesak untuk segera keluar.


Entah apa yang terjadi hingga membuatnya bisa muntah seperti ini. Biasanya dia tidak pernah salah makan atau bahkan terlambat makan hingga seperti ini.


Leon yang mendengar suara muntahan dari dalam kamar mandi langsung terbangun dari tidurnya dan menyusul Alicia yang berada di sana.


" Ada apa Alicia? kenapa berisik sekali sepagi ini?" tanya Leon yang melihat wanita itu terduduk lemas di atas kloset.


" Jangan banyak bicara jika tidak ingin tahu apa yang kurasakan. Pergi saja dari sini." Ucap Alicia lagi.


Dia tidak ingin diganggu oleh suaminya itu. Biarkan saja dia ingin mengatakan apa yang penting Alicia tidak melihat wajahnya karena menurutnya wajah pria itu sangat menyebalkan sekali.


" Alicia, aku bertanya ada apa denganmu?"


" Tidak kah melihat apa yang terjadi? aku muntah. Perut ku terasa sangat mual dan bahkan lebih parah lagi saat melihat wajahmu." Jawab Alicia.


Dia benar-benar tidak menyukai wajah pria itu. Entah mengapa apa yang dikatakan dengan apa yang diinginkannya itu sangat berbeda.


Bibirnya berkata tidak, tapi hatinya menginginkan belaian kasih sayang dari pria itu.


Alicia ingin Leon memperhatikannya dan menanyakan apa yang terjadi padanya lalu menyayanginya.


Tapi dia tidak mungkin mengatakan dan minta hal itu secara langsung pada pria yang tidak memiliki perasaan itu. Pria yang sangat tidak peka dengan perasaan wanitanya.


" Kenapa? apa kau salah makan?"


" Sudah aku katakan jangan bertanya jika hanya membuat kesal. Jika aku tahu aku kenapa sampai muntah seperti ini maka aku langsung pergi dan mencari obatnya." Leon datang menghampiri Alicia dan membersihkan sekitar bibir wanita itu yang bekas muntahannya tadi.


" Jangan terlalu sering marah padaku Alicia. Itu tidak baik untuk kesehatan mentalmu. Jika menginginkan perhatian dariku katakan saja secara langsung, tidak perlu berbasa-basi dan jual mahal seperti ini." Leon langsung membawa wanita itu ke dalam gendongannya dan kembali ke tempat tidur.


Leon meletakkan tubuh istrinya itu dengan sangat lembut di atas tempat tidur seolah dia adalah barang yang sangat rapuh dan mudah pecah.


" Tunggu di sini, aku akan segera kembali." Ucap Leon.


Dia menyampaikan diri untuk memulai wajah wanita itu sebelum pergi meninggalkannya.


Di dapur, Leon tengah berusaha untuk membuatkan secangkir teh hangat untuk istrinya. Tidak lupa juga dia menghubungi asisten pribadinya untuk membawa dokter ke apartemennya.


Dia memperdulikan lagi apa yang dipikirkan asistennya itu, karena yang ada di pikirannya saat ini adalah Alicia.


Pikirannya terus saja tertuju pada Alicia, dia takut sesuatu terjadi pada istrinya. Apalagi Leon tau bahwa tadi malam Alicia tidak makan dengan baik karena dia merasa tidak nyaman dengan sekitarnya.


" Wait..." Leon berpikir sejenak.


Pikirannya tertuju pada vitamin yang di minum istrinya selama ini.


" Apa Alicia sedang mengandung anak ku? ya, Alicia pasti tengah mengandung anak ku " Leon langsung berlari ke dalam kamar tempat di mana Alicia berada saat ini.


Brak...


Dia membuka pintu kamarnya secara paksa hingga menimbulkan suara yang dentuman yang sangat keras hingga membuat Alicia yang baru saja merasa tenang langsung marah.


" Tidak bisakah untuk tidak mengagetkan aku? Aku baru saja ingin tertidur tapi kenapa sudah berulah lagi?" Alicia sudah ingin menangis rasanya saat ini.


Dia ingin di perhatikan dan di sayang oleh Leon tapi pria ini sama sekali tidak peka terhadap perasaannya saat ini.


" Maaf Alicia, aku terlalu bersemangat hingga tanpa sadar aku mengagetkan mu seperti ini. Maafkan aku Alicia." Ucap Leon dengan penuh penyesalan.


Dia sangat menyesal karena telah melakukan hal itu pada Alicia, apalagi melihat wajah istrinya yang ingin menangis dengan mata yang berkaca-kaca seperti itu.


" Maafkan aku Alicia." Ucapnya lagi sambil memeluk tubuh wanita itu.


Alicia menangis dalam dekapan suaminya bahkan dia juga memukuli dada bidang pria itu.


" Kau jahat. Kenapa membuat ku menangis seperti ini? Kenapa terus saja membuat ku kesal? Aku baru saja ingin memejamkan mata ku tapi kau malah menganggu ku hingga membuat ku menangis seperti ini. Kenapa Leon? Kenapa?" Leon hanya membiarkan saja wanita itu yang terus memukuli dada bidangnya.


" Maaf Alicia, aku bersalah atas semua ini. Tolong maafkan aku." Pria itu hanya bisa mengatakan maaf saja.


Dia tidak tau apa yang harus dilakukannya lagi selain meminta maaf atas perbuatannya.


Entah berapa lama Alicia menangis dalam dekapannya, hingga Leon merasakan nafas teratur dari wanita itu barulah dia kembali meletakkannya di atas tempat tidur mereka.


" Maaf Alicia, aku tidak bermaksud membuat mu menangis." Ucap Leon dengan sangat lembut.


...****************...