One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
S2. Pertarungan



Hari-hari Sean semakin berkembang karena dia berlatih bersama dengan Daddy-nya di rumah. Seperti saat ini, dia dan daddy-nya sedang berlatih bola basket. Leo biar menjadi pelatih khusus putranya, karena dia tau jika Sean berusaha keras untuk belajar bermain bola basket.


"Ayo Son, kamu harus fokus dan semangat. Ingat Sean, percayalah jika kamu bisa menguasai bolanya!" ucap Leo yang menentukan bagaimana cara Sean bermain dan menguasai bolanya nanti.


"Ayo Sean, rebut bolanya dari Daddy!" titahnya lagi. Sean sendiri berusaha sangat keras untuk bisa merebut bola dari tangan daddy-nya agar dia tidak di permalukan lagi oleh Jason saat ada latihan bola basket nantinya.


Sean sendiri benar-benar berusaha keras untuk bisa merebut bola dari tangan daddy-nya karena dia tidak ingin di rendahkan lagi oleh Jason. Usahanya beberapa waktu ini sampai saat dia sekolah dan ada permainan bola basket dia mulai bisa dan berani bermain.


Melihat Sean yang sudah siap dengan latihan hari ini membuat Jason tersenyum licik. Dia seperti telah merencanakan sesuatu dan dia juga akan membuat Sean kembali merasakan kekalahan.


Begitu juga dengan Sean, dia mulai paham dan tahu apa yang direncanakan oleh Jason saat ini. Bukan hanya dengan Sean saja yang sudah mengetahui rencana jahat Jason, tapi kedua temannya juga sudah mengetahui rencana jahat anak laki-laki tersebut.


"Kita harus bisa mengalahkannya agar dia tahu bahwa tidak semua orang bisa dikalahkan olehnya. Bagaimana pun caranya kita harus menang darinya," ucap Jackson yang yakin bahwa mereka bisa menang dari Jason dan juga teman-temannya. Tapi tidak dengan Damian yang merasa pesimis dengan tim mereka. Apalagi Sean yang belum bisa menguasai bola dengan baik.


"Bagaimana jika kita kalah?" tanya Damian karena dia benar-benar tidak yakin dengan kelompoknya sendiri.


"Pilihannya hanya ada dua, jika kita menang, itu artinya kita bisa mengalahkan dan membuatnya tidak lagi mengganggu kita. Tapi jika kita kalah itu artinya kita mempermalukan diri kita sendiri dan menyerahkan diri kita pada mereka. Ayolah guys, yakin dong. Kita harus mencobanya lebih dulu!" Jackson menjadi tim penyemangat bagi tim mereka. Sungguh, mereka harus berusaha sebisa mungkin untuk mengalahkan timnya Jason.


Jason menghampiri timnya Sean dan dia ingin mengajak mereka bertaruh di sini dengan pertaruhan yang tidak main-main.


"three on three! siapa yang kalah, dia yang akan membayar biaya makanan satu kelas selama sebulan di kantin sekolah. Kita bermain selama kurang dari waktu 30 menit. Jika kalian semua kalah, maka habislah kalian," ucap Jason dengan sengaja meremehkan mental timnya Sean.


"Jika kamu memang, apa kalian bisa untuk tidak menganggu kami?" tanya Sean yang berusaha untuk tetap bisa belajar dengan baik di sekolah ini tanpa harus berurusan lagi dengan mereka semua.


"Kau bisa melakukannya jika menang. Tapi aku rasa kalian tidak mungkin menang!" Jason sengaja meremehkan Sean agar mereka tau bahwa mereka tidak akan pernah bisa menang melawan timnya.


"Oke, deal! Jangan pernah mengingkari janji kamu." Sean setuju dengan apa yang Jason katakan dan mereka mulai bermain.


Banyak siswa dan siswi yang melihat permainan mereka dan di sini Sean harus bisa bermain dengan baik agar dia tidak terus-terusan di remehkan oleh Jason dan teman-temannya.


Jason terus saja memberikan tatapan mengejek pada tim Sean karena dia ingin membuat mereka itu kalah.


Begitu juga dengan Jackson, dia bukan takut untuk membayar makanan mereka semua selama seminggu di kantil, tapi mengkhawatirkan ketenangan Sean untuk belajar di sekolah ini. Jackson dan Damian susah sangat cocok sekali berteman dengan Sean, jadi mereka tidak ingin Sean pindah sekolah karena tidak nyaman berada di sekolah ini karena ulah Jason dan teman-temannya.


"Tapi bagaimana jika kalah?" tanya Sean yang mulai pesimis dengan dirinya yang belum terlalu mahir menguasai bola.


"Yakin saja. Semoga saja Tuhan memberkati kita bertiga. Ayo semangat!" Jackson berusaha keras untuk membuat kedua teman-temannya percaya diri dengan kemampuan mereka. Sungguh, ini sangat berpengaruh sekali bagi mereka.


Permainan di mulai dan Sean juga mulai bermain dengan baik bersama kedua temannya. Mereka berusaha keras untuk mendapatkan point dan ternyata tim jason yang lebih dulu mendapatkan point'. Tim mereka ditertawakan oleh Jason hingga membuat Damian merasa kesal.


"Ayo guys, kita harus lebih semangat lagi!" seru Damian yang berusaha membuat kedua temannya bersemangat.


Melihat bagaimana semangatnya Damian dan juga Jackson membuat Sean juga bersemangat untuk bermain lebih baik lagi. Mereka terus saja bermain walau dengan angka tim Jason lebih unggul dari mereka.


Di detik-detik terakhir, Sean bingung apa yang harus di lakukannya. Tapi dia mendengar bahwa Damian dan Jackson menyuruhnya untuk membagi bolanya hingga, tapi dia melihat Jason yang menghampirinya dan berusaha untuk merebut bola dari tangannya.


Sean mengingat dengan jelas apa yang di katakan daddy-nya saat mereka berlatih waktu itu.


"Fokus dan tetap tenang. Kamu harus percaya dengan diri kamu sendiri dan percaya pada tim itu penting. Jangan pernah egois saat bermain dan usahakan yang terbaik di saat terdesak. Cetak 3 point jika bisa!" perkataan itu terus saja berputar di kepalanya sampai Sean mengambil langkah terakhir dan melakukan lemparan jarak jauh untuk langsung masuk ke ring.


Semua orang terlihat kaget dengan apa yang Sean lakukan. Terutama timnya sendiri karena mereka tidak percaya jika Sean melakukan hal itu. Dia mengambil resiko yang mana membuat Damian dan juga Jackson pasrah saja karena mereka tidak yakin jika mereka bisa menang karena lemparan Sean sampai di mana bola itu terus berputar-putar di atas ring dan ternyata masuk.


"Yes ...!" teriak Damian heboh saat Sean bisa mencetak angka terakhir hingga membuat mereka bisa menang melawan timnya Jason.


"you lost, guys!" Jackson mengacungkan ibu jarinya lalu membaliknya ke bawah hingga membuat Jason dan kedua teman setimnya merasa kesal karena kekalahan ini.


sedangkan Sean sendiri masih tidak percaya bahwa dia bisa mencetak 3 angka sekaligus untuk kemenangan tim mereka.


"Pegang janji mu bung! Kantin free untuk teman satu kelas kami plus tidak menganggu Sean! Bukan hanya Sean saja, tapi anak-anak lainnya yang sering kalian bully!"


***