
Setelah di bawah Jasmine sedang hamil Leo langsung bersikap berbeda. Mereka tidak lagi terlihat seperti biasanya. Dia sangat berbeda sekali dan jauh lebih posesif dari biasanya. Sungguh, Jasmine sampai merasa kesal karena suaminya itu bersikap terlalu berlebihan padanya.
"Apa aku terlihat seperti orang penyakitan?" tanya Jasmine yang mulai merasa kesal dengan suaminya.
"Hah, kenapa bertanya seperti itu sayang?" tanya Leo karena dia tidak tahu jika saat ini istrinya Tengah merasa kesal dengan apa yang telah dia lakukannya.
Ya, Leo mudah-mudahan memperlakukan Jasmine dengan begitu baik dan sangking baiknya dia sampai tidak membiarkan istrinya turun dari tempat tidur dan apapun keinginan yang bisa dilayani oleh para pelayan. Menggelikan memang, tapi tidak baginya karena menurutnya itu biasa saja. Dia melakukan semua itu hanya tidak ingin istrinya merasa kelelahan saja.
"Iya, kamu memperlakukanku yang sedang hamil seperti ini seolah-olah aku orang yang penyakitan. Aku tidak boleh turun dari tempat tidur, tidak boleh turun dari tanggal sebelum lift yang dibangun selesai. Bahkan hanya ingin pergi ke kamar mandi dan buang air kecil saja pun kamu terus mengikutiku. Apa itu tidak terlihat seperti orang yang sakit? Dan itu, lihat itu Leo. Untuk apa kursi rodanya? Kenapa ada di sini?" tanya Jasmine yang merasa frustrasi dengan sikap dan perbuatan suaminya. Entahlah, Jasmine benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Leo lakukan saat ini.
"Oh itu. Aku hanya hanya ingin terus menjaga kamu dan memastikan bahwa kamu dan calon anak kita baik-baik saja. Apa aku salah?"
"Jelas salah!" jawab Jasmine dengan kesal. Bahkan saking kesalnya dia pada Leo, suaranya bahkan sampai meninggi dan terdengar seperti marah. Benar-benar sangat kesal dia saat ini.
"Apanya yang salah?" Leo masih bertanya pada istrinya apa yang salah karena dia merasa bahwa ini tidak salah sama sekali.
"Kamu! Hah, sudahlah. Lebih baik kamu pergi bekerja saja di ruangan kerja kamu daripada harus terus menjagaku seperti ini. Kamu ingin aku dan calon anak kita baik-baik saja bukan?" Leo langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias karena memang hanya itu yang diinginkannya. Dia benar-benar ingin memastikan bahwa kedua orang yang paling dicintainya saat ini adalah prioritas utama baginya.
"Maka pergilah! jangan kembali sebelum aku tidur. Dari pada kamu terus membuatku kesal lebih baik kamu pergi saja dan selesaikan semua pekerjaan kamu."
"Tapi sayang-"
"Aku mohon Leo ...!" ucapnya lagi sampai memohon pada suaminya agar membiarkannya sendirian di kamar ini. Terserah apa yang ingin lo lakukan di luar sana tapi yang pasti jangan pernah mengganggunya karena itu bisa membuat Jasmine merasa kesal.
Drama kehamilannya saat ini benar-benar membuatnya kesal dan itu semua terjadi karena Leo.
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan," akhirnya Leo mengalah dan dia pergi meninggalkan istrinya di dalam kamar.
Saat dia turun ke bawah, Leon dan Alicia merasa heran ketika melihat putranya yang turun dengan raut wajahku seperti itu. Mereka berdua sebagai orang tua pasti bertanya-tanya ada apa yang terjadi pada putra mereka hingga terlihat sangat berbeda seperti itu.
"Kenapa?" tanya Leon ketika melihat Leo yang datang dan bergabung dengan mereka.
"Pasti bertengkar lagi dengan istrinya. Lagi pula itu kesalahannya sendiri. Istrinya sedang hamil tapi dia terus saja mencari masalah dengannya. Kalian berdua itu terlalu sama dan juga berlebihan!"
"Memang! Kamu dan Leo itu sama! kalian sama-sama menyebalkan dan membuat mood kami berantakan. Kamu tau seperti apa saat aku mengandung Leo dulu?" dengan polos Leon menggelengkan kepala negara dia tidak tahu seperti apa mood istrinya saat mengandung Leo dulu.
"Memangnya kenapa?" tanya Leo yang merasa penasaran dengan apa yang namanya rasakan dulu saat mengandungnya.
"Tanyakan saja ada Jasmine apa yang dirasakannya saat ini karena mama yakin jika dia merasakan hal yang sama dengan apa yang Mama rasakan dulu. Apa kalian berdua tidak sadar jika kalian itu menyebalkan?"
"Tidak!" jawab keduanya dengan kompak. Mereka merasa bahwa mereka tidak menyebalkan seperti apa yang Alicia katakan.
"Nah, seperti yang kalian lakukan saat ini saja itu sudah sangat menyebalkan. Kalian tidak sadar jika kalian itu menyebalkan maka kalian pura-pura tidak tahu bahwa kalian merasa jika kalian itu biasa saja. Hah, sudahlah, bicara dengan kalian sama saja. Sama-sama menyebalkan!" Alicia memilih untuk pergi meninggalkan anak dan suaminya itu daripada dia harus di sana dan mendengarkan omong kosong mereka berdua. Lebih baiknya merawat dirinya dan memakai masker sebelum tidur daripada harus berhadapan langsung dengan ayah dan anak itu.
Setelah kepergian Alicia, Leon dan Leo saling menatap satu sama lain. Mereka masih bertatapan dan berpikir apakah mereka itu memang menyebalkan atau tidak.
"Apa aku terlihat menyebalkan dad?" tanya Leo pada daddy-nya. Dia takut jika apa yang mamanya katakan itu memang benar dan karena hal itu pula Jasmine mengusirnya.
"Entahlah, Daddy juga tidak tau apakah kamu itu menyebalkan atau tidak. Tapi saat kamu kecil dulu, kamu sering mengejek mama dan Daddy seperti film India. Entah apa maksudnya tapi yang jelas itu membuat mama kamu merasa kesal." Leo mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mendengar apa yang daddy-nya jelaskan jika dia memang menyebalkan saat kecil dulu.
"Lalu apakah Daddy juga menyebalkan?" tanya Leo lagi karena dia juga penasaran dengan daddy-nya.
"Daddy tidak tahu. Tapi mama kamu juga sering mengatakan Daddy menyebalkan, walau Daddy tidak tau apakah Daddy ini menyebalkan atau tidak. Terkadang wanita itu memang sulit untuk di mengerti. Jadi biarkan saja!" jawab Leon.
Di sofa saay ini hanya tinggal mereka berdua saja, karena Alicia memang sudah pergi meninggalkan mereka sejak tadi.
"Dad," panggil Leo setelah beberapa saat mereka berdua sama-sama terdiam.
"Ya?" jawab Leon ketika Leo memanggilnya.
"Apakah melahirkan itu mengerikan? Maksud ku, apa Daddy menemani Mama saat melahirkan aku dulu?"
"Melahirkan itu memang mengerikan, tapi bagaimana caranya kita menanggapinya. Jika kita panik, maka istri kita juga akan lebih panik dan itu bisa berakibat buruk. Jadi sebisa mungkin untuk tetap tenang ketika menemani istri kita melahirkan. Buat mereka melupakan rasa takut dan merasa nyaman karena memang seperti itu yang dokter anjurkan ketika seorang suami menemani istrinya untuk melahirkan. Dukungan dari suami adalah support sistem terbesar bagi mereka."
...----------------...